Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Mengoptimalkan Blogging yang Selaras dengan Kebersamaan dalam Keluarga

Mengoptimalkan Blogging yang Selaras dengan Kebersamaan dalam Keluarga

“Iya, saya hepi kerja di sini. Kalau nggak, buat apa bertahan selama ini? Gimana pun, saya harus mengundurkan diri. Berat, sih. Tapi saya harus. Ada yang harus saya urus. Selain itu, ini bukan dunia saya.”

Hampir tiga tahun sejak mengundurkan diri dari perusahaan. Saya mengisinya dengan bekerja dari rumah, mendampingi anak-anak, dan menggeluti dunia blogging. Mengisi blog yang sudah susah payah dibuatkan seorang teman di tahun 2013 lalu dan sampai sekarang saya nggak pernah diminta bayar. Gratis selama dia masih hidup, katanya. Kurang apa, coba?

Sudah menghasilkan uang, dong?

Alhamdulillah, sudah. Meskipun mungkin belum sebanyak teman-teman blogger senior.

Sudah menikmati dunia blogging ini dong, ya.

Saya menikmati banget. Apalagi mendapati tulisan lama saya ternyata masih ada yang baca. Tapi ya gitu, kadang suka merasa bersalah.

Merasa bersalah gimana?

Iya, suka merasa bersalah sama anak-anak. Dunia blogging dan kawan-kawan tuh ibarat ‘me time’ di tengah cenut-cenut kepala memandangi chart saham. Keasyikan nge-blog bikin waktu saya bareng anak-anak berkurang banyak. Menulis tuh nggak sekejap jadi, kan?

Terus maunya gimana?

Mungkin nggak ya, dunia blogging bikin kebersamaan bareng anak-anak tetap terjaga? Bisakah dunia blogging selaras dengan kebersamaan bareng keluarga?

Pernahkah Bercita-cita Jadi Blogger?

Saya bukan penganut hepi menghasilkan uang dari rumah hanya dengan dasteran. Alasannya karena memang nggak ada daster di dalam lemari pakaian saya. Kostum perdasteran selesai saat anak-anak bukan menjadi bayi lagi.

Tapi poin bisa menghasilkan uang dari rumahnya sih mau banget. Beda kostum aja paling, ya. Sekarang oke, dulu ya nggak pernah terpikir.

Polwan dan Pelukis

Setelah melepaskan cita-cita pertama menjadi polwan dengan alasan takut kulitnya hitam – padahal kulit asli saya memang gelap – datang cita-cita selanjutnya. Ingin menjadi pelukis yang terkenal seperti Basuki Abdullah dan Affandi. Maunya punya galeri pribadi. Saat saya membuka pameran, semua orang penting datang. Wajah saya nanti ada di mana-mana. Di koran, di majalah, dan di televisi. Nyeni dan terkenal.

Cita-cita ini saya kubur setelah bapak saya bilang, nggak semua pelukis bisa seterkenal mereka berdua. Bidang seni tampaknya belum menjadi bidang kebanggaan orangtua saya kala itu.

 

Ilmuwan.

Beranjak SD, saya ingin menjadi ilmuwan. Saya menyukai sosok Marie Curie. Nama ini saya temukan dalam sebuah ensiklopedia usang yang dibelikan bapak. Jenius dan terkenal.

Cita-cita menjadi ilmuwan runtuh saat saya tahu Marie Curie wafat setelah terpapar radiasi selama proses penelitiannya. Pintar, terkenal, tapi mati. Nggak mau, ah.

Pemikiran anak kelas satu SD yang begitu sederhana. Saat itu saya memang belum pernah mendengar kabar kematian dari tetangga atau keluarga. 

Pembaca Berita (News Anchor)

Setahun setelah pindah ke Tangerang, televisi di rumah kami disemarakkan dengan program Seputar Indonesia. Kebiasaan saya berbicara sendiri di depan cermin semakin menjadi ketika melihat Desi Anwar membacakan berita. Selain Desi Anwar, saya juga mengidolakan Dana Iswara. Perempuan, cerdas, dan terkenal.

Sejak itu, saya nggak suka lagi membaca buku di dalam hati. Selalu membaca sambil bersuara, dengan irama selayaknya pembaca berita. 

Arsitek

Tanpa mematikan cita-cita menjadi pembaca berita, saya menginginkan cita-cita lain. Menjadi arsitek agar bisa mendesain rumah yang bagus. Sama sih, maunya jadi arsitek yang hebat dan terkenal

Dari semua cita-cita itu, ada kata kunci terkenal semua. Fix, sejak kecil saya sudah bermimpi jadi orang beken.

Pencapaian Selama di Rumah

Masih terbayang paniknya saya di Oktober 2017 lalu. Sampai kemudian mendesak perusahaan agar saya bisa segera menyelesaikan masa tugas hingga akhir 2017 saja. Menyampaikan alasan sesungguhnya pun saya nggak sanggup.

Iya, selain kalimat klise tentang ‘bukan dunia saya tadi’, sesungguhnya alasan saya mengundurkan diri adalah keluarga. Anak, tepatnya. 

Tapi ternyata saya, kami, bisa menjalaninya. Apa yang saya lakukan saat itu?

