Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Langkah Sederhana Namun Nyata dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Langkah Sederhana Namun Nyata dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Gimana rasanya tinggal di Bogor setelah menghabiskan waktu sekolah di Tangerang, sebuah kota industri yang tentu saja udaranya panas?

Akhirnya … Bisa sering-sering menikmati hujan tanpa banjir, yeay!  Iya, dulu di Tangerang memang sering turun hujan. Tapi sedihnya, jalanan rumah kami selalu kebanjiran. Apalagi waktu tinggal di Semarang, air selalu membanjiri bagian dalam rumah kami.

Sebelum menetap di Bogor di tahun 2007, saya sudah menghabiskan hampir empat tahun masa kuliah di kota hujan ini. Mulai kuliah di tahun 2001, Bogor sudah berubah jauh dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Waktu masih SMP, saya suka naik bus sendirian ke Ciawi, Bogor. Kakak sulung saya kuliah di sana. Ciawi saat itu masih dingin banget. Saya nggak pernah bisa lama-lama tinggal di tempat kost-nya. Bukan karena diusir ibu kost ya, tapi karena dinginnya itu loh, brrrr … sampai bikin kulit memerah dan gatal. Sempat diajak main ke arah kota, Bogor pun kala itu masih sejuk.

Waktu saya kuliah, gimana? Bogor sudah mulai panas meskipun intensitas turunnya hujan juga tinggi. Masih ingat betul deh, gimana risaunya saya saat sedang belajar di kelas lalu di luar sana hujan deras mengguyur.

“Jemuranku, huhuhu … Udah nyuci capek-capek. Basah lagi, deh.” Saya berkeluh dalam hati sambil menahan gigil. 

Dua tahun setelah saya lulus kuliah, keluarga kami akhirnya pindah ke Bogor. Saya pensiun jadi anak kost. 

Sebagai pemegang KTP kota tapi kenyataannya tinggal di desa, saya lumayan beruntung. Wilayah tempat tinggal saya termasuk daerah dataran tinggi. Bayangkan saja ya, Bogor sudah tinggi tapi Katulampa masih lebih tinggi. Ada sawah meski nggak terlalu luas tepat di belakang rumah. Berjalan sedikit ke arah belakang komplek, masih mudah sekali menemukan perkebunan yang ditanami aneka rupa mulai dari umbi-umbian, pisang, pepaya, hingga bengkuang. Gampang dong, kalau mau tinggal ke petaninya langsung? Yes, right. Mereka pun suka keliling ke komplek perumahan menjajakan dagangan dari kebun mereka sendiri.

 

Kalau datang kesini, mudah sekali menemukan semut. Yah, semut sih di mana-mana ada. Yang beda dikit, dong. Dulu sih masih banyak kupu-kupu, belalang, dan aneka reptilia. Tapi sudah lama sekali saya nggak menemukan mereka. Seperti kata Davina yang suka menyelam dan keluar masuk hutan dan mendapati banyak fauna yang seperti pengungsi karena kehilangan tempat tinggal akibat ulah manusia, apakah kupu-kupu, belalang, dan aneka reptilia di daerah tempat tinggal kami juga sudah kehilangan tempat tinggal, ya? Keberadaan fauna di sekitar tempat tinggal kami berubah.

Keluar rumah, jalan sebentar ke ujung gang, bisa melihat pemandangan Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Bagi yang rumahnya minimal berlantai dua, Gunung Gede dan Pangrango ada di belakang rumah, sedangkan Gunung Salak, jadi pemandangan di sisi kanan rumah. Asyik banget, ya? 

Apalagi kalau cuaca tengah cerah, wuih … lebatnya hutan di Gunung Salak, serasa bisa disentuh dengan jari. Hijaaau sekali.

Saat musim hujan, sampai saat ini saya masih bisa merasakan kedinginan yang luar biasa. Kadang, malah suka berkaos kaki di dalam rumah. Kalau sudah begini, hampir bisa dipastikan, saya dan keluarga hanya akan mandi satu kali sehari. Airnya dingin banget, brrrr ….

