Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Grand Launching dan Bincang Pulih; Membuka Mata untuk Berupaya Pulih dari Mental Illness

Grand Launching dan Bincang Pulih; Membuka Mata untuk Berupaya Pulih dari Mental Illness

Sejak semula saya nggak mengerti alasan kesehatan mental naik ke permukaan. Sekitar bulan Juni, saya sudah membaca bahasan mengenai kesehatan mental di grup Facebook Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Ada program menulis antologi buku berjudul “Pulih” yang ditulis oleh teman-teman berdasarkan pengalaman pribadi atau menceritakan pengalaman orang lain tentang berhasil bangkit dari rasa sakit.  Kegiatan ini bahkan melibatkan seorang dokter dan konselor. Seserius ini?

Benak saya bertanya-tanya, memangnya banyak dari kita yang memiliki masalah kesehatan mental, ya? 

Kadang terselip rasa sombong di dalam hati ini. Merasa sudah cukup tangguh dalam mengarungi kehidupan sebagai ibu tunggal dari dua orang anak. Merasa sudah setegar karang dalam menghadapi ombak yang datang menerjang. 

“Masalah ibu tunggal tuh selesai asalkan bisa mencari uang. Ada uang, pikiran tenang. Nyekolahin anak beres, pangan bergizi anak terpenuhi, sandang dan papan yang layak tercukupi. Mau jalan-jalan, tinggal nabung aja.”

Sebagai ibu, saya baik-baik saja. Tapi saya kerap melupakan bahwa peran saya di dunia bukan hanya sebagai ibu. Pada peran itu, saya bahkan takut untuk bertanya, “Apa salah saya?”

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Saya baru tahu bahwa Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Koreksi sedikit tapi maknanya besar, saya malah baru tahu kalau ada Hari Kesehatan Mental Sedunia. Jadi, sebegini besarnya ya pentingnya menjaga kesehatan mental hingga ini menjadi perhatian dunia, bukan hanya di negara kita saja.

Maka pada 17 Oktober lalu, IIDN bekerjasama dengan Ruang Pulih menyelenggarakan Grand Launching buku “Pulih” sekaligus Bincang Pulih melalui zoom. Saya berkesempatan untuk ikut serta. 

Sebelum acara dimulai, para peserta bergabung di dalam group WA. Sejak pagi harinya, kami dikirimi sebuah gambar bernama Mandala yang diminta untuk dicetak, kemudian diwarnai oleh kami sesuka hati. Hasilnya bisa dikirimkan saja melalui grup WA tersebut. 

Silih berganti gambar yang suka diwarnai dikirimkan di group tersebut. Saya belum bereaksi. Hanya ingin malam segera tiba, acara dimulai, dan mencari tahu jawaban dari pertanyaan di kepala ini.

Liputan Grand Launching dan Bincang Pulih

Acara dimoderatori oleh Mbak Lita Widi yang selalu berhasil menghidupkan suasana dengan gayanya yang ceria. “Grand Launching dan Bincang Pulih” ini menghadirkan narasumber sebagai berikut:

1. Intan Maria Halim, Founder Ruang Pulih

2. dr. Maria Rini I, SP. KJ dari RSKJ Surakarta; dan

3. Widyanti Yuliandari selaku Ketua Umum Komunitas IIDN

Kejutan, hadir juga Teh Indari Mastuti selaku founder Komunitas IIDN. Baru kali itu saya melihat beliau berbicara secara live. Dari beliau juga, akhirnya Mbak Wid – begini saya biasa memanggil Mbak Widyanti Yuliandari, menyampaikan bahwa PO pertama buku “Pulih” sungguh laris manis. Di kisaran 250an buku! Wow! MasyaAllah … 

Pantesan Teh Indari sampai protes karena nggak kebagian. Ternyata buku yang ada di tangan Mbak Wid pun adalah bentuk dummy-nya. Nah loh, beliau pun ternyata sama-sama nggak kebagian. Ada apa sih di antologi “Pulih” ini?

