Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Tiga (3) Hal Penuh Tanda Tanya Saat Commuterline Mogok

Tiga (3) Hal Penuh Tanda Tanya Saat Commuterline Mogok

Hai … Kamu pernah naik commuterline? Kapan pertama kali naik commuterline?

Saya pertama kali naik kereta yang dulunya bernama KRL (Kereta Rel Listrik) di tahun 2002. Waktu itu saya dan teman-teman kampus mau ke rumah dosen yang tinggal di daerah Bojonggede, Bogor. Waktu itu, mau ngapain ya kami kesana? Saya lupa. Nggak usah diingat-ingat juga karena nggak ada hubungannya sama tulisan ini, wkwkwkw

Pertama kali mencoba, kereta dalam kondisi kosong, sih. Kosong di sini maksudnya masih banyak ruang untuk berdiri, hehehe … Saya sempat melemparkan kalimat bernada heran ke salah satu teman. 

“Kok lo bisa sih berdiri di kereta tanpa pegangan?”

Sedangkan waktu itu tubuh saya rasanya terhuyung kesana-kemari. Entah karena goncangan dari kereta, entah karena badan saya yang saking pipihnya, wkwkwk

Teman saya itu tertawa. Bukannya ngajarin, dia malah bilang kalau tidur sambil berdiri pun dia bisa. Dia tinggal di Depok. Setiap hari memang biasa ke kampus di Bogor menggunakan KRL. 

Oh, mungkin karena udah biasa, pikir saya.

 

Menjadi Pelanggan Setia

Bertahun kemudian, tepatnya tahun 2006, akhirnya saya jadi pelanggan setia KRL. Bekerja di Jakarta dan tinggal di Bogor, transportasi ini memang yang paling memadai. Termasuk ukuran kantong. Sebagai karyawan baru yang gajinya masih satu juta lebih sedikit, saya memilih KRL kelas ekonomi yang harga tiketnya beneran murah meriah. Nggak masalah deh, umpel-umpelan sepanjang perjalanan. 

Ada sih KRL AC yang tentu lebih nyaman. Tapi sekali naik, tiketnya Rp 12 ribu. Kalau pulang pergi jadi Rp 24.000. Dikalikan 20 hari kerja, jadi Rp 480 ribu. Yah, kapan bisa nabung-nabung kalau transportasi sebulan sudah sepertiga gaji. Eh ya kan, jadi ketahuan gajinya berapa, wkwkwk … Kalau naik KRL ekonomi, cukup bayar abonemen Rp 65 ribu sebulan. Mau bolak-balik naik kereta sehari tiga kali juga silakan aja. 

Itu belum termasuk ongkos angkutan kota dari rumah ke stasiun Bogor dan ongkos metromini dari Stasiun Kalibata ke kantor. Habislah gaji kalau sok ogah umpel-umpelan di KRL ekonomi.

Source: Detik

Maka, hari-hari berkereta itu terus berjalan. Awalnya takjub plus ngeri melihat orang-orang yang naik ke atap kereta. Apalagi ya, waktu kereta berhenti, mereka tuh manjatnya pakai pijakan jendela. Posisi jendela juga terbuka. Jadi, secara nggak disengaja pundah orang-orang yang duduk dekat jendela dijadiin tangga. Kok tahu? Ya iyalah, kan saya pernah jadi korbannya, huahahaha

Saya jadi jago berdiri di kereta tanpa pegangan. Eh, jago juga loh tidur sambil berdiri. Yeay! Akhirnya bisa juga, wkwkwk

Setiap hari, ada aja kejadian nyebelin, bikin emosi, dan yang lucu di kereta. Tapi nggak ada sih yang bikin sakit hati. Aduh, mana sempat baperan di KRL ekonomi. Kesikut udah biasa. Kaki kelindes roda gerobak mini pedagang minuman, udah biasa. Keluar kereta bros udah nggak di tempat, udah biasa. Berdiri satu kaki, udah biasa. Keluar gerbong, eh satu sepatu ketinggalan di dalam, juga udah biasa. Paling jadi teriak-teriak kayak tarzan.