Mengikuti anjuran dari konsultan STIFIn di sekolah, kami mengikuti program-program yang diberikan. Ada perjalanan bersama, bercerita tentang konsep keluarga, dan betapa dia lahir dan tumbuh dengan cinta.

Ini seperti membayar utang waktu dan momen kebersamaan yang hilang saat saya sibuk bekerja. Menjadi ibu bekerja yang waktunya lebih banyak dihabiskan di kantor dan perjalanan, ternyata harus saya bayar dengan mahal.

Enam bulan, rasa percaya diri dan keceriaan itu kembali. Meski bukan menjadi poin utama target saya, tapi mendapati nilai-nilai akademis putra sulung melesat, jelas saya semakin bahagia. 

Berbeda kasus, tahun berikutnya, saya kembali harus membayar utang dan momen kebersamaan. Kali ini bersama putri bungsu. Usaha yang dilakukan jauh lebih besar. Berdiskusi dengan guru, kepala sekolah, terapis, dan psikolog di sekolah. 

Saya mengawalinya dengan menyamakan kedudukan mata saat berbicara dengannya, memenggal kata demi kata, mengajaknya mendengar lebih banyak dan memintanya bercerita ulang, dan latihan membaca dan menulis banyak-banyak. Saya juga membuka mulut lebar-lebar saat berbicara. Membiarkannya melihat perbedaan bentuk mulut saya saat mengucapkan kata-kata. 

Tahun kedua, putri bungsu saya sudah bisa lebih fokus dari sisi audionya. Kata atau huruf yang terbolak-balik, saat ini masih coba kami selesaikan bersama. 

Kesungguhan; Faktor Kesuksesan yang Kerap Terabaikan

Saya lupa kapan pertama kali mengenal mantra ‘Man Jadda Wa Jadda,’ siapa bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. Pastinya, mantra itu saya kenal pertama kali saat membaca novel Negeri Lima Menara karya A. Fuadi.

Mendampingi putra-putri dalam segala ujian yang datang kepada saya sebagai orangtua, saya bisa. Kenapa? Jawabannya, karena saya bersungguh-sungguh mengupayakannya.

Kalau di dunia blogging, gimana?

Rasa-rasanya belum. Saya hanya menulis saat memang ada yang ingin saya tulis atau harus saya tulis. 

Sebagai ibu bekerja, terkadang saya merasa blogging mencuri waktu saya bersama anak-anak. Sudahlah seharian bekerja, nanti masih ditambah dengan menjawab pesan-pesan dari klien yang datangnya nggak kenal waktu, ikut kelas online di sana-sini, eh masih ditinggal juga untuk mengisi blog.

Mungkin nggak sih, dunia blogging berjalan selaras dengan kebersamaan saya bersama anak-anak? Bisa nggak sih, saya bebas menceritakan perjalanan keluarga kecil kami tanpa cuma saya yang jadi tokoh utamanya?

Menemukan Pintu Menuju Jawaban Atas Pertanyaan

Alih-alih mencari jawaban dari ahlinya, saya malah mengajak jari dan mata jalan-jalan ke laman Facebook. Ada tulisan terbaru di grup Ibu-Ibu Doyan Nulis Interaktif. Komunitas yang biasa disingkat dengan IIDN ini akan mengadakan event Ngeblog Bareng Indosat.

Meminjam istilah dari IIDN, ini merupakan sebuah kolaborasi apik yang di dalamnya akan ada webinar series dengan tema “Mengoptimalkan Peluang Dunia Blog”. Nggak tanggung-tanggung, webinar-nya sendiri akan terdiri dari 25 episode.

Tenanan ki IIDN? Drakor kalah, dong!

Eh, soalnya drakor yang pernah saya tonton terdiri dari 16-20 episode saja. Nggak tahu ya kalau kamu.

Maka, mulailah saya mendaftar. Gelap mata, pengen ikut semua. Biasa deh, semangat membara di depan. Semoga mesin tetap panas hingga tiba di akhir tujuan.

Webinar IIDN X Indosat Ooredoo

Saya hanya mengikuti beberapa dari 25 episode yang ada karena keterbatasan waktu. Ada tiga episode yang menjadi favorit saya. Apa saja, sih? Ini dia:

1.  Youtube untuk Pemula – Webinar Episode #20 yang diisi oleh Primastuti Satrianto

Saya hanya mengenal sosok narasumber yang akrab disapa Manda ini di media sosial. Tapi episode webinarnya sangat saya tunggu. School from home membuat saya kemudian harus aktif mendorong anak-anak membuat konten sebagai sarana terapi. Putri bungsu saya harus banyak berbicara untuk melatih verbalnya. Selain itu, saya pun dibuat pusing karena school from home membuat anak-anak tidur di pukul 01.30. Tanpa tidur siang.

Sebagai orang yang dianugerahi Mesin Kecerdasan Sensing, begitu juga dengan kedua buah hati saya, tahu banget rasanya dipaksa tidur padahal belum lelah. Berdasarkan ilmu STIFIn, orang Sensing memang dianugerahi energi yang sangat besar. Tentu energi ini harus tersalurkan dengan kegiatan positif. Kami nggak boleh jadi orang yang santai. Bisa nggak tidur berhari-hari karena mesinnya masih ngebul.

