Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Review: The Bridge dan The Bridge Season 2

Review: The Bridge dan The Bridge Season 2

Apa yang akan kamu lakukan manakala harus bekerjasama dengan rekan kerja yang keras kepala, suka mengatur, dan kerap menyepelekan keberadaanmu? Pasti nggak nyaman, deh. Bisa-bisa ribut terus, atau yah minimal geregetan aja deh bawaannya.

Itulah yang terjadi pada Megat Jamil (Bront Palarae) manakala harus bekerjasama dengan Serena Teo (Rebecca Lim) dalam mengungkap kasus pembunuhan. Keduanya merupakan anggota ICD, sebuah lembaga yang menangani masalah kriminal yang terjadi antar negara Asia Tenggara. Megat bekerja untuk ICD Malaysia, sedangkan Serena bekerja untuk ICD Singapura.

Megat ditampilkan sebagai sosok family man. Dia sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Melihat ayahnya tewas bunuh diri di hadapannya, Serena tumbuh menjadi pribadi yang dingin, kaku, keras kepala, namun jauh di dalam hatinya, dia kesepian. Menangani kasus yang teramat rumit, perbedaan karakter, membuat Megat dan Serena selalu terlibat pertengkaran saat tengah menangani kasus.

Lanjut membaca review serial thriller ini, saran saya, kamu cukup membaca aja. Simpan dulu makanan kamu, ya. Kategori layak tonton untuk usia 18+ dikarenakan serial ini penuh dengan adegan kekerasan.

The Bridge; Sinopsis

Cerita diawali dengan penemuan sesosok mayat perempuan di atas Jembatan Tuas yang menghubungkan Malaysia dan Singapura. Posisi korban diletakkan persis di tengah-tengah garis batas yang memisahkan Malaysia dan Singapura. Megat Jamil dan tim ICD Malaysia datang sedikit lebih lambat dibandingkan Serena Teo dan tim ICD Singapura. Kehadiran Megat dipandang sebelah mata oleh Serena. 

“ICD kok datangnya telat.” Mungkin kira-kira begini kata Serena.

Sehubungan korban adalah warganegara Singapura, Serena meminta Megat dan timnya untuk meninggalkan lokasi karena kasus tersebut akan menjadi milik ICD Singapura. Megat merasa keberatan karena posisi mayat berada di perbatasan antara Malaysia dan Singapura. Sebagian tubuh korban berada di wilayah Malaysia. Menurut Megat, semestinya ICD Malaysia juga memiliki hak menangani kasus tersebut.

Serena bersikeras ingin menangani kasus tersebut. Setelah Megat mengeluarkan pernyataan resmi bahwa tim ICD Malaysia menyerah kasus tersebut kepada ICD Singapura, Serena meminta timnya untuk segera mengangkat korban begitu pengambilan foto selesai dilakukan. Tapi semuanya terkejut manakala mendapati mayat tersebut terpotong menjadi dua bagian, tepat dari pinggang ke bawah berada di wilayah Malaysia, sedangkan pinggang ke atas berada di wilayah Singapura. Korban dibawa ke laboratorium forensik ICD Singapura untuk identifikasi lebih lanjut.

Lebih mengejutkan lagi, saat petugas di laboratorium forensik menyampaikan hasilnya kepada Serena. Mayat tersebut bukan hanya satu, melainkan dua orang. Potongan bagian atas diperkirakan tewas 8-10 jam sebelumnya dengan kondisi kehabisan darah. Potongan bagian bawah mempunyai warna kulit yang berbeda dari bagian atas. Kakinya keras, kemungkinan telah dibekukan selama kurang lebih enam bulan. Berdasarkan DNA database Singapura, potongan korban bagian atas benar warganegara Singapura, sedangkan potongan tubuh bagian bawah tidak dikenali dalam sistem DNA database Singapura.

Serena meminta Megat mengecek DNA database Malaysia untuk mengetahui pemilik potongan tubuh bagian bawah. Betapa terkejutnya Serena karena Malaysia tidak mempunyai DNA database seperti di Singapura.

Kata Megat, “Yaelah, diejek lagi gue.”

Wuiks … Ternyata Singapura punya DNA database orang-orang yang tinggal di sana. Bukan hanya warganegara, loh, tapi yang tinggal di sana. Ini beneran? Lalu, saya jadi mikir. Emang Indonesia punya? 