“Sepatu saya ketinggalan! Tolongin dong, Pak, Bu, Mas, Mbak, Akang, Teteh!” 

Kalau lagi capek banget nih ya, kamu bisa loh masuk dan keluar gerbong tanpa mengeluarkan tenaga. Ngikut aja gitu didorong orang-orang.

Pernah, waktu mau keluar gerbong, karena didorong orang-orang dengan tenaga super di belakang, saya terdorong keluar dan mental ke lapak pedagang sepatu di peron. Kan dulu boleh tuh ya, gelar-gelar lapak di sepanjang peron. Ya rusak berantakan deh dagangan yang udah ditata si bapak. Minta maaf udah, tapi kan bukan salah saya juga. Lah wong saya didorong. Lagian salah dia juga, gelar lapak kok mepet banget sama pintu kereta. Ya kan, ya kan? Wkwkwkw

Dari KRL ke Commuterline

Semua ketidaknyamanan di dalam KRL ya dibikin nyaman aja. Kemudian KRL berganti penampilan menjadi commuterline. KRL AC ditiadakan. Toh, si commuterline ini memang sudah dilengkapi AC juga. Umpel-umpelannya tetap sama, tapi nggak separah jaman KRL.

Sampai suatu hari, saya dapat rezeki luar biasa. Apa, coba? Dapat gerbong yang kosong. Wuih, tumben-tumbenan. Biasanya ya, sore ke malam dari Stasiun Kalibata itu, bisa masuk gerbong aja udah syukur Alhamdulillah. Ini malah dapat tempat duduk. Malah setengah dari gerbong masih kosong. 

Lalu, seperti yang udah-udah, keretanya mogok, dong. Bukan cerita baru ini, sih. KRL sampai commuterline memang sering mogok, kok. Makanya saya tenang. Pernah kok, waktu turun hujan yang dereees banget, rel dari arah Stasiun Bogor ke arah Stasiun Bojonggede anjlok. Semua penumpang diturunkan di Stasiun Bojonggede. Waktu itu pukul setengah sebelas malam. Saya dan ratusan orang dari dalam kereta langsung bikin penuh area Bojonggede. 

Hujan deres, air semakin tinggi sebetis, nggak ada angkot, nggak ada ojeg, akhirnya kami jalan kaki dong sampai Stasiun Cilebut. Buat yang biasa naik commuterline, tahu kan ya jarak dari Stasiun Bojonggede ke Stasiun Cilebut itu segimana jauhnya. Huaaa, kedinginan, kaki gatal, jalannya jauh, perut lapar. Beneran kombinasi yang pas buat misuh-misuh. Eh, harusnya istighfar, ya.

Pokoknya hari itu saya sampai rumah pukul setengah satu pagi. Basah kuyup, kedinginan, ngantuk, eh pukul lima pagi harus berangkat kerja lagi. Auto pengen dijemput pakai Mercy nggak, sih? Biar bisa bobo nyenyak gitu.

Source: Indozone

Lanjut ke commuterline yang mogok tadi, ya. Saat kereta mogok, biasanya penumpang cuma bisa menunggu kan, ya? Apalagi ada pemberitahuan dari petugas bahwa kereta mengalami gangguan dan tengah diperbaiki. Padahal kereta udah melewati Stasiun Cilebut. Udah deket banget kan ke Stasiun Bogor. Gemes pengen cubit-cubit jadinya. Entah mau nyubit siapa.

Sampai 30 menit kemudian, kok kereta nggak kunjung jalan, nih. Saya dan beberapa penumpang lain ngintip ke gerbong lokomotif. Kebetulan, waktu itu saya naik di gerbong depan. Waktu mengintip, eng ing eng … Jreng, jreng

Loh kok, kosong? Pada kemana petugasnya? Nggak ada orang, dong. Wah nggak bener nih masa penumpang ditinggalin sendirian begini. Ya nggak sendirian, sih, ada penumpang lain. Tapi kamu bayangin coba, naik pesawat terus pilotnya tiba-tiba ngilang. Kan merasa kehilangan tuh, uhuk!