Nona Kecil ikutan nonton Manda cuap-cuap. (Source: Webinar IM3OoredooXIIDN)

Biasanya berangkat dan pulang sekolah jalan kaki, masih ditambah main-main satu jam di halaman sekolah sebelum dipaksa pulang, putri bungsu saya seperti kebingungan saat pandemik begini. Putra sulung pun mondar-mandir di rumah, gelisah karena nggak ada aktivitas. Mau berkegiatan fisik, lahan rumah kami terbatas. Keluar rumah pun was-was. Saya? Seharian berjibaku dengan pekerjaan. 

Akhirnya, konsultan STIFIn di sekolah meminta saya mendorong anak-anak agar aktif membuat konten di media sosial. Selain punya energi besar, orang Sensing punya kekuatan pada kemampuan berbicara. Kenapa nggak dimanfaatkan? Dalam satu hari, saya meminjam ponsel untuk merekam sekitar lima belas menitan. Hasilnya, beberapa episode di channel Youtube sudah tayang dengan wajah kami bertiga. 

Anak-anak hepi sekali. Jam tidur mereka perlahan mulai maju. Memikirkan konten memang menguras pikiran. Akhirnya mereka bisa lelah dan mengantuk. 

Saya sempat melemparkan pertanyaan pada Manda di kolom chat dan Alhamdulillah direspon. Menurut Manda boleh-boleh saja selama belum monetisasi, nama channel kita diganti. Akhirnya nama channel yang semula adalah Melina Sekarsari, kini menjadi Melina Sekarsari – The Sensing Family

Kata Manda, kita adalah artis di channel kita sendiri. Mata saya berkerjap bahagia mendengarnya. Ternyata saya masih kepengen jadi orang terkenal.

Semangat monetisasi!

2. Public Speaking for Blogger – Webinar Episode #21 yang diisi oleh Sara Neyrizha. 

Berkat Mbak Sara, saya punya akun podcast – A Basket of Words (Sekeranjang Kata), meskipun baru ada beberapa episode saja.

Sewaktu tahu IIDN mengundang beliau untuk episode Public Speaking for Blogger, saya semakin mantap hadir di kelas ini. Saya setuju dengan pendapat Mbak Sara bahwa kemampuan public speaking penting untuk dikuasai oleh seorang blogger. 

Belajar public speaking tanpa praktek, nggak seru dong. Ini saya praktekkan sedikit dari hasil belajar di episode ini. Tersenyum itu, selain ibadah yang mudah dan murah, ternyata juga bisa membantu kita memproduksi suara yang lebih nyaman didengar, loh. Coba deh, dengerin rekaman suara saya ini. Bisa tebak bagian mana yang saya ucapkan sambil tersenyum dan mana yang nggak?

Ilmu dari Mbak Sara yang masih belum saya kuasai adalah mengatasi grogi saat berada di atas panggung. Katanya sih, kalau gugup diam saja dulu. Biarkan seluruh mata tertuju ke kita, biarkan kita menjadi pusat perhatian. Diabaikan itu nggak enak kan, ya? Makanya, saat fokus orang-orang sudah tertuju pada kita, itu kesempatan kita menarik perhatian mereka

Hmm, patut dipraktekkan. Kan cita-cita saya yang belum tercapai adalah menjadi terkenal. Uhuk!

Terus berbicara, tebarkan kalimat penuh kebermanfaatan!

5. Memenangi Lomba Blog – Webinar Episode #25 yang diisi oleh Widyanti Yuliandari

Salah satu tulisan Bu Ketu IIDN ini yang paling saya suka berjudul ‘Makin Aman Menjaga Informasi Diri dan Data Bisnis Bersama ASUS Expertbook B9450FA pada Era Internet of Things (IoT)’. Tulisan yang paragraf demi paragrafnya menciptakan tanda tanya di benak saya.

“Berapa lama tulisan ini diselesaikan?”

“Berapa banyak referensi yang dibaca?”

“Referensinya dapat darimana?”

Sebuah kesimpulan terbentuk dengan sendirinya. Penulisnya pasti banyak membaca. Saya yakin itu.

Dari Ibu Ketu, saya belajar banyak bahwa proses menulis bukan tercipta dalam sekejap mata.

Membuat draft itu penting agar tahu apa yang mau dituliskan. Kerap saya mengalami, menulis tanpa draft dan di tengah jalan saya bingung mau membawa tulisan ke arah mana karena bahasannya malah melebar.  

 

Betul kan, referensi! (Sumber: Webinar IM3OoredooXIIDN)

Pemilihan judul juga nggak kalah pentingnya. Sebenarnya buat saya ini mudah. Sering kok membaca judul bisa membuat saya memutuskan ingin membaca atau berlalu saja.

Unsur keunikan tulisan yang kita tawarkan dan pemahaman terhadap tema nggak boleh dilewatkan. Dalam sebuah sesi sharing online, Chef William Gozali bilang sebelum jualan makanan, tanya sama diri sendiri mau nggak makan makanan tersebut setidaknya dua kali dalam seminggu. Dalam bentuk tulisan, penting juga untuk bertanya pada diri sendiri. Mau nggak membaca tulisan sendiri setidaknya dua kali dalam seminggu. Kalau tulisan membosankan, pasti baru beberapa baris sudah ditinggalkan.