Tapi, saat ini bukan sesuatu yang aneh juga saat hujan turun dengan derasnya, tapi udara tetap saja panas. Kok beda banget ya dibandingkan dulu? Suasana hujan di daerah kami pun berubah.

Di jembatan sebagai gerbang utama komplek, mengalir sungai dengan air yang jernih di bawahnya. Aliran air ini berasal dari Bendungan Katulampa yang berjarak sekitar 1 km dari komplek kami. Saat wilayah Puncak hujan deras, maka volume air di Bendungan Katulampa akan meningkat. Deras sekali, kadang saya ngeri melihatnya. Tapi ini yang menjadikan komplek tempat tinggal kami menjadi daerah yang kebutuhan airnya melimpah. Alhamdulillah …

Di aliran sungai Katulampa ini, kamu bisa ikutan arung jeram, loh.

Rasa-rasanya, sudah lama banget nih Bogor nggak diguyur hujan. Kalau sudah begini, saat kita tengok Bendungan Katulampa, pasti hanya terlihat bebatuan besar di sana. Airnya surut, rut.

Di awal tahun 2007, pukul lima sore, udara dingin mulai melingkupi rumah kami. Semakin malam, tentu semakin dingin. Suhu udara baru kembali naik setelah pukul enam pagi. Jangankan AC, kipas sate pun nggak diperlukan. 

Di atas tahun 2013, udara dingin baru datang sekitar pukul sembilan malam. Anak-anak mulai kegerahan, susah tidurnya. Di saat inilah saya baru membeli AC. Kalau nggak gitu, anak-anak nggak bisa tidur. Dulu mereka lahir saat hujan deras, waktu Bogor sedang dingin-dinginnya. 

Sekitar lima tahun terakhir, udara dingin baru terasa pukul satu dini hari. Itu pun sudah mulai menghangat lagi di pukul empat pagi. Sedih, suhu udara di tempat tinggal kami juga ikut berubah. Sangat signifikan. Kenapa, ya?

Itu suhu udara di waktu malam. Kalau pagi ke sore, gimana? Pokoknya selama work from home dan mendampingi anak-anak school from home, jangan lupa mandi, deh. Panasnya minta ampun. Selain soal social distancing, saya pun enggan keluar rumah apalagi di atas pukul sepuluh. Kalau mau maksa keluar dan rela berakrab ria sama terik matahari sih ya silakan saja.

Perubahan Iklim di Kota Hujan

Wajah kota ini memang berubah jauh. Semakin banyak bangunan beton berdiri, mulai dari restoran, pusat perbelanjaan, hotel, perumahan hingga apartemen. Bogor nggak sehijau dulu. Memang masih ada titik-titik yang tetap mempertahankan pohon-pohon besar tetap ada, tapi akan lebih mudah menemukan bangunan beton dibandingkan pepohonan hijau itu.

Lalu saya jadi ingat. Daerah yang sekarang menjadi komplek perumahan tempat saya tinggal, dulunya adalah perkebunan luas yang pastinya udaranya lebih sejuk juga dibandingkan setelah komplek perumahan dibangun. 

Semakin berkurangnya ruang terbuka hijau tentu mempengaruhi ketersediaan pepohonan hijau sebagai penyerap karbondioksida dan kemudian menghasilkan oksigen. Jangan heran kalau kota hujan ini menjadi lebih panas dibandingkan dulu. 

Kondisi ini tentu bukan hanya terjadi di sini. Di berbagai kota di Indonesia atau mungkin di berbagai belahan dunia lain, kondisi serupa juga terjadi. 

Dilansir dari kbr.id, menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), penumpukan emisi gas rumah kaca di atmosfer sejak masa pra industri sampai sekarang telah mengakibatkan kenaikan suhu rata-rata bumi naik sekitar satu derajat Celcius. 