Berbekal bekas luka bakar yang tampak pada kaki kanan korban, Megat meminta timnya untuk mencari informasi mengenai laporan orang hilang beberapa bulan lalu. Pernah ada permintaan dari ICD Jakarta untuk menelusuri kasus luka bakar yang dialami oleh tenaga kerja dari Indonesia di Malasya. Sang majikan dianggap sudah menyelesaikan tanggungjawab karena bersedia membayar biaya rumah sakit meski sedikit sekali. 

Seorang tenaga kerja yang bekerja di rumah dianggap sebagai kalangan kelas bawah yang keberadaannya tidak dianggap penting. Menghilangnya tenaga kerja tersebut terlupakan begitu saja. 

“Jadi, lo mau ikut gue tanganin kasus ini karena terkait kasus di negara lo yang nggak pernah dikelarin itu?” Nah, kena lagi kan Megat sama Serena.

 

Source: VIU

Sementara itu, Daniel Chong, jurnalis pemilik situs berita online Asia Now terus-menerus mendapatkan telepon misterius terkait kasus penemuan mayat di atas Jembatan Tuas. Si penelepon menjanjikan informasi valid namun dia meminta agar Daniel mau mengunggahnya di laman Asia Now. Daniel mulanya ragu. Tapi Asia Now tengah dalam masa krisis karena tidak punya berita menarik yang sanggup menarik minat pembaca untuk berkunjung. Demi menyelamatkan kondisi keuangan Asia Now, Daniel bersedia melakukannya. 

Langkah yang dilakukan Daniel membuat Megat dan Serena marah karena publik disajikan berita yang bahkan ICD masih dalam tahap penelusuran. Berita-berita yang terus diungkapkan oleh Asia Now membuat pekerjaan ICD menjadi terhambat.

Dari rekaman CCTV, diketahui bahwa mayat korban dibawa menggunakan mobil yang ternyata adalah milik Daniel. Jurnalis itu mengaku bahwa sudah berhari-hari dia meninggalkan mobil di area parkir gedung tempat kantornya berada. Jadi, bukan dia orang yang mengendarai mobil malam itu melintasi Jembatan Tuas. Alih-alih berperan sebagai pelaku pembunuhan itu, Daniel malah kemudian diteror. Dia terkunci di dalam mobil dengan sebuah detonator yang siap meledak dalam waktu satu jam. Bom tersebut akan meledak kurang dari itu jika Daniel membuka pintu atau jendela. 

Kasus tersebut ternyata bukan kasus biasa. Sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan pencucian uang dan mafia perdagangan manusia kelas kakap. Banyak yang harus menjadi korban untuk berhasil mengungkapkan pelaku dan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ditambah lagi dengan pertengkaran-pertengkaran yang terjadi antara Megat dan Serena. Megat dinilai tidak profesional karena seringkali mencampuradukkan urusan pekerjaan dengan keluarga. 

“Yaelah, istri lo suruh curhat di rumah aja, deh. Jangan di telepon. Kita kan lagi kerja.” Begini kira-kira nyinyiran Serena ke Megat.

Karena Serena, rumah tangga Megat dan istrinya, Erin, berada dalam bahaya. Erin melakukan kesalahan besar karena tidak mempercayai suaminya dan Serena. Nyawanya yang kemudian dalam ancaman besar. Siapa sangka, dia ikut dilibatkan dalam kasus pembunuhan yang sarat dengan rasa sakit hati dan pembalasan dendam dari orang di masa lalu?

Selamat kah, Erin, di saat korban-korban lain terus berjatuhan?

The Bridge Season 2

Saat menonton The Bridge, saya nggak sadar bahwa serial thriller ini sudah dirilis sejak tahun 2018. Begitu selesai menamatkan 10 episodenya, saya menemukan The Bridge Season 2 yang baru saja dirilis pada Juni 2020. Benar-benar masih baru. Wuih ya lanjut aja kalau gitu. Meski, ada beberapa episode akhir yang saya harus bersabar menunggu karena episode baru hanya ditayangkan setiap hari Selasa. 

Rasanya satu minggu terasa lama sekali karena The Bridge Season 2 jauh lebih seru. Bagi yang nggak kuat dengan adegan kekerasan dan lebih menyukai adegan percintaan romantis, saya sarankan jangan menonton. Saya nggak suka kekerasan tapi nanti saya ceritakan alasan The Bridge Season 2 sangat menarik perhatian saya.

