Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Kenapa Harus Berhenti Menjadi Judgmental Person?

Kenapa Harus Berhenti Menjadi Judgmental Person?

“Si A hidupnya enak banget, sering pergi jalan-jalan, makan makanan enak, foto keluarga yang seru-seru, bajunya bagus-bagus, hidupnya sempurna banget. Tapi sayang sombong. Hobinya pamer.”

“Si B tuh jadi orang males banget. Kena PHK ya harus rajin cari kerja lagi, dong. Jangan update status di medsos doang. Emang keluarganya mau dikasih makan apa?”

“Si C tuh ya, orangnya pelit banget. Nggak pernah bagi-bagi makanan sama tetangga. Padahal dia sering dikirimin makanan sama tetangga sebelah rumahnya, loh.”

Sembarangan Menghakimi Orang Lain, Padahal ...

Daaan masih banyak lagi tingkah laku orang lain yang terasa salah di mata kita.

Ketemu orang yang berseberangan sama kita lantas memberikan klaim bahwa orang tersebut salah. Padahal ya, kita juga nggak tahu kehidupan orang itu sebenarnya. 

Kasus A, bisa jadi loh sehari-hari malah dia jarang banget punya waktu bareng keluarga. Mungkin karena harus bekerja di luar kota atau bahkan luar negeri? Jadi begitu ketemu keluarga ya dinikmati secara berkualitas. Makan bareng, jalan bareng, foto bareng. Kebersamaan di dunia kan cuma sementara.

Kasus B, tahu dari mana kita bahwa dia malas mencari pekerjaan baru? Memangnya kita tahu kalau sepanjang harinya dia manfaatkan berselancar di situs pencarian kerja dan berusaha menemukan jodoh tempat kerja baru di sana? Berkali-kali juga mengirimkan pesan pada kawan-kawan lama kalau-kalau ada lowongan pekerjaan di tempat mereka?

Kalau kita nggak tahu, buat apa sih sok menilai bahwa B tuh males hanya karena dia suka berkeluh kesah di media sosial? 

Kasus C, siapa yang tahu bahwa diam-diam keluarga tersebut memang tengah dilanda kesulitan ekonomi, makanya tetangga sebelah suka membantu dengan mengirimkan makanan. Meski kelihatannya nggak pernah memberikan balik, kan kita nggak tahu juga doa seperti apa yang dipanjatkan kepada Allah terhadap kebaikan tetangga sebelahnya itu.

Semudah itu sih mengendalikan diri untuk berpikir positif aja.

 

Menjadi Judgmental Person

Sejak dulu, saya seringkali merasa nggak nyaman dengan kesimpulan sepihak orang-orang terhadap sikap atau keputusan saya. Kesal gitu, nggak tahu ceritanya tapi main menyimpulkan dan menuduh sepihak. Dituduh melakukan sesuatu yang nggak kita lakukan itu menyakitkan, loh.

Satu lagi, suka nggak ngerti. Untungnya apa sih buat mereka dengan menarik kesimpulan sendiri atas sikap dan tingkah laku orang lain? Paling-paling sekadar memuaskan the sense of judgmental dalam diri mereka, sih. 

 

Source: Pixabay

Perilaku suka menduga-duga, menarik kesimpulan sendiri, dan menuduh tanpa tahu pasti kebenarannya, menjadikan seseorang yang menyebalkan ini menjadi judgmental person

Buat saya, siapapun itu, berhenti deh menjadi judgmental person. Kenapa, coba?

Menyadari Bahwa Setiap Orang Berbeda

Tuhan tuh menciptakan milyaran manusia di muka bumi ini. Penduduk bumi tuh ada berapa banyak, sih? Kira-kira enam atau tujuh milyar lah, ya. Nah, dari enam atau tujuh milyar itu mungkin nggak sih semuanya harus sama? Ya nggak mungkin lah. 

Para kembar identik yang saya kenal pun begitu. Meski dari sisi wajah mereka mirip banget, kenyataannya mereka tetap punya perbedaan, kok.

Setiap orang memang pasti berbeda. Latar belakang keluarga, kehidupan di masa lalu, apa yang terjadi saat ini, sangat bisa mempengaruhi seseorang dalam berperilaku atau mengambil keputusan dalam hidupnya. Kalau kemudian perilaku atau keputusan itu tampak berseberangan sama kita, belum tentu salah. Lah perilaku atau keputusan dalam hidup kita juga belum tentu benar, kok.

