Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Membiasakan Ngemil Bijak di Dalam Keluarga

Membiasakan Ngemil Bijak di Dalam Keluarga

Sejak kecil, di rumah saya dijuluki ‘telo ketigo’. Ini karena saya tergolong anak yang doyan makan. Makanan apapun dilahap. Memang sih, lidah dan perut saya nih gampangan banget. Nggak nyusahin, hihihi

Tahu nggak, ‘telo ketigo’ itu apa? Jadi, orang Jawa menyebut musim kemarau itu sebagai musim ketigo. Telo sendiri punya arti ubi/singkong. Gimana coba tanaman ubi/singkong saat kemarau panjang. Tertancap di tanah yang retak-retak, mangap gitu, kan? Nah, tanaman ubi/singkong disiram air sebanyak apapun, kalau tanahnya kering dan terbuka, nggak akan bisa tertancap di tanah yang merapat. Demikian juga perut saya. Diisi makanan terus, tanpa nggak kunjung kenyang. 

Loh, memangnya saya nggak khawatir ya bakal mengalami kenaikan berat badan? Perempuan kan biasanya begitu. No, no, no. Dulu saya malah pernah menghabiskan uang banyak banget demi menaikkan berat badan. Nominal yang sekarang kerap saya sesali. 

Kekhawatiran Lain yang Mengintai Saat Doyan Ngemil

Saya tergolong orang yang kalau sudah sibuk bekerja, jadi lupa segala-galanya. Terutama lupa minum dan mengistirahatkan mata. Makanya, saya terbiasa menyediakan camilan, sering ngemil, agar merasa sering haus. Kalau haus kan jadi ingat minum, tuh.

Lama-lama, bukan soal biar lekas haus nih, tapi jadi candu. Malah saya kerap bercanda, “Tuhan menciptakan gigi kan buat mengunyah. Ya anggap saja ini bagian dari mensyukuri nikmat dari-Nya.”

Duh, jangan ditiru, ya. Nggak begini juga kali. 

Tapi ya itu, rasanya gigi malah pegal kalau nggak dipakai mengunyah. Mau makanan manis, gurih, asem, semua saya suka. Beberapa tahun terakhir, saya malah susah melepaskan diri dari ngemil aneka biskuit dan roti. Tentu saja dengan berbagai isi yang rata-rata manis. Saya bisa makan berat dengan porsi secukupnya saja. Tapi kalau ngemil, selama masih ada stok – apalagi di depan mata, hayuk kunyah terus.

Jauh di dalam hati, saya khawatir juga dengan kebiasaan doyan ngemil ini. Resiko kegemukan memang sepertinya nggak ada, tapi kekhawatiran akan resiko lain senantiasa mengintai. Apa, tuh?

Bapak saya punya riwayat gangguan jantung, hipertensi, dan diabetes. Bahkan beliau rutin mengonsumsi obat dan harus bertemu dokter setiap dua minggu untuk memeriksakan diri. Sejak jaman sekolah, saya mendapatkan informasi bahwa penyakit diabetes itu bersifat genetik dan menyilang. Waduh, saya beresiko dong. Saya nggak tahu sih apakah nenek saya dulunya juga penderita diabetes makanya menurunkan silang ke bapak.

Saya tahunya bapak saya itu sangat doyan banget ngemil. Bawaannya gelisah kalau nggak camilan. Ternyata kebiasaan ngemil pun bersifat genetik, loh.

Source: MondelezXIIDN

Setelah mencari referensi dari beberapa sumber, ternyata diabetes diturunkan menyilang adalah mitos semata. Wah, jadi saya nggak perlu khawatir dong, ya? 

Tapi … Ada tapinya, nih. Dengan adanya fakta bahwa diabetes diturunkan secara menyilang itu nggak benar, bukan berarti saya terbebas dari resiko diabetes juga. Dilansir dari Detik Health, ada empat (4) jenis diabetes yang harus kita waspadai, yaitu:

Diabetes Tipe 1

Umumnya diketahui sejak masih usia anak-anak, remaja, hingga dewasa muda. Diabetes tipe ini bersifat genetik. 