The Bridge Season 2 menampilkan aktor dan aktris Indonesia, Lukman Sardi, Ario Bayu, dan Amanda Manopo. Latar tempat berada di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. 

Akhirnya … Muncul juga nih pemain-pemain Indonesianya.

Episode 1 diawali dengan ditemukannya tiga sosok mayat di atas sebuah yacht. Seorang ibu dan anak perempuan tewas dengan posisi duduk di sebuah sofa. Persis di seberang mereka, seorang laki-laki tewas dalam posisi berlutut dengan sangat mengenaskan. Kedua tangan terikat, dan sebuah pisau ditusukkan dari tengkuk hingga menembus ke mulut. 

Sekali lagi, kasus tersebut ditangani oleh Serena Teo. Diakui keberhasilannya dalam mengungkap ditemukannya mayat di atas jembatan tuas, ICD Singapura memberikan penghargaan dengan kenaikan pangkat untuknya. 

Source: VIU

Keempat korban merupakan warganegara Indonesia. Satu keluarga yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua orang anak. Kasus ini ditangani oleh ICD dari tiga negara karena korban berkewarganegaraan Indonesia, menggunakan yacht yang terdaftar di Singapura, dan tewas di perairan Malaysia. 

Komandan ICD Indonesia, Bayu, memberikan ijin pada Letnan Heri untuk pergi ke Singapura. Dia dilibatkan untuk menangani kasus pembunuhan keluarga yang tewas di yacht. Letnan Heri menyembunyikan rahasia sebuah kasus di Indonesia dari Serena. 

Sayangnya, kebohongan itu terendus oleh Serena. Kebohongan Heri membuatnya marah. Dia menolak bekerjasama dengan letnan dari Indonesia itu. Konflik lain muncul ketika Megat ternyata berada di pihak orang yang diduga mempunyai kaitan erat dengan pembunuhan misterius itu. Serena tidak percaya Megat berkhianat pada ICD. Kasus tersebut membuat Serena sakit kepala. Rekan kerja pembohong seperti Heri, dikhianati oleh Megat, dan kecurigaannya karena sang atasan, Komandan Lim, selalu menolak saat dia ingin menggeledah rumah seseorang yang dicurigainya. Siapa saja yang sebenarnya tengah berkhianat?

Konflik semakin rumit saat semakin banyak korban tewas dengan kondisi serupa. Tewas dalam kondisi berlutut dan berada di hadapan keluarganya yang juga tewas.

Besar kemungkinan anggota keluarga dibunuh lebih dulu sebelum target. ICD menyimpulkan sementara bahwa pelaku ingin melihat target utama tersiksa melihat orang-orang yang disayangi dibunuh terlebih dulu. Banyak nyawa harus melayang demi menemukan pelaku dalam kondisi hidup, termasuk Lim, Komandan ICD Singapura. 

Pembunuhan, balas dendam, pengkhianatan, perdagangan manusia, perdagangan organ dalam manusia, keterlibatan pengusaha besar dan pejabat tinggi, membuat kasus begitu sulit diungkap. 

Berhasil kah Serena mengungkap kasuh pembunuhan itu? Mengapa Megat berkhianat kepada ICD? Mengapa Letnan Heri memutuskan menolak kembali ke Indonesia dan melepaskan kasus itu?

Must Watch!

Meskipun sepanjang menonton The Bridge dan The Bridge Season 2 jantung saya berdegup nggak karuan saking tegangnya, saya harus memberikan dua jempol. The Bridge dan The Bridge Season 2 benar-benar menjadi hiburan di saat saya coba-coba menonton serial drama yang alurnya menurut saya terlalu lambat dan akhirnya malah saya skip-skip terus lalu nggak pernah saya lanjutkan lagi.

Semua pemain ditampilkan secara natural. Serena Teo adalah toko favorit saya. Rebecca Lim memainkan sosok Serena Teo yang sangat unik. Selayaknya detektif, pakaian yang dikenakan hanya berupa jeans, celana kargo, kaos tanpa lengan yang ditutupi jaket, itu-itu saja terus. Rambutnya dibiarkan diikat begitu saja, tanpa make up. Uniknya di mana? Dia nggak bisa berbasa-basi. Diajak mampir ke rumah Megat untuk makan bareng pun, Serena nggak tahu bagaimana cara menyapa. Dia seperti manusia setengah robot. Semuanya serba straight to the point. Mengobrol dengan kekasihnya pun nggak. Kalau ketemu, ya langsung buka baju. 