Jika tak ada pengurangan gas emisi rumah kaca besar-besaran, IPCC memprediksi dalam dua atau tiga dekade mendatang suhu rata-rata bumi bisa naik lagi sampai melebihi 1,5 derajat Celcius

Kelihatannya sih kecil saja, tapi kita memang nggak boleh main-main dengan angka kecil. Recehan saja bisa jadi milyaran kalau terus-menerus dikumpulkan. Ini kalau membahas uang, kalau membahas perubahan iklim, gimana?

Ternyata ya, kenaikan yang ‘hanya’ 1,5 derajat Celcius itu, kalau nggak ditangani secepatnya bisa menimbulkan perubahan iklim secara global yang signifikan. Ujung-ujungnya akan menyebabkan kerugian bagi semua makhluk hidup karena timbulnya kemarau berkepanjangan, kekeringan, angin puting beliung, mencairnya es di kutub sehingga membuat daratan semakin menyempit, dan naiknya permukaan air laut yang bisa menyebabkan daratan tenggelam. Kalau sudah begitu, kita mau tinggal di mana, coba?

Langkah-Langkah Mengantisipasi Perubahan Iklim

Enak ya kalau punya rumah dengan halaman luas. Bisa menanam pohon-pohon besar yang meneduhkan. Udara di sekitar pasti terasa lebih segar juga. Berhubung tempat tinggal saya luasnya terbatas dan sama sekali nggak ada halaman untuk ditanami, satu-satunya cara adalah memanfaatkan halaman luar untuk ditanami pepohonan.

Tentu jangan sampai mengganggu penggunaan jalan bagi orang banyak. Saya dan tetangga sekitar menanam pohon di sana. Ada yang menanam pohon mangga, sirsak, srikaya, atau jambu. Nggak banyak, tapi lumayan meneduhkan. 

Memisahkan sampah menjadi dua bagian, organik dan non organik, juga kami lakukan sebelum sampah-sampah tersebut diangkut oleh petugas kebersihan. Lingkungan menyediakan tong sampah berwarna hijau khusus untuk membuang sampah organik. Sampah ini nantinya akan diproses secara khusus. Andai ada lahan kosong, pasti saya memilih memproses sampah organik menjadi pupuk kompos. Waktu SD dulu, saya dan teman-teman rutin membuatnya di halaman belakang sekolah. 

Jauh sebelum pandemik, saya terbiasa membawa tas besar saat bepergian. Lebih ringkas sih, karena bisa memuat banyak kebutuhan mulai dari uang, ponsel, botol berisi air minum, sapu tangan, kotak makanan, payung, dan tas lipat kalau sewaktu-waktu ternyata kami harus mampir ke supermarket untuk berbelanja. 

Membawa botol air minum, kotak makanan, dan tas lipat, adalah salah satu cara untuk menjaga agar bumi tetap terjaga keseimbangannya. Bayangkan coba, berapa botol bekas yang dibuang di jalanan saat orang-orang nggak membawa air minum sendiri. Berapa banyak juga kemasan makanan di tempat sampah yang menumpuk karena kita lupa membawa kotak makanan. 

 

Main ke air terjun pun rela berat-berat bawa kotak perbekalan.

Meskipun saya bingung juga sih, kalau air minum yang saya bawa habis, kan ujung-ujungnya saya membeli air minum dalam kemasan juga. Tahu sendiri kan, negara kita belum punya fasilitas air ready to drink di tempat-tempat umum. 

Mengenai tas lipat, rasa-rasanya hampir semua warga Bogor sudah tahu harus membawa benda ajaib yang satu ini. Kota Bogor memang sudah lama menerapkan peniadaan kantong plastik saat berbelanja. Tujuannya untuk mengurangi tumpukan sampah plastik. Alasannya jelas, sampah plastik sulit diuraikan. Semoga upaya ini efektif mencegah terjadinya pemanasan global. 

Kelihatannya ribet, tapi mengelap tumpahan air atau makanan menggunakan serbet jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan menggunakan tisu. Seperti kita ketahui, tisu kertas baru terurai dalam waktu 2-4 minggu di laut. Itupun kalau nggak tertelan oleh binatang atau mamalia laut yang malah akan membua mereka celaka. Jadi, gunakan serbet saja, yuk.