Menyilang atau nggak, saya tetap punya faktor resiko, kan?

Diabetes Tipe 2

Dapat terjadi pada semua usia meskipun umumnya terjadi pada saat usia dewasa. Faktor utamanya adalah gaya hidup yang nggak sehat. Kabar buruknya, ini adalah jenis diabetes dengan jumlah pasien terbanyak.

Bicara soal gaya hidup, terlalu doyan ngemil – apalagi makanan manis – termasuk gaya hidup yang buruk nggak, ya?

Diabetes Gestasional

Penyakit ini umumnya terjadi selama proses kehamilan dan akan menghilang dengan sendirinya setelah melahirkan. Tapi nggak jarang loh ada kasus diabetes jenis ini yang menetap meski sudah melahirkan.

Diabetes Tipe Lain

Diabetes jenis ini muncul karena adanya infeksi penyakit berat.

***

Saya mau tetap hidup sehat. Tapi, mungkin nggak ya hidup sehat ini saya peroleh tanpa harus mengurangi ngemil? Membayangkan mengurangi camilan, hidup kok rasanya hampa banget. Sepiii gitu kalau nggak ada suara mengunyah dari dalam mulut. 

Ada yang merasakan hal yang sama?

Ngemil Bijak dalam Keluarga by MondelezXIIDN

Di tengah kegalauan ingin tetap hidup sehat tapi sedih kalau harus mengurangi ngemil, datanglah kesempatan untuk mengikuti bertajuk “Tips dan Trik Ngemil Bijak dalam Keluarga.”

Menjadi bijaksana itu memang penting, sih. Meski kadang mesti kuat hati mendengar kalimat, “Sok bijak deh kamu.”

Eh, tapi bijak dalam ngemil memangnya ada, ya? Jadi ingat deh sama tekad mengendalikan rasa ingin ngemil saya itu. Yang terpikir oleh saya saat membaca flyer-nya, sih, begini.

“Pasti ngemilnya harus buah atau sayuran, nih. Pasti nggak boleh ngemil manis dan gurih, nih. Pasti harus gini, pasti nggak boleh gitu.”

Lah, daripada kebanyakan suudzon kayak saya di atas, yo wis lah ya, saya ikutan saja untuk membunuh rasa penasaran.

Acara bertajuk Tips dan Trik Ngemil Bijak Dalam Keluarga ini diselenggarakan oleh Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) bekerjasama dengan Mondelez International yang diadakan melalui zoom. Sewaktu acara dimulai dan ternyata pesertanya banyak banget, waktu itu saya sempat nyeletuk dalam hati, “Tuh kan, orang yang doyan ngemil banyak banget.”

Sok tahu ya, tapi kemudian saya mencoba berpikir lebih positif, “Bukan saya saja yang penasaran sama maksudnya ngemil bijak.”

Asyik, asyik, banyak temannya. Hihihi, kadang suka gitu, sih. Jadi lebih semangat kalau ada temannya, hihihi … 

 

Source: IIDN

Acara tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu:

  1. Tara De Thouars, seorang Psikolog Klinis.
  2. Khrisma Fitriasari selaku Head of Corporate Communication dari Mondelez Indonesia; dan
  3. Alfa Kurnia, selaku Ketua Divisi Blog IIDN
  4.  

Siapa yang suka ngemil dan siapa yang nggak suka ngemil?

Sudah pasti nih, bakal lebih banyak jari teracung untuk menjawab pertanyaan pertama. Lah, gimana dong? Ngemil itu kegiatan mengasyikkan, kok. Bisa bikin hati gembira, memperbaiki suasana hati yang tengah kacau, dan menciptakan mood yang baik.

Ngemil buat mengeyangkan? Lupakan! Yang namanya ngemil kan bukan buat mengenyangkan. Kalau lapar, ya makan berat saja dong. Gitu deh, suara hati saya.