Alamak, nggak pakai mesra-mesraan dulu gitu.

Ada satu adegan yang bikin saya menangis kejer, yaitu saat Serena bisa mengeluarkan air mata. Jadi, sejak ayahnya tewas, Serena nggak pernah bisa mengeluarkan air mata. Apakah karena melihat tangisan air mata anggota keluarga dari orang-orang yang tewas mengenaskan itu? Sayangnya, Serena nggak sesentimentil itu. Makanya, nonton aja ya.

Jangan berharap menemukan aktor dan aktris tampan dengan penampilan fisik yang menawan di sini. Megat digambarkan punya mobil yang isinya bau dan berantakan karena kerap digunakan oleh anak-anaknya yang masih kecil untuk bermain. Istri Megat ditampilkan sederhana, rambut yang kerap berantakan, rumah dengan mainan di sana-sini, dan anak-anak yang belajar bareng di meja makan. Semuanya serba natural, nggak didandani agar tampil cantik. Kekuatan The Bridge dan The Bridge Season 2 memang berada pada akting dan alur cerita. 

Satu lagi, percampuran tiga bahasa, Inggris, Indonesia, dan Melayu, membuat saya serasa begitu cepat berpindah negara saat menontonnya.

Jadi, saat The Bridge Season 3 nanti ditayangkan (semoga ada), saya pasti nonton.

Kalau diminta memberikan rating score, maka saya beri 9 of 10 untuk The Bridge dan The Bridge Season 2. Jangan 10 karena ini terlalu sempurna dan kesempurnaan milik Tuhan semata. 

 

Salam,

Melina Sekarsari

50 comments found

  1. Membaca reviewnya, jadi ikutan berdoa semoga ada lagi kelanjutan The Bridge season selanjutnya. Soalnya kalau udah ngikutin dati awal si Serena ini, inginnya sampai bener tamat nih cerita, akhirnya yak pengennya happy ending gitu. Jangan lagi nangis yak

  2. Makasih lho Mba Melina… sy jd punya list tontonan weekend ini. Udah sering lihat emang wara-wiri di Viu promo flyer filmnya. Must watch lagi Mbak Melina rekomendasiin kan, sip deh…

  3. Aku udah liat trailer ini muncul tiap aku buka VIU buat nonton drakor. Tapi nggak tahu kalau ceritanya akan semenarik ini. Beneran jadi penasaran. Temanya kusuka. Tfs ya mbak. Jadi punya referensi.

  4. Aku tahu serial ini di HBO..sekali dua kali terus lewat, enggak kuat akutu nontonnya , kecuali film lepas kalau thriller masih oke. Karena ini serial kok ya terus-terusan adegan yang bikin detak jantung berdegup kencang. Terlalu lembut hatiku huhuhu. Tapi asli keren, apalagi aktingnya, terus pembuatannya dah persis made in Hollywood . Padahal ini artis dan tim orang Asia. Keren!

  5. Saya sering banget liat film ini di Viu ya kalau nggak salah, tapi kok ya sama sekali belum sempat nonton.
    Baca ini bikin penasaran pengen nonton ih 🙂
    Kayaknya menarik ya, bikin adrenalin meningkat hahaha

  6. Wow, kedua film ini merupakan gambaran film yang sempurna padahal konfliknya warbiyasak. Jadi tahu kalau Singapura punya DNA database orang-orang yang tinggal di sana. Keren ya.

  7. Aiihhh mba, aku jadi penasaran dan pengen nonton deh… Suka film action dan thriller alias misteri gini… Bikin tegang, tapi asik. Hehe ini nontonnya di VIU kah? Tapi itu tuntas semua kan? Filmnya sampai selesai?

  8. Ketemu rekan kerja yang kayak gitu,ya pasti bikin tensi darah naik mulu ya kak.
    Apalagi kalau di dunia kerja itu mesti ada kerjasama tim, nah kalau seperti di film The Bridge.
    Terlebih lagi nanganin kasus pembunuhan,yah… Mesti ekstra sabar dong.
    Kayaknya bakal seru nih kalau di tonton juga

  9. wah wah filmnya bagus by made Asia Tenggara harus jadi top film ini karena alur ceritanya bagus pernuh dengan misteri dan sperti adegan ada detektifnya juga yang berbeda negara untuk memecahkan kasus pembunuhan

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.