Setengah jam lewat lagi, nih. Kami mengintip lagi ke gerbong lokomotif, nggak ada siapa-siapa. Entah atas usul siapa saya lupa, kami memutuskan turun dan melanjutkan perjalanan naik angkot. Toh, udah dekat ke Bogor, kok. Salah satu dari penumpang yang mengajak turun melihat ada pemukiman penduduk selepas tanah berilalang di depan sana. Pasti di depan sana, ada jalur angkutan kota. Begitu, katanya. 

Waktu itu sih nggak banyak yang ikutan turun. Ada beberapa yang kami ajak tapi diam aja. Ya sudahlah, ya. Saya memilih turun karena diam di kereta yang mogok tuh bawaannya mual loh di perut. Sama seperti saat naik bus yang mogok. Duh, mana turunnya susah. Jadi ya, pintu gerbong yang dekat peron tuh terkunci. Jadi kami lewat pintu sebelah yang tentu saja harus ekstra hati-hati karena tinggi banget. 

Saya lupa juga berapa orang yang turun. Mungkin sekitar tujuh atau delapan orang. Setelah melewati tanah berilalang yang bikin kaki gatal, kami sampai deh di pemukiman. Saya sempat menengok lagi ke arah kereta yang mogok tadi. Orang-orang masih duduk setia di gerbong depan.

“Duile, pada sabar-sabar amat. Tapi kok ….” Kemudian teman-teman lain memanggil saya. Ngacir lah, daripada ditinggal.

Lewat jalan-jalan kecil, mungkin sekitar 100 meter, akhirnya ketemu juga sama jalan raya. Kami melanjutkan perjalanan naik angkutan kota ke arah Bogor. Sampai di kota, baru deh berpisah dan melanjutkan dengan angkot lain. 

Kenangan Nggak Terlupakan Saat Commuterline Mogok

Besok paginya, saya baru ingat buat mengingat. Eh, apa sih bahasanya ruwet begini. Maksudnya, karena malam itu terlalu capek, saya nggak ingat kami turun darurat di stasiun mana. Pagi harinya saya baru kepikiran.

Pertama, waktu kami turun lewat pintu di sisi kiri, yang menjauhi arah peron. Kok rasanya saya nggak melewati jalur kereta di sebelahnya. Kami langsung jalan melewati tanah penuh ilalang. Jalur kereta satu lagi, di mana? Kan seharusnya ada dua jalur. Kok semalam cuma satu? Okay, mungkin karena semalam semuanya pengen buruan pulang, termasuk saya, jadi nggak ngeh kaki saya sempat menginjak rel kereta atau nggak. 

Rada aneh juga sih, dalam kurun waktu satu jam itu kok nggak ada kereta lain yang melintas, ya. Tapi mau melintas lewat mana, lah wong jalur keretanya cuma ada satu. Nah tuh kan, balik lagi jadinya.

Kedua, kami udah melewati Stasiun Cilebut menuju Stasiun Bogor. Seingat saya di jalur ini tuh jarak antara jalur kereta dengan bangunan di kiri kanan lumayan deket. Kok kami sempat lewat sawah nggak terurus penuh ilalang itu, ya? Mmm … Mungkin memang ada sawah, sih. Kali aja saya yang lupa, ya. 

Ketiga, semalam kereta mogok di sebuah stasiun. Padahal kami udah melewati Stasiun Cilebut. Kan nggak ada stasiun lain di antara Stasiun Cilebut dan Stasiun Bogor. Lantas, malam itu mogok di stasiun apa? Masa iya, ada stasiun bayangan? Oups. 