Bagi saya pribadi, ngemil adalah teman setia di segala suasana. Mau diajak sambil bekerja oke, sambil menonton film hayuk, sambil ngobrol bareng teman atau keluarga boleh juga, apalagi diajak menikmati pemandangan saat tengah jalan-jalan, wuih … setiaaa banget. 

Tapi … Eits, eits … Itu tadi sebatas suara hati saya, sih. Memang benar begitu atau gimana?

Nah, Tara De Thouars buka suara, nih. Membuat pemahaman yang tepat dulu tentang tujuan ngemil itu sendiri. 

Ngemil memang kegiatan makan ringan di antara waktu makan berat. Tapi dalam rangka apa, nih? Yang namanya makan, sebenarnya tujuannya adalah memenuhi kebutuhan dari dalam perut. Ada sinyal bernama lapar yang membuat kita ingin menuntaskannya dengan cara makan, termasuk ngemil.

Pasti merasakan dong ya kalau di waktu-waktu antara usai sarapan ke makan siang atau usai makan siang ke makan malam, kita suka ingin makan apaaa gitu.

 

Source: MondelezXIIDN

Nah, ternyata ya selama ini kita tuh suka salah memahami si sinyal ini. Ini nih beberapa sinyal yang salah kaprah:

  1. Sedang jalan-jalan di mall, lubang hidung kita mencium aroma wangi menggoda dari arah sebuah toko roti. Hmmm, harum banget. Kayaknya enak, tuh. Beli, ah. Bilangnya auto lapar karena mencium aroma wangi begini.
  2.  
  3. Ada di acara ulang tahun teman, makanan berlimpah. Sudah cemal-cemil ini dan itu. Begitu ada yang membawa nampan berisi kue-kue lagi, mata langsung kedap-kedip. Ya ampuun, kuenya lucu-lucu banget. Kayaknya manis dan lembut gitu, bikin lapar deh. Makan lagi, ahhh …
  4.  
  5. Sedang asyik bekerja, lalu terdengar suara entah dari mana. Tengok kanan kiri, nggak ada orang. Olala, ternyata itu suara dari dalam perut. Lapar, euy. Baiklah … Mulai buka lemari, cari-cari stoples ada cemilan apa. Ketemu, mulai ngemil deh.
  6.  

Disampaikan oleh Tara De Thouars, bahwa Tuhan sudah menciptakan organ tubuh sesuai fungsinya. Kita kerap lupa nih bahwa ngemil merupakan aktivitas makan dan sinyal lapar untuk makan datang dari perut.

Jadi, siapa hayo yang suka kepengen ngemil gara-gara hidungnya mengendus aroma wangi makanan atau mata yang tergoda sama cantiknya penampilan makanan? Sudah, ngaku saja. Sini baris rapi bareng saya.

Peran Ibu dalam Membentuk Kebiasaan di Rumah

Sebagai ibu, ternyata saya punya peran besar dalam membentuk kebiasaan ngemil bijak di dalam keluarga. Iya sih, memastikan anggota keluarga tercukupi nutrisinya kan memang menjadi tanggungjawab seorang ibu. Makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut harus menjadi perhatian. Nggak harus mahal, yang penting bergizi.

Kalau anak sehat, pasti akan mempengaruhi konsentrasinya saat belajar. Makanya, anak kudu makan banyak. Saya suka bilang sama anak-anak, “Kayak Mama nih, makannya gampang. Sayuran apa aja suka.”

Maksudnya sih memberi contoh buat mereka. Oups, kok saya tiba-tiba ingat kalau suka memberi contoh doyan ngemil juga?

Menjadi ibu juga harus berjibaku dengan pendapat orang-orang di sekitar. Suka risih dengan pandangan atau celetukan orang yang suka iseng, “Anaknya kok kurus banget? Makannya dikit, ya? Gizinya cukup nggak, tuh?”

Padahal saya juga kurus. Ya wajar sih kalau anak-anak saya nggak ada yang bertubuh gemuk.