Buat saya sih, selama nggak melanggar hukum dan nggak mengganggu kepentingan orang banyak, ya nggak apa-apa. Saat perilaku atau keputusan hidup orang lain menurut kita nggak sesuai dengan norma agama pun, secara etika, itu bukan tugas kita untuk memberikan penghakiman. Itu hanya antara seorang makhluk dengan Tuhannya. Menasehati boleh aja. Itu pun kalau kita betul-betul punya hubungan dekat dengan orang tersebut. Kalau nggak, duh jangan deh. 

Source: Pexels

Menjadikan Kita Suka Berprasangka Buruk Pada Orang Lain

Mau tengah sendiri atau bersama-sama orang lain, kalau melihat apapun yang dirasa nggak sreg sama diri sendiri, bawaannya tuh jeleeek terus sama orang. Rasanya kehidupan orang lain tuh salah terus, sedangkan kehidupan diri sendiri yang benar.

Disadari atau nggak, kebiasaan ini malah menjadikan diri kita sakit. Iya loh, jangan-jangan malah diri kita sendiri yang tengah bermasalah. Ada penyakit hati yang mesti diobati. Entah iri, dengki, dan nggak mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan.

Suka berprasangka buruk apalagi kemudian menyampaikannya kepada orang lain, bukan kah ini masuk ke dalam kategori fitnah? Siapapun tahu fitnah itu lebih keji daripada pembunuhan. Ngeri kan, ya.

Menyia-nyiakan Waktu untuk Urusan Tidak Berguna

Mungkin kita nggak pernah sadar berapa banyak waktu terbuang hanya untuk mengamati perilaku atau keputusan hidup orang lain. Belum lagi waktu yang dipakai untuk memindai penampilan orang. Dari atas ke bawah, mungkin sekalian ya dari depan muter ke belakang. 

Itu baru satu orang. Kalau sama setiap orang kita begitu, wah bisa terkejut loh kalau dikalkulasikan. Bisa-bisa berjam-jam waktu terbuang sisa-sia untuk urusan nggak berguna ini. Padahal tahu sendiri, salah satu hal penting di dunia yang nggak akan bisa kita peroleh lagi kalau sudah dibuang sia-sia, adalah waktu. Jadi, alangkah baiknya kalau 24 jam yang diberikan sama rata kepada seluruh manusia, kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

*****

Source: Pexels

Tujuh Detik yang Berharga

See, menjadi judgmental person hanya membuat kita menjadi orang yang nggak produktif. Bandingkan, kalau waktu buat menjadi judgmental person ini digunakan untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Yakin, hati menjadi lebih tenang, pikiran menjadi lebih segar.

Satu hal yang penting banget diingat, kita nggak pernah benar-benar tahu rahasia hidup orang lain. Jadi, buat apa sih beropini?

Katanya sih, sekarang ini banyak banget orang yang jari dan mulut tuh bergerak lebih cepat daripada otak. Apalagi di media sosial. Ngeri banget. Pastikan dan semoga kita bukan menjadi salah satunya, ya. Jauhkaaan, jauhkan … 

Ada sebuah nasehat menarik dari salah satu teman saya, bahwa setidaknya kita membutuhkan tujuh detik untuk merespon sesuatu. Tujuh detik itulah yang digunakan otak berpikir ingin merespon apa. Bisa jadi, setelah tujuh detik berlalu, jari dan mulut kita nggak melakukan apa-apa karena otak berkata, “Udah, nggak usah ngomong apa-apa. Jangan suka nge-judge hidup orang lain, deh.”

 

Jadi, yuk berhenti menjadi judgmental person. Susah atau senang, kita nggak akan pernah tahu bagaimana rasanya saat berada di dalam posisi orang lain. Merasa diri sendiri sudah baik, padahal belum tentu. Seperti yang diceritakan oleh Mbak Maria Tanjung bahwa Baik di Mata Manusia Belum Tentu Baik di Mata Tuhan. 