Di belakang rumah saya, masih ada areal pertanian yang nggak begitu luas. Pemiliknya sih katanya nggak akan menjual lahannya ke developer. Itu adalah satu-satunya areal pertanian yang tersisa. Lainnya sudah berubah menjadi rumah, salah satunya rumah kami. Banyak pemilik lahan yang memutuskan menjual karena tergoda dengan harga yang ditawarkan.

Membeli hasil pertanian langsung dari mereka juga bisa menjadi langkah mencegah perubahan iklim. Semakin besar apresiasi atas usaha bertani mereka, semakin tinggi kesejahteraan yang mereka peroleh, tentunya mereka akan tetap nyaman bertahan untuk tetap bercocok tanam. Nggak ada niat untuk menjual lahan tersebut kepada siapapun juga. Kita memerlukan areal pertanian ini untuk ketahanan pangan sekaligus memperluas daerah serapan air untuk menghindari kelongsoran tanah.

**********

Banyak yang berubah di sekitar tempat tinggal kami. Tapi saya dan teman-teman masih bisa melakukan perubahan dengan cara sederhana dan sekecil apapun. Langkah sederhana dan kecil namun nyata, jika dilakukan secara bersama-sama, InsyaAllah akan membawa perubahan besar. Bukankah begitu?

 

Salam,

Melina Sekarsari

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa anda lihat di sini.

37 comments found

  1. Membawa botol air minum sendiri saya ketahui saat kerja di luar negeri. Sejak itu pulang kampung, kebiasaan itu selalu saya lakukan. Bahkan sampai punya anak kebiasaan itu diturunkan lagi. Lumayan, ternyata bisa mengurangi sampah plastik dan menjaga kelestarian lingkungan ya

    1. Saya terbiasa begitu juga sejak bekerja. Perjalanan naik kereta atau bus yang sampai 2-3 jam membuat haus. Alternatifnya memang botol minum sendiri. Alhamdulillah, ternyata bisa menyelamatkan lingkungan juga.

  2. memang kalau bawa tempat makan atau minum sendiri jadi rasanya tambah effort ya kak namun jadi sekaligus lebih tenang juga sih karena sudah turut mengurangi sampah plastik dan menjaga lingkungan. pengolahan dan pemilihan sampah juga penting sekali untuk dilakukan

  3. Mengenai tas lipat, rasa-rasanya hampir semua warga Bogor sudah tahu harus membawa benda ajaib yang satu ini.

    Wuaah keren warga Bogor ya. Masih banyak masyarakat yang tidak memperhatikan hal itu. Bahkan saya masih suka lupa bawa kantong sendiri, hiks.

  4. dulu kita bisa menebak musim hujan kapan dan musim panas.,.skg? boro-boro….biasanya panas,,,besokknnya hujan…..itulah perubahan iklim, dunia ini semakin tua,….pintar-pintarlah menjaga kelestarian alam

  5. Saya tinggal di bogor, tepatnya di jonggol. Makasih sharingnya mba. Kayaknya aku harus lebih belajar banyak nich. Masih suka beli air minum kemasan kalau lagi dijalan. Dan belanja juga masih suka beli plastik. Jadi malu sendiri. He. He. He.

  6. Kalau bawa makan dan minum sendiri sih belum yuni lakukan. Tapi sebisa mungkin yuni kalau buang sampah nggak sembarangan. Yuni lebih memilih memasukkan sampah bekas makanan yuni ke dalam tas ketimbang dibuang di jalanan. Hehehe

  7. Sebenernya simple sih ya kalau kita konsisten menjaga bumi ini, seperti kalau bepergian bawa gitu perbekalan sendiri dan tumbler, sehingga kalau membeli camilan di luar kan udah siap dengan kotak makan sendiri.