Membahas soal ngemil bijak, ternyata waktu saat makanan ke dalam perut juga harus diperhatikan, loh.

Eh, maksudnya jangan sering-sering gitu? Asyiiik … Bisa ngirit. Maklum ya, selama school from home biaya dapur membengkak karena seisi rumah kegiatannya makan melulu. Eh loh, malah curhat. 

Langkah-Langkah Menerapkan Ngemil Bijak

Menurut Tara De Thouars, pada dasarnya semua jenis cemilan itu baik. Menjadi nggak baik apabila jumlah berlebihan. Segala sesuatu jika berlebihan memang nggak baik, kan?

Hore! Berarti bebas dong ngemil cokelat, roti dan aneka keripik? Yes!

Nah, ngemil pun demikian. Secukupnya saja, jangan berlebihan. Psikolog klinis yang cantik ini menyebutnya dengan istilah Ngemil Bijak atau Snacking Right. Seperti apa, sih? 

Source: MondelezXIIDN

Ada langkah-langkah penting yang harus diperhatikan sebelum kita mulai makan dan ngemil secara bijak. Kita menyebutnya dengan ‘5 Steps to Eat and Snack Right’, ya.

Pertama; Cek Sinyal Tubuh

Kita perlu menanyakan kepada diri sendiri keinginan ngemil datang karena benar-benar lapar atau nggak. Ingat kan, kadang kita ingin ngemil hanya gara-gara mencium aroma wangi makanan atau melihat penampilan makanan yang cantik atau lucu. Jangan sampai kita memutuskan ngemil hanya karena dua alasan emosional tersebut. Kalau lapar datang dari perut, nah ini baru baru benar, lapar secara fisik.

Kedua; Relaksasi

Kelihatannya ribet banget. Masa mau ngemil aja mesti relaksasi dulu. Seperti sedang punya masalah hidup yang besaaar gitu supaya nggak salah ambil keputusan.

Loh, tadi siapa yang merasa khawatir ya terlalu doyan ngemil bakal kena diabetes? Jewer kuping sendiri jadinya.

Relaksasinya sebenarnya mudah saja. Tarik napas, hembuskan. Inhale, exhale. Ulangi tiga hingga empat kali sampai faktor keinginan karena alasan emosi tadi turun. Lalu setelahnya kita bisa berpikir dengan logika sehat apakah ngemil di saat ini memang benar sebagai keputusan terbaik.

Ingat gula, ingat kalori, ingat diabetes.

Ketiga; Mindful Eating and Snacking

Istilah mindfulness tuh nggak aneh di kepala saya, meskipun kalau diminta menjelaskan ya njelimet juga karena aslinya nggak benar-benar paham.

Nah, soal mindfulness ini juga bisa diterapkan loh dalam rangka menjalankan ‘5 Steps to Eat and Snack Right’. Caranya mudah meski di awal, pembiasaannya nanti butuh perjuangan. Kita praktek yuk, sekarang siapkan dulu ya camilan kamu.

Lalu, mulai fungsikan lima indera kita mulai dari mata, hidung, tangan, mulut, dan telinga. Selanjutnya, yuk, ikuti langkah-langkah mindful eating and snacking di bawah ini:

Source: MondelezXIIDN

Keempat; Tunggu Sebentar

Pada kebiasaan ngemil sehari-hari, apa sih yang biasa dilakukan saat makanan sudah masuk ke dalam mulut, dikunyah, lalu sukses turun ke perut? Ya nambah lagi lah, kan persediaan masih banyak. Aih, ini suara hati kok ya jujur amat?

Kebiasaan tersebut nggak berlaku ya dalam ‘5 Steps to Eat and Snack Right’. Kita perlu menyediakan waktu tunggu selama 15-20 menit. Kok lama sekali? Sabaaar … Ingat nggak, dalam hidup kita tuh perlu loh sesekali berhenti tanpa melakukan apa-apa. Gunanya apa? Untuk memikirkan ulang, mengevaluasi diri, dan memastikan bahwa apa yang telah kita jalani memang tepat adanya. Ya, nggak?