Kamu nggak suka melihat orang yang sibuk foto-foto makanan ketika di restoran. Jangan dulu berprasangka buruk, deh. Siapa tahu dia tuh sudah menjalankan adab sebelum makan seperti yang diceritakan Mbak Dian Restu Agustina.

Saat menemui orang yang berseberangan dengan kita, pastikan kita benar-benar memanfaatkan tujuh detik berharga tadi. Ini adalah langkah bijaksana untuk berusaha menjadi orang yang bijaksana dalam merespon dan beropini.

Menurut kamu, gimana?

Full of love,

Melina Sekarsari

30 comments found

  1. Aku sependapat nih mba. Yaa kita gak bisa juga asal aja menjudge orang. Ya kan? Karena yang terlihat dari sisi kita itu belum tentu yang sebenarnya terjadi. So, yaa positive thinking aja selalu. Tul gak?

  2. Memanfaatkan tujuh detik berharga sebelum menghakimi….Hm. Memang ya, sekilas yang nampak mata membuat kita beropini secepat kilat. Jika mau beberapa detik saja berpikir pakai logika bisa jadi kita tidak jadi beropini yang menyakiti mereka. Seperti contoh yang disampaikan, beneran memang susah atau senang, kita enggak akan pernah tahu bagaimana rasanya saat berada di dalam posisi orang lain itu.
    Reminder bagiku ini….Mbak Mel, tengkyu!

  3. Nah, ini dia nih salah satu adab pergaulan: enggak jadi orang yang suka menghakimi.
    Biarlah hakim yang menjalankan tugasnya. Jangan kita ambil alih profesinya. Ye kan?

    Yang saya amati dan saya alami sih, para penghakim ini biasanya suka ‘offside’. Lha wong ga dimintain pendapat atau nasihat, main beropini sembarangan. Sedangkan di dalam agama pun kita dilarang tuh ngasih nasihat jika tidak diminta. Apalagi menghakimi. Fiuhh

    Berdiskusi tuh asyik. Menghakimi tuh jadi bikin orang terusik. So, I agree with u 🙂

      1. Iyes, Mbak. Karena memberi nasihat pun juga ada adabnya. Ga main ‘hantam’ aja.
        Walaupun isi nasihatnya bener, kalo disampaikan tanpa adab ya jadi salah. Pun tujuan mulia dari nasihat bisa jadi tidak sampai, dong 😉

  4. bener banget ini ya mba, kadang gemes juga sama orang yang sukanya nyinyir tanpa tahu apa yang terjadi. baca tulisan ini bikin saya juga introspeksi, siapa tahu juga pernah judgement ke orang. makasih sharingnya mba.

  5. Ma syaa Allah, terima kasih ya sudah diingatkan. Manfaat sekali artikelnya, memang sebaiknya kita sibuk menilai kekurangan diri dan mencoba memperbaiki untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Terima kasih ya mbak.

  6. Kadang suka ikutan kesal dengan orang yang judgemental padahal tidak tahu kisah sesungguhnya di balik peristiwa yang terjadi, terlebih lagi, kadang kalau dikasih tahu, malah lebih galak orang tsb 😂
    Anyway, dari post ini aku jadi tahu mengenai istilah 7 detik. Alangkah indahnya kalau banyak orang bisa menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari-harinya 😂

    1. Nah kan, sudah lah sok tahu, jadi lebih galak pula. Kan bikin pengen lempar sandal ya, wkwkwk …

      Iya, Mbak. Aku belajar banget dari dia. Tujuh detik tuh nggak lama, kok. Ya kan?

  7. Aku suka kesel sendiri pada judgemental person, dalam hati suka menggerutu : tau ape loo ? haha
    Tapi setidaknya itu jadi pengingat diri bahwa jangan begitu ke orang lain hihi. Ingat 7 detik yang berharga ya, karena apa yang udah keluar dari mulut ga bisa ditarik lagi

  8. Tujuh detik, berarti hitung 1-7, diam dulu. Bagus nih tipsnya. Termasuk kalau mau share sesuatu berita medsos nih. Supaya kita engga ikut-ikutan share. Siapa tahu ternyata hoax…

  9. Mungkin 7 detik tadi bisa dimanfaatkan juga untuk memposisikan diri kita pada orang yang mau kita hakimi. Kalau situasi yang terjadi sebaliknya mungkin pandangan kita juga jadi berbeda.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.