Juri tentu menginginkan sesuatu yang berbeda dari tulisan peserta. Sesuatu yang membuat mereka nggak terburu menekan tombol close setelah membaca opening yang kita tawarkan.

Tentunya, dengan tema yang nggak melenceng dari ketentuan. Apa gunanya tulisan bagus kalau ternyata malah fokus membahas komik padahal yang diminta adalah optimalisasi di dunia blogging? 

Dengan semangat menulis yang tengah plendap-plendup begini, bisa nggak sih mengoptimalkan peluang dunia blogging? Lalu saya teringat ucapan Teh Indari Mastuti, bahwa saat beliau jatuh dalam bisnisnya, malah menantang diri ikut berbagai lomba dan kompetisi. Menantang dirinya sendiri bahwa sebenarnya beliau mampu.

Oh, okay! Mari ikuti langkah beliau. Berlomba untuk menantang diri.  Menang, Alhamdulillah. Kalah, toh sudah menang melawan ketakutan.

Mewujudkan Cita-Cita Bersama Keluarga

Selesai mengikuti berderet-deret episode di Webinar Indosat X IIDN, selanjutnya apa? Saya sih mau mengumpulkan kekuatan mewujudkan cita-cita. Bukan untuk diri saya sendiri, melainkan cita-cita bersama anak-anak. Bersama keluarga kecil kami. 

Dunia blogging yang menjadi sarana ‘me time’ tersebut bisa kok kami alihkan menjadi ‘we time’. Berbagai cerita perjalanan kami sebagai orang dengan Mesin Kecerdasan Sensing, problem yang kami alami, dan cara kami mengatasinya, bisa kami bagikan bersama melalui blog, channel Youtube, dan mengoptimalkan kekuatan kami dalam berbicara dengan dasar ilmu public speaking

Welcome to our channel, gaesss … 

Blog akan lebih hidup dengan menyisipkan video dari channel Youtube kami. Channel ini akan lebih tertata apik manakala kami menguasai ilmu public speaking agar informasi yang kami sampaikan secara verbal di sana terdengar lebih indah. Alur video kami tentu juga akan terasa menjadi perjalanan yang runut dengan kemampuan membuat draft tulisan dari blog. Mana yang harus kami tampilkan pertama, di tengah, atau di akhir. Wow! Ketiganya menyatu dalam harmoni.

Ternyata, satu sama lain saling berhubungan dan memang kami banget!

Anak-anak, mulai saya libatkan juga dalam pemilihan konten di blog saya. Putra sulung sudah menyumbang dua konten mengenai ikan hias kesayangannya. Saya ingin kami bertiga, The Sensing Family, bisa terus bersemangat menebarkan manfaat dan terkenal. Ihiirrr, terkenalnya masih dibawa-bawa.

IMPreneur by IM3Oredoo

Untuk mendukung impian kami membuat konten perjalanan sebagai The Sensing Family, saya butuh banget perangkat yang mumpuni. Ponsel yang saya gunakan saat ini sebenarnya kurang mendukung karena kualitas rekam gambar bergerak yang nggak dilengkapi stabilizer. Rentan banget bikin hasil rekam jadi goyang. Selain itu, ini tuh aslinya ponsel punya kantor, sebuah lembaga pelatihan analisa saham yang saya kelola bareng teman-teman. Untuk merekam video, saya mesti merayu kakak saya buat ikutan turun ke jalan. Pinjem ponselnya, orangnya harus diajak juga.

Kalau nanti punya ponsel baru, tentunya saya juga butuh nomor baru dan koneksi internet cepat yang mendukung aktivitas kami untuk dibagikan di media sosial. Nggak perlu bingung sih, karena IM3Ooredoo sudah menyediakan paket pasca bayar dengan akses internet cepat dan melimpah, yaitu IMPreneur dan Freedom U. 

IM3Preneur dan Fredoom U bisa dikatakan sebagai bentuk dukungan IM3Ooredoo terhadap konsumennya di tengah pandemik ini. Aktivitas hampir semua orang jadi banyak terpusat di rumah saja. Nggak sedikit juga yang kemudian mulai menjajal bisnis online atau malah banting setir dari karyawan menjadi pebisnis online. 

IM3Ooredoo seolah mendengar isi hati saya yang ingin menyelaraskan aktivitas pribadi dengan kebersamaan bareng keluarga. Makanya, program yang dibuat dengan kemudahan berbagi kuota untuk anggota keluarga. 

Blogger sebagai pelaku bisnis di industri digital tentu merasakan banget kebutuhan akan koneksi internet sangat besar. Apalagi kalau punya anak-anak yang bersekolah dan harus mengikuti sistem pembelajaran dalam jaringan. Uwuw banget kan tuh kebutuhan kuota internetnya.

Jadi, kapan bisa beli ponsel barunya? Diikhtiarkan dulu saja ya sambil meminta jalan dari Allah As Sami’. 

Sekarang, terus saja menekuni pekerjaan yang Alhamdulillah masih berjalan lancar. Terus fokus mendampingi anak-anak belajar dan beribadah. Masih lanjut mendukung anak-anak memaksimalkan potensi genetik mereka sebagai Sensing. Tetap setia menuangkan cerita perjalanan kami, The Sensing Family, ke dalam blog dan channel Youtube. Semoga kemampuan cuap-cuap makin cas cis cus dan rezeki cuuuuzzz mengalir mulusss. Aamiin Ya Robbal Aalamiin. 