Dalam ngemil pun ternyata berlaku demikian. Benar nggak sih langkah kita ngemil tadi? Apa yang kita rasakan sekarang? Ada yang kurang kah? Atau sudah merasa cukup?

Kelima; Bersyukur

Setuju dong bahwa rasa syukur akan membuat apapun yang kita terima akan menjadi begitu berharga dan kemudian menjadi berkah. Sulit bersyukur, rezeki dalam bentuk apapun dan sebesar apapun senantiasa akan terasa kurang.

Demikian pula dengan camilan yang sudah masuk ke dalam mulut. Rasa syukur akan senantiasa membuat kita merasa cukup. Sudah, nggak ingin menambah lagi. Kita mau menunggu beberapa waktu ke depan untuk melakukan kegiatan ngemil yang berikutnya.

Menerapkan Ngemil Bijak dalam Keluarga, Sudah Siap?

MasyaAllah … Indahnya hidup kalau bisa begini. Di awal, tentunya ‘5 Steps to Eat and Snack Right’ ini terasa ribet banget buat saya. Apalagi dalam diri saya, faktor emosi itu bukan hanya karena mencium aroma wangi makanan atau melihat penampilan makanan yang unyu-unyu. Rasa ingin mengunyah ini yang susah dilawan. Nggak kenyang, nggak masalah. Pokoknya cuma kepengen ngunyah. 

Menjadi ibu yang harus menjadi role model bagi anggota keluarga, saya tentunya ingin memberikan contoh baik bagi mereka. Apalagi dengan kenyataan bahwa anak-anak saya pun sangat doyan ngemil, terutama cemilan manis seperti cokelat, biskuit, roti, dan es krim. Apa jadinya hidup mereka ke depan kalau saya masih bertahan dengan kebiasaan hidup saat ini?

Seketika benak saya terlempar ke Diabetes Tipe 2 yang banyak terjadi karena gaya hidup nggak sehat. Duh, jangan …

 

Saat melakukan Ngemil Bijak, sesungguhnya saya dan anak-anak nggak merasa sengsara juga. Kami masih bisa menikmati camilan biskuit dan cokelat kesukaan tanpa merasa khawatir. Menurut Khrisma Fitriasari, cemilan yang diproduksi oleh Mondelez pun masuk dalam kategori menyehatkan karena komposisinya sudah diatur sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan cemilan kita.

Dengan menerapkan ‘5 Steps to Eat and Snack Right’ tentunya saya berharap kami semua selalu dalam keadaan sehat lahir dan batin. Sehat secara fisik dan menjadi pribadi yang senantiasa merasa cukup. Ini erat sekali kaitannya sih menurut saya.

Satu lagi, resiko diabetes yang selama ini membayangi, bisa saya tepis jauh-jauh dengan kebiasaan baru yang lebih sehat ini. Doakan, ya.

Salam,

Melina Sekarsari

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Ngemil Bijak  yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis”

75 comments found

  1. saya juga suka ngemil, apa aja masuk, kayak mbaknya,
    tapi saya lebih prefer ke makanan asin, walau manis juga suka.
    resikonya mengarah ke hipertensi. Saya sendiri sudah mengidap hipertensi nih, dan penyakit turunan diabetes juga ada…
    Moga-moga saya selalu diberi kesehatan, aaamiiin ya Allah

  2. Dengan hidup bisa ngemil secara bijak pasti akan menghemat keuangan dan terhindar dari diabetes atau kelebihan berat badan..Karena dengan itu keluarga tetap sehat jiwa raga dan ekonomi juga

  3. Ngemil bijak ini penting, apalagi kalau camilannya produk Mondelez, duuhh susah berhentinya mah itu 😀

    enyak-enyak, dan lucunya baru ngeh loh beberapa produknya yang sering kami konsumsi ternuyata produk mondelez, saking tiap kali ngemil asal aja 😀