Wah, tiba-tiba saya ingat pemandangan lain waktu malam itu menengok ke arah kereta untuk terakhir kalinya, sebelum masuk ke arah pemukiman. Beberapa penumpang yang saat itu satu gerbong dengan saya di gerbong depan, masih duduk di sana. Lampu masih terang benderang. Tapi anehnya, gerbong kedua hingga ke belakang gelap gulita. Apa mungkin malam itu kereta hanya membawa penumpang di gerbong depan?

Benar atau bukan, ternyata saya pernah mengalami peristiwa misterius di commuterline. Alhamdulillah ya, saya ikut teman-teman turun malam itu. Kalau nggak?

Kamu pernah mengalami peristiwa misterius juga, nggak? Berani cerita? Hayukkk … Ngumpul di sini.

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

51 comments found

  1. Huaaa itu kejadian tahun berapa sih yang berasa aneh? Koq saya merasa merinding membacanya, Mbak Mel? Serem ya pas diingat-ingat unuk mengingat? Eh … ketularan bahasanya wkwkwk.

    Tapi beneran, serem, lho. Pas jalan itu nggak merinding? Terus yakin yang ditemenin jalan itu orang semua? Bukan orang-orangan?

    Hiii kabur ah.

  2. Tuh kan, aku baca thread Twitter waktu ini tentang stasiun bayangan KRL Commuterline..dan lanjut baca ini. Berarti memang ada ya…hiiiii. Aku kok jadi hepi Mbak Mel ikut turun, coba kalau enggak. Duh, tuh kereta sebenarnya beneran kagak ya
    Btw, aku jarang naik commuterline karena memang warga Jakarta (duh gayaaaa hahah) Tapi kalau jalur TransJakarta aku mayan tahu sih jalurnya. Karena deket rumah ada halte feeder-nya. Kalau stasiun KA memang jauuuh

  3. Alhamdulillah, nggak pernah ngalamin. Dan naik comuterline saja baru sekali. Itu pun nyobain dari bekasi ke stasiun kota. Pingin ngerasain yang namanya naik krl. Ha. Ha. Ha. Padahal tinggal di bekasi dan bogor udah 15tahun . Baru sekali naik krl.

  4. setelah jadi cerita, pasti para pembaca mbak Mel koment : seru nih..serem.. Saya juga bilang begitu… Padahal pas kejadian pasti mbak Mel ngerasa bete ya? Capek, harus jalan jauh, ngelewatin daerah yg asing dng orang2 yang asing pula. Mana keburu laper haus pengen cepet pulang…hehehee

    1. Commuterline sekarang sepi sih, Mbak. Banyak karyawan yang kerja dari rumah. Hari tertentu ya bisa rame juga. Tapi kan memang nggak semua karyawan berangkat setiap hari.

  5. Alhamdulillah klo naik commuter line masih normal-normal aja, serem juga sih klo ngalamin kayak gitu apalagi banyak cerita misterius soal kereta api, jadi klo naik kereta mending pilih jam aman normal aja deh heheee

  6. Saya termasuk pengguna setia KRL. Kerja di Kalibata dekat dengan stasiun, saya memilih naik kereta dari stasiun Sukabumi – Bogor – Kalibata. Sampai-sampai rute Bogor-Jakarta KOta hafal semua stasiunnya

  7. Untung bacanya nggak pas malam banget, haddegh hehe.

    Kalau pas mogok pernah kak Mel. Mogoknya di antara stasiun klender dan stasiun jatinegara, daku pulang dari praktek kuliah siang hari sih, jadilah daku lompat yang dibantuin bapak-bapak. Nggak menyangka itu tinggi banget yak antara kereta ama rel. Setinggi badan daku, haha. Mana nggak ada peron. Eh ada emak-emak lagi hamil besar mau minta dibantuin lompat juga kek daku, langsung itu bapak ngomel, “ibu, inget..ibu lagi hamil. Adek ini mah masih muda” haha