 

Salam sayang dari kami,

Melina Sekarsari

“Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog IM3 Ooredoo X IIDN Mengoptimalkan Peluang Dunia Blogging”

93 comments found

  1. Semakin banyak membaca tulisan Mbak Mel, saya makin kagum. Calon juara nih tulisan ini. Sehat selalu ya Mbak Mel, untuk dua anak cerdasnya.

    Dan rupanya kalian bertiga sensing ya. Unik. Saya tempo hari ikut acara teman yang konsultan STIFIn di Makassar. Kata dia beda2 tuh cara orang2 dengan mesin kecerdasan berbeda menulis. Kalo saya pernah tes, saya Intuiting. Terus jadi penasaran, beda cara Mbak Mel dan saya menulis di mana ya … 🤔😄

    1. MasyaAllah … PR saya sebagai Ibu banyak banget, Kak Niar. Episode bayar utang masih berlanjut, hahaha …

      Intuiting itu nyaris nggak pernah kehilangan ide, loh. Super kreatif. Jadi tahu alasan Kak Niar aktif menulis. Idenya ada terus. Kalau Sensing kaya di berbagai pengalaman. Jangan disuruh nulis fiksi. Bakal kaku. Emang bener, hahaha …

      1. Hmm gitu ya .. hehe.
        Kalau fiksi, saya juga angkat tangan. Tapi memang gak sreg nulis fiksi. Suka kagum saja yang punya ide banyak buat nulis fiksi. Saya nyaman dengan blog, sudah kayak cinta mati deh wkwkwk.

  2. Wah pengalaman yang berharga ya mba…dan jadi nambah ilmu juga nih saya. Blogger itu sesuatu hal yang menyenangkan dan bisa santai dikerjakan di rumah, bahkan bisa urus keluarga juga ya dan menghasilkan juga…semangat mba 💪

  3. wah 25 jenis ilmu yang penuh gizi, keren bangettt
    Setiap kesuksesan butuh pengorbanan
    Dan meluangkan waktu untuk menambah ilmu termasuk diantaranya
    Karena semakin kita belajar, rasanya semakin haus ilmu ^^

  4. Saya juga happy banget waktu dapat notif IIDN webinar series. Pengen ikut semua, tapi nggak mungkin. Jadi pilih2 yg sesuai kebutuhan saat ini aja. Alhamdulillah banyak pencerahan dari webinar IIDN.

    Semoga makin produktif bloggingnya mba, dan tetap bisa membersamai keluarga

  5. Senangnyaaa..bisa upgrade ilmu dengan mengikuti webinar-webinar tersebut. Huhuhu sayangnya saya berhalangan hadir terus tuh, waktunya gak pas, makanya gak daftar sejak awal. Untung ada teman-teman yang menuliskan/membuat highlightnya gini.

    1. Buat ibu bekerja, waktunya memang bentrok ya, Mbak. Apalagi kalau kelas sore. Alhamdulillah nih, nyelip-nyelip masih bisa ikutan, hihihi … Thanks to IIDN dan Indosat.

  6. Mbaaaa
    dirimu tuh kayak anak kuliahan S-1 lho.
    Tapi kok ternyata buntutnya udah dua wkwkwkwk
    Semangaaatt blogging dan menjemput rezeki ya Mba
    Thanks to IIDN dan Indosat yg bikin webinar super duper kece!

  7. Rasanya pengen semua ya Mbak. Tapi kemampuan kita gak cukup untuk itu semua. Menjadi blogger sekaligus IRT banyak juga loh tanggung jawabnya. Tak semudah yang orang pikirkan. Intinya nikmati aja prosesnya sembari terus meningkatkan kualitas diri. Konsisten dan tak henti berikhtiar.

  8. Hai mba melina. Ceritanya luar biasa sekali, memang dilematis sekali yaaa ingin kerja tapi ingin menemani tumbuh kembang anak juga. Semoga blog ini benar2 berjodoh dengan kita. Kemarin saya ikutan juga tuh kelasnya IIDN, cuma ga bisa fokus karna sambil disambi masak dan malam disambi ngelonin. Tapi ilmunya mayan bgt,. Keren saya mlipir nanti ke podcastnya mbak. Saya masih belum pede denger suara sendiri nih, padahl pengen jg bikin pdocast

    1. Hi, Kak Ghina. MasyaAllah … Curcolan emak-emak iniii hahaha …

      Ilmunya ndaging banget. Duh, rasanya pengen bisa ngulang kelas-kelas yang aku naksir berat tapi sayang waktunya berbenturan, huhuhu …

      Yuk, mampir. Pede ajaaa sama suara sendiri.

  9. MasyaaAllah tabarakallah mba Mel, tulisan yang bagus.
    Saya pun gak muluk muluk dalam nge-blog. Setiap orang punya waktunya masing-masing. insyaaAllah panen investasi dalam membersamai anak-anak akan menjadi panen terbaik untuk kehidupan kita. Kalo kita Bisa melakukan keduanya berbarengan, kenapa enggak. Ya kan

    1. Aamiin … Aamiin.

      Nah itu juga yang kupikirkan, Mbak. Apalah aku bersenang-senang dengan passion menulis kalau anak-anak keteteran? Kalau bisa diajak kolaborasi kan enak, hihihi …

  10. Melibatkan keluarga dalam keg ngeblog maupun bermedsos ria..ide yg bagus ya mba..waktu bersama jadi makin berkualitas. Oya, semoga sukses di lomba ini mbaa..