    Kuy kita sadar dengan berbuat lebih baik agar perubahan iklim ini nggak terjadi drastis lagi, hijau kan bumi serta konsisten menjaganya

  8. Kok jadi bayangin tempat tinggal Mbak Mel yang meski kini sudah panas tapi masih ada sejuk dan dinginnya. Kalau aku di Jakarta Barat dan panas seharian kecuali didinginkan pendingin ruangan , hiks!
    Ku setuju jika perubahan iklim ini engaak akan semakin parah jika diiringi langkah sederhana dari kita. Bawa kemasan isis ulang, memisah sampah , penghijauan di sekitar rumah dan tindakan nyata lainnya yang akan membantu kelestarian lingkungan

  9. Setuju banget sama poin ini “hijau tentu mempengaruhi ketersediaan pepohonan hijau sebagai penyerap karbondioksida dan kemudian menghasilkan oksigen. ” Tetap jaga ya lingkungan kita

  10. Saya bergidik membayangkan kota hujan banyak berbeton sehingga pepohonan jadi langka. Panas yang minta ampun dan longsor akan jadi sahabat.
    Yo kita jaga alam sekitar kita

  11. Bener banget mba sekarang cuaca berubah ubah dengan ekstrimnya ditempat Saya Juga gitu 4 tahun lali Dan sekarang beda jauh

  12. duuh envy liat air terjunnya. pengen liburan akunya. etapi emang masalah perubahan iklim ini masih menjadi masalah pokok smpai skrng ya mba. semoga bumi bsa bertahan lebih lama ya mba.

  13. Mbak Mel, seneng banget masih bisa lihat hijaunya gunung-gunung, tempat yang selalu kurindukan.
    Meski sayang faunanya dah berkurang ya. Betulan Perubahan Iklim terasa dampaknya dimana-mana. Sepakat banget dengan langkah-langkah antisipasi Perubahan Iklim yang Mbak Mel paparkan di atas. Mari bersatu mulai dari keluarga.

  14. Selama ini cuma denger-denger tentang Katulampa, eh ternyata Mbak Mel tinggal di sekitar situ.
    Ah, ternyata hampir di semua area yang dulunya sejuk berubah jadi lebih panas, ya. Di Malang pun begitu. Udah bukan lagi kota dingin, sih. Hanya di dataran tingginya saja yang masih emang terasa sejuk.
    Perubahan iklim, hmm… PR kita bersama. Bisa diminimalisir efek buruknya dengan hal-hal sederhana seperti yang Mbak sebut.
    Iya sih, saya kadang masih suka mampir toko waralaba tuk beli air mineral saat di perjalanan. Bawa kantong belanja sendiri, yess. Plus suami saya rajin banget berkebun terutama menanam pohon buah. Punya space halaman dikit, sih. Semoga kontribusi sedikit ini ada manfaatnya 🙂

    1. Malang juga nggak sedingin dulu kah? Oh, Batu yang masih dingin ya, Mbak. Beneran nih, bumi kita sudah semakin panas.

      Aduuuh … Kepengen banget berkebun. Sayang nggak punya lahan, hahaha …

  15. Saya juga masih belajar mengurangi sampah plastik, yang sulit dihindari kalau pesan makanan online pas lagi ga masak, dan sedang susah keluar buat beli keperluan rumah tangga. Sedih juga ya, kalau sampah ini susah terurai dan mencemari lautan. Semoga kedepannya bisa lebih baik.

  16. Hai Melina, ide sederhana ini memang sederhana tapi susah banget ya buat komit dan konsisten. Apalagi pas masa PSBB gini banyak order GoFood, pasti dipakein pelastik. Sedih banget. Btw kalau masalah botol minum, saya beberapa kali suka minta refill di restoran pas makan siang. Kalau pas makan di sana sih. Kalau gak, saya suka minta ke Indomaret atau Alfamart, kan suka punya air panas buat bikin mi atau kopi saset. Ada yg gratisin, ada juga yang saya bayar kayak beli kopi saja gitu.

    1. Hi, Kak. Wah, selama ini saya nggak terpikir mampir di minimarket untuk ‘membeli’ air. Mungkin karena yang saya cari adalah air untuk diminum langsung ya, bukan air panas. Tapi boleh juga nih sarannya diikuti. Nanti botolnya diangin-anginkan aja, ya.

      Thanks banget Kak, untuk sharing-nya.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.