    1. Emang loh, gerbong tuh tinggi banget ya aslinya. Mau lompat pun kadang takut kakiku keseleo, wkwkwk …

      Ibu-ibu itu mungkin lupa kalau lagi hamil. Dia semangat lihat Mbak Fenny lompat duluan, wkwkwk …

  8. Wah terima kasih kak artikel ulasannya seketika jadi ingat transformasi krl dulu yang jadul lalu berubah jadi commuter line saat ini penuh pro kontra di awal tapi kesini nya makin bisa adaptasi

  9. ya ampun fotonya aku ngalamin tuh pas masih kuliah, naik KRL yang penuh sesak dan sampe ada yang naik di atap kereta serem banget deh, belum lagi banyak pengemis, banyak copet pula, sekarang udah jauuuuuuuuuuuuuuuhh lebih baik sih menurutku

  10. Tahun 2002 masih ke rumah dosen, Mel? Uhuuuu…aku merasa tua 😀 Eh, tahun segitu aku tinggal di kawasan Bojonggede, loh. Dan baru melahirkan anak pertama :))

  11. berarti temennya naik dr stasiun beji di depok dong ya mba?????
    ah aku juga pernah naik commuter line. pas naik nya itu beneran perjuangan lah mba klo lg jam sibuk. Beda banget sama di jepang. monmaap ini kok malah ngebandingin sama jepang coba. hahaha….soalnya aku di medan gapernah naika kereta api ,yg ada naik kereta yg jlnnya gk di rel mba aka. motor

    1. Huaaa … Kita mah beneran telat ya, Mbak. Transportasi publik kalau dibandingkan negara-negara maju jelas masih beda jauh. Tapi saat ini sudah lebih baik sih daripada sebelumnya. Moga ke depan bisa secanggih Jepang juga, ya. Aamiin.

  12. Wah, rada-rada spooky ini ya. Kalo anaknya percaya mistis, ini pasti tulisannya dibuat semistis mungkin. Atau kalo penulis cerita, udah jadi ide nulis cerpen horor deh. Aku mah gak mau ah punya pengalaman mistis. Aku penakuuut 😀

  13. Salam dari sesama roker
    Aku nggak sukanya KRL ga jujur kalau ada gangguan
    Pernah sekali listrik atasnya meledak, kalau doi jujur perbaikan butuh waktu lebih dari 1 jam kan orang bisa turun dan cari alternatif lain

  14. Waduh…. Kok jadinya horor… Beneran itu Mbak? Serius bikin bergidik lho.
    Tapi kalau kejadian kayak gitu saya lebih banyak denialnya. Agar langsung lupa. Males kepikiran yang aneh-aneh.

  15. yampuun mba horor amat, tapi emang katanya banyak kejadian horor di kereta kalau malam-malam ya. saya jadi takut kalau naik kereta sendiri haha. selama ini kalau naik kereta pasti ada temennya sih, gak berani juga. duh Alhamdulillah selamat ya mba meski bertanya2 itu stasiun apa, hehe.

    1. Saya sering sih naik kereta tengah malam. Kalau sedang capek banget, wis nggak kepikiran apa-apa. Pokoknya, segera pulang sampai rumah. Di kereta paling juga tidur, wkwkwk …

  16. Bacanya ngakak banget tp kasian tp ngakak soalnya pengalamannya hampir2 samaaa wkwkwkwk. Pernah keberangkatan malam jadi kosong gerbong sungguh heran krn kebiasa ramai. Pernah juga tidur dr jatinegara sampai bogor kali yaa enaknbgt bangun2 dah banyak orang WKWKKWKWKW. Eh tp aku aku blm bisa tidur sambil berdiri, skill ini hrs segera aku pelajari

    1. Jadi iba atau gimana ini? Hahaha …

      Wah iya, sebagai angker, kudu banget menguasai tidur sambil berdiri. Awalnya mungkin goyang-goyang, lama-lama kaki kita bisa seimbang kok, wkwkwk …

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.