  11. Saya langsung terbayang ke masa kecil kak me, saat itu Desi Anwar juga penyiar berita favorit. Saya suka menonton berita dengan ayah. Paling seru saat beliau mewawancarai pejabat.
    Yang paling saya ingat, saat beliau pernah ngomong ke salah satu pejabat yang sedang diwawancarai dengan tema korupsi “Tapi bapak gak korupsi kan ya…”

    Ahhhh berani bener.. bikin merinding 🥰

  12. Wooow! Aku senang baca perjalananmu dari memutuskan resign lalu perjuangan memperbaiki hubungan dengan anak-anak. Eh sekarang malah ketemu dunia blogging yang membuat nyaman sekaligus menghasilkan cuan. Lanjuuut Mbak!

    1. MasyaAllah … Biar gimana juga harus memilih sih, Mbak. Aku sangat nyaman menekuni passion menulis di blogging. Meski kadang benturan waktu ya sama anak-anak, hihihi …

  13. Yess, sometime our family, husband, kids and other source inspiration from we to be fight write. Yuk, be smart blogger who knows priority in our life. Maybe, Write just one walk to give moment for our familt next time when we was died

  14. wahh asiknya akhirnya bisa collab sama anak2 juga ya…kalo kita punya channel sendiri bebas mah..mau jadi presenter juga hayukkk…Sukses yaaa….

  15. Acara-acara IIDN menarik hati yaa..
    Banyaaakkk sekali hikmah di masa pandemi yang bisa dinikmati walau kita dirumahaja.

    Belajar banyak hal dan mencoba hal baru adalah yang menyenangkan.

  16. aku jadi senyum-senyum sendiri pas baca ini karena dulu gak kepikiran jd blogger sama sekali, eh kecemplung jg. Pgn juga kaya mba Mel mengasah ilmu lewat webinar

    1. Samaaa … Itu blog bertahun-tahun digratisin teman malah kucuekin. Baru nge-blog setelah resign. Padahal bisa-bisa aja kalau sekedar menulis ya. Emang males banget dulu tuh, huhuhu …

  17. Jadi akhirnya menemukan bahwa ngeblog inilah yang ingin dilakukan ya mbak?
    Aku sampai setua ini malah msh bingung, suka blogging tp sebenarnya gk terlalu suka menjadikannya sbg kerjaan wkwkwk
    Maunya msh jd sampingan dan aku punya aktivitas lain, tp msh meraba2 apa yg ingin aku lakukan.
    Ojo ditiru org yg tersesat kek aku hahaha. Semangat mbaak good luck moga menang 😀

    1. Passion aku memang di menulis dan ngecipris alias cuap-cuap sih, Mbak. Sampai sekarang masih kerja kantoran tapi online dari rumah. Belum berani full blogging buat cari nafkah karena ilmu pun belum mumpuni. Tapi paling nggak saat menjalani hobi, bisa dikerjain bareng anak-anak, kan?

  18. Untuk menentukan pada passion saat ini ternyata penuh perjuangan ya Mbak. Alhamdulillah semangat untuk terus ngeblog terus terjaga. Webinar blogging memang bermanfaat banget. Apalagi narasumbernya dari orang yang ahli di bidangnya. Jadi makin semangat deh.

    1. Iyaaa, banget. Passion ini pun masih sebatas hobi yang menghasilkan. Belum menjadi penghasilan utama. Saya masih kerja juga dan sadar diri ilmu blogging belum mumpuni. Makanya, sempet-sempetin ikutan webinarnya, hehehe …

  19. Sebenarnya menjadi Blogger itu adalah kebahagiaan bagi mereka yang memang passion nya di situ. Ada juga yang passionnya memang ingin berkarir sehingga memang resikonya meninggalkan anak dan keluarga.

    Tak apa sih mbak.. Perempuan itu berhak memilih. Kita punya perjuangan sejak kecil. Sangat tidak adil jika setelah menikah terpaksa memilih peran tertentu apalagi dipaksa orang lain.

    Meski demikian, naluri kita pasti maunya selaras ya.. antara hobi ngeblog dengan keluarga. Tapi ya, kita perempuan biasa bukan wonder woman. Kita butuh bantuan orang lain untuk tugas harian.

    So, bisa banget pastinya menyelaraskan dunia blog dgn keluarga. Dengan catatan, ada support syitem. Karena itu hak kita sebagai perempuan.

  20. Aku juga serius menggeluti blogging aja, Mbak. Hasil naik turun tapi ya disyukuri sambil cari celah lain. Ngeblog kami di rumah juga pakai IM3 Ooredoo, belum IMPreneur sih, sangat andal. Sinyal kuat dan jaringan kencang. Alhamdulillah banyak yg kudapat dari blogging. Alhamdulillah, semangat. Sayang banget aku ga ikut satu pun webinar IIDN ya, padahal lengkap isinya.