  4. Saya juga suka ngemil mbak Dan makan banyak mbak tapi entah kenapa saya gak gemuk2 hehe Dan saya akan mencontoh tips bijak nyemil darimu mbak, biar terhindar dari penyakit. Aamiin

  5. Alangkah bahagianya kalau aku bisa jadi Telo Ketigo jugaaa…
    Aku setelah punya anak, jadi mudah sekali naik BB dan susah turunnya, macam harga BBM aja gitu..
    Kucedillaa~

    Harus banget menerapkan ngemil bijak, agar tubuh sehat dengan BB seimbang.

    1. Tapi nggak gemuk bukan berarti sehat, Teh. Badan suka sakit-sakit juga. Apalagi kalau kejedut, eehhh ini mah sakit luar biasa.

      Hayuk atuh, bareng-bareng kita mulai #NgemilBijak

  6. Uwoo..ternyata ngemil pun mesti bijak ya. Apalagi kalau ngikutin “5 Steps to Eat and Snack Right”
    Aku sama kayak Mbak Mel, meski enggak sesusah Mbak Mel buat gemuk, tapi berat badan sih cenderung stabil. Tapi ga boleh santuy juga kan ya. Apalagi sebagai ibu jadi teladan buat anak-anaknya termasuk soal ngemil ini.
    Baiklah..mesti dicoba diikuti nih cara ngemil yang bijak biar sehat diri dan keluarga

    1. Nggak heran anak-anakku ngemil mulu. Ternyata akunya heboh, hihihi …

      Ayo, Mbak … Semangat memulai … Awalnya agak ribet, tapi lama kelamaan enak. Ngemil sekeping dua keping biskuit jadi cukup.

  7. Semoga mbak sekeluarga jauh dari diabetes ya. Ngemil kalo bijak malah akan bermanfaat, tapi kalo bablas ini yang serem. Semoga kita semua bisa ngemil dengan lebih bijak lagi.

  8. Sejak salah satu anak saya didiagnosis autisme, saya sekeluarga, bahkan keluarga besar benar-benar harus ngemil bijak. Gak boleh bawa sembarang makanan, makanin sembarang makanan yang potensial mengundang si kecil pengen nyoba. Sebab anak saya pantangannya banyak banget. Jadinya hidup benar-benar lebih sehat beberapa bulan terakhir.

    1. Yang saya dengar autisme memang harus sangat dijaga asupan makanannya, Uni. Tapi dengan dukungan keluarga, InsyaAllah pola makan baru untuk ananda bisa dijalani dengan lancar, yaaa. Pembiasaan dari keluarga dan saling mendukung itu penting banget. Sehat-sehat ya, Kakak Mae dan duo kembar.

  9. Jadi inget kalo aku orangnya cukup selektif ngasih cemilan ke anakku. Secara dia masih 9 bulan, jadi ga aku kasih yang mengandung penyedap, tinggi gula dan garam. Pada akhirnya orang-orang nyinyirin kebiasaanku ini. Katanya kalo terlalu ini ga boleh, itu ga boleh, jadinya anak akan susah makan. Wadawww, gimana dong? Ada tips, mbak?

    1. Sebenarnya kalau masih bayi memang bagusnya begitu kan, ya? Agar lidahnya terbiasa dengan rasa asli makanan. Terlalu banyak bumbu memang bikin ketagihan. Di kepala juga pusing kan, ya?

  10. Wah harus memperhatikan sinyal tubuh ya, beneran emang pingin ngemil atau cuma bad mood yahh… mengetahui banyak kenalan terkena penyakit diabetes karena kelebihan konsumsi gula cukup mengkhawatirkan ya

  11. Suka banget sama yang Mindful Eating and Snacking nya Mba Melina… jd bener2 kl mau ngemil itu dengan memfungsikan 5 indera ya, gak sembarang comot aja tanpa mikir hehe…. tfs Mba

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.