    1. Wah, saluuut. Saya belum fokus di blogging sih, Mas. Statusnya masih bekerja tapi ngantornya di rumah dan punya jam kerja. Blogging sebagai hobi. Tapi menjalankan hobi pun kadang benturan waktu sama anak-anak, makanya curhat nih, hahaha…

  21. Wah bacaannya sama, A Fuadi, man jadda wa jadda. Tp buku lanjutannya blm jadi aja mau baca dr zaman kapan.

    Garapannya saham ya, mbak.. Hal yg aku ga ngerti hehe. Ngerti sekadarnya aja. Perasaan, rumit bener

  22. Tulisannya enak sekali dibacaaaa. Aku jadi mendapat banyak insight dr sini. Kalau aku sendiri blogging masih selarasnya seputar aktivitasku antara alat kalibrasi hati-pikiran, berjualan, sama sharing something yg bermanfaat aja. Kalau anak karena masih kecil fokusnya masih pada apa yang dia suka aja. Jadi malah kadang sbg inspirasi tulisanku. Mungkin nanti kalau agak besaran sudah bisa kolab di dunia blogging… Hihii…

    1. MasyaAllah … Makasiiih …

      Aku suka stress sendiri sih kalau nggak nulis. Tapi dipaksakan setiap hari pun nggak sanggup, hahaha ..

      Asyik banget kalau bisa collab sama anak. Semoga bertahan lama, nih.

  23. Seperti hal waktu menulis cerita, Alhamdulillah saya bisa mengatur waktu ngeblog, Mbak. Dan karena saya suka, maka saya enjoy menghasilkan. menikmati proses harus, hingga nantinya blogger bisa menghasilkan.

    Dan zaman Now kita semakin dimudahkan dengan bertebaran ilmu-ilmu seputar ngeblog ya, Mbak. Jadi walau masa pandemi, tetap bisa nambah ilmu.

  24. Nge Blog juga ternyata bisa ngabisin waktu sendiri ya, kadang memang kalau udah asik nulis sampe lupa. Seru juga nih mengalihkan fokus anak-anak membuat konten dirumah, anak-anakku juga pada kebosanan dirumah nih.

  25. Banyak cara dan sarana ya Mbak Mel dalam mengoptimalkan blogging, apalagi kl sudah jadi full time blogger wah bener2 bs maksimal. Tiap hari bisa ngeblog dengan optimal dan bs meningkatkan performa blognya terus. Sy cm sempet sekali ikutan webinar IIDNXIM3, yg kita barengan itu, public speaking

    1. Ini belum jadi full time blogger aja udah carut-marut waktunya, Kak. Memang nggak sesederhana yang dipikirkan orang ya jadi blogger itu. Oiya, kita ketemu di kelas public speaking, ya.

    1. Wah, aku sempat mengalami juga, Mbak. Udah deg-degan. Alhamdulillah, balik lancar lagi meskipun jadi terlambat masuk. Kalau belajar online memang tantangannya tuh salah satunya di sinyal, ya.

  26. Anak aku masih kecil mba, jadi nggak bisa nulis dengan santai. Kadang pas lagi pengen banget nulis karena lagi ada ide dan mood eh ada aja drama ama anak. Terus pas nulis anaknya tidur, mood nulis dan idenya hilang karena lupa atau karena udah kecapean ama kerjaan rumah ama anak wkwkwkw 😂. Tapi ya konsekuensi anak masih kecil, jadi kalau nulis nunggu dia tidur dulu mba antara malam ama subuh. Jadi kalau siang main ama anak, soalnya dia belum punya adik jadi blum punya temen main. Maunya main ama emaknya mulu 😂. Eh aku jadi curhat 😂

    Blogging itu banyak banget ya mba manfaatnya. Kayak ruang aktualisasi aku dari rumah mba. Kalau berpenghasilan dari blogging aku anggap bonus aja. 😂

    1. Nah, masih seusia Erysha dilendotin karena minta diajak main. Seusia anakku, dilendotin pengen diajakin main dan ngobrol, hahaha … Tapi kadang dilendotin karena putri bungsu pengen dipinjemin HP buat dia bikin konten. Dia lagi senang banget ngecipris depan kamera, hahaha …

      Iya loh, aku stress kalau nggak nulis. Selama masih jadi hobi, penghasilan dari blogging mah bonuuus …

    1. MasyaAllah … Terima kasih apresiasinya, Mbak …

      Anak-anak juga lebih suka ke konten verbal dan visual, sih. Tapi dari konten verbal dan visual tersebut, mereka bantuin saya bacakan ulang untuk saya tuliskan di blog. Kerjasama banget, hahaha …

  27. Aku baru ini lihat foto-foto wajah Mba Mel dari dekat dan jelas. Cantikkkkk kamu mba. Ayuuu. Hehehe. Ngomong-ngomong soal ngeblog, internet itu buatku jadi prioritas. Istilahnya aku rela bayar agak mahal asalkan koneksiku cakeup. Bete kan kalo lelet jaringannya. Lebih enak lagi kalo bayarnya gak perlu mahal, koneksinya cakeup, kayak IM3 Ooredoo ini ya mba.

    1. MasyaAllah … Alhamdulillah dibilang cantiik, hahaha … Uni malah imuuut.

      Nah iya, era digital begini kebutuhan akan internet super cepat tuh udah di urutan atas. Lah gimana mau berkarya kalau internet lemot, ya. Baru mau cobain nih nih IM3Ooredoo.

  28. Keren semangat ngeblog nya mbak ..aku harus belajar nih dari mbak Melina.. btw IM3Ooredeoo menarik ya paket nya boleh nih di coba

  29. Sukses selalu untuk The Sensing Family..terbayang semangatnya dua bocil bikin konten sama Mama. Sukses selalu ya…
    Hm, karena ketiganya sensing jadi bisa selaras, Tapi penasaran juga apa ga ada eyel-eyelan kalau mesinnya sama ya..:D
    Tapi beneran keren banget lho kalian…dan anak-anak jadi punya kegiatan bermanfaat ya Mbak Mel, yang selaras dengan dunia Mamanya. T-o-p idenya!!
    Ditunggu karya-karya serunya yaa!!

    1. Makasih, Budhe Dian. Aamiin … Aamiin.

      Ya begitulah, kadang kompak, kadang eyel-eyelan, kadang berebutan siapa duluan. Anak bungsu masih suka egois soale. Maunya dia melulu, wkwkkw … Pada pengen terkenal kayak emaknya.

      Hihihi … Maklum nih bertiga terpisahkan siiih …

  30. Sukses ya mba melinaa. Akupun baru merasakan blog optimal juga baru2 ini aja. sebelumnya cuma nulis lalu udah. Padahal banyak banget keuntungannya yaa di sini

    1. Aamiin Ya Robbal Aalamiin.

      Makasih banyak, Mbak Johan. Sukses juga untukmu, yaaa. Aih, aku selalu suka tulisanmu, loh. Tulisan yang dibuat dengan sungguh-sungguh, menurutku.

    1. Semuanya masih level beginner sih, Mbak. Makanya ikut webinar buat belajar, sayangnya nggak bisa semuanya ikut.

      MasyaAllah … Energiku datang dari anak-anak nih kayaknya.

  31. halo kak,
    ih samaan dong kaya aku cita-citanya. aku juga pernah ngebet banget pengen jadi pelukis dan ilmuwan! sampai beneran masuk jurusan kimia waktu stm dan astronomi dan sejarah waktu umptn, tapi gagal! wkwkwkw. lalu kuliah arsitek tapi sidang akhir gak diterusin karena satu hal….jadi ya jadi arsitek juga gagal! hahahaha

    tapi alhamdulillah lah, akhirnya jadi turunan pelukis, yaitu ilustrator . hehehe eh dan blogger juga denk (^_^)

    1. MasyaAllah … Kamu keren, ihhh. Cita-citanya mirip aku tapi kamu udah melakukan sesuatu. Nggak kayak aku. Setidaknya kan udah berusaha, jadi nggak penasaran lagi.

  32. aku seorang wanita yang juga hobby menulis blog tapi aku juga bekerja, aku masih punya pekerjaan utama, kadang iri dengan orang2 yang punya banyak waktu untuk menulis tapi juga bersyukur aku masih memiliki pekerjaan utama.. hehe

    1. Masih punya pekerjaan utama. Ini betul-betul parut disyukuri apalagi untuk kondisi saat ini ya, Mbak.

      Saya pun gitu. Blogging masih sebatas hobi yang Alhamdulillah kadang malah menghasilkan uang dan barang, hihihi …

  33. Walau terkadang sebagian orang berat resign dari perusahaan, tapi aku rasa keputusan tepat.
    Karena dengan begitu kita juga tetap bisa kok produktif dari rumah dan menghasilkan uang plus bisa bersama anak juga dirumah.

    Aku pun juga menulis udah beberapa tahun yang lalu,dan alhamdulillah nya udah dapat tawaran pekerjaan dari beberapa klient. Dan tentu pekerjaan menulisku bisa dikerjakan dirumah tetapi tetap urusan keluarga no.1

    1. Iya, tentunya harus beradaptasi banget terlebih soal pendapatan. Beda jauuuh … Tapi hidup kan pilihan, ya. Alhamdulillah, di rumah malah dapat kebahagiaan baru karena bisa menekuni hobi yang dulu nggak terpikirkan.

  34. Suka banget sama pembahasannya mbak Mel. Emang kalau dilakukan dengan fokus dan bertanggung jawab, blogging itu nggak mengganggu kebersamaan keluarga kok. Dua hal ini bisa jalan barengan dan sama-sama memberikan hasil memuaskan. Semangat buat lombanya ya mbak!

  35. Kalau dulu bercita cita menjadi seorang guru karena Alm. bapak juga seorang guru, berlatar belakang S. Pd dan sempat menjadi seorang guru membuat aku cinta dengan profesi ini.
    Setelah menikah dan ikut suami,pekerjaan aku tinggalkan. Barulah awal mulanya aku jatuh cinta dengan dunia penulisan ini, share berbagai informasi tentang keseharian,resep makanan maupun suatu produk dimana aku dapat penghasilan dari menulis ini.

  36. Untuk publik speaking emang kudu dilatih langsung dengan praktek. Awalnya gagap sih, tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Kalau saya sih masih pemula banget. Masih gagap dan kadang jadi kayak bingung gitu pas didepan kamera 😁

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.