Sumber: IIDN

Proses Penulisan Antologi Pulih

Sumber: Group Blogger Pulih

Mbak Wid menceritakan proses buku ini hingga kemudian terbit. “Pulih” merupakan salah satu program kerja IIDN khususnya dari Divisi Buku. Berawal dari rasa kepo beliau saat mengamati tulisan teman-teman yang hadir di linimasanya. Tulisan-tulisan tersebut seolah mewakili perasaan dari penulisnya. Bagi Mbak Wid sendiri, tulisan merupakan jendela jiwa. Apa yang dirasakan seseorang, dapat terbaca dari tulisannya.

Ide untuk mengangkat “mental illness” diusulkan oleh salah satu tim dari Divisi Buku. Kerinduan akan hadirnya buku antologi juga menjadi alasan terbitnya buku “Pulih” ini. Bagi beliau, antologi seharusnya dapat memberikan sesuatu kepada diri sendiri maupun orang lain.

Saat proses menulis, sebelumnya diadakan audisi terlebih dahulu. Peserta yang sudah pulih berlanjut ke kegiatan menulis buku antologi ini, sedangkan yang belum berlanjut ke program pendampingan bersama Ruang Pulih

Itu sebabnya, proses menulis antologi “Pulih” ini mengalami pasang surut. Proses yang dijalani setiap orang berbeda-beda termasuk dengan aspek eksternalnya, hingga kontributor yang berguguran karena tulisannya nggak memenuhi kriteria. 

Kebutuhan Dasar Manusia dari Sisi Kejiwaan

Saya penasaran, kesehatan mental dan kesehatan jiwa, apakah bisa dikatakan sama? Pas sekali, ada salah satu peserta yang bertanya dan dr. Maria dari RSJD Surakarta menyampaikan bahwa kesehatan mental dan kesehatan jiwa adalah dua hal yang sama. Berbicara tentang kesehatan mental, maka berarti berbicara mengenai kesehatan jiwa.

Dokter berwajah cantik dengan tutur kata yang lembut banget ini menyampaikan juga pentingnya komunitas dalam menjaga kesehatan mental. Menurut beliau, pada dasarnya manusia memiliki rasa ingin disayangi dan dibutuhkan. Di dalam sebuah komunitas, kebutuhan ini dapat terpenuhi, terutama bagi perempuan yang sangat membutuhkan kepedulian dan tempat saling bercerita karena kesamaan nasib dari lingkungannya.

Begitu pentingnya komunitas terutama bagi teman-teman yang memiliki gangguan dengan kesehatan mental, sekarang ini banyak terbentuk berbagai macam komunitas untuk saling mendukung dan memberikan informasi. Beberapa di antaranya ada Komunitas Schizoprenia dan Komunitas Bipolar.

Fakta Kesehatan Mental

Kenapa dunia harus turut peduli pada kesehatan mental hingga lahir Hari Kesehatan Mental Sedunia?

Mbak Intan dari Ruang Pulih menyampaikan fakta mencengangkan mengenai kesehatan mental berdasarkan data dari WHO.

Pada poin 1 di bawah ini, saya jadi bertanya-tanya, apakah saya salah satu di antaranya? Perasaan cemas, takut, berdiam diri, apakah dapat dikatakan kalau kesehatan mental saya terganggu? 

Sumber: IIDNXRuangPulih

Iya betul, setiap harinya ada saja berita bunuh diri yang dipublikasikan oleh media. Tanpa kenal ampun, bisa dari orang biasa sampai selebritas. Tapi saya nggak menyangka bahwa jika diakumulasikan, angkanya mencapai 1 juta jiwa setiap tahunnya. 

Memulihkan Kesehatan Mental dengan Art Therapy

Tadi Mbak Wid menjelaskan bahwa kontributor dalam antologi “Pulih” ini adalah mereka yang memang telah pulih. Bagi yang belum, maka akan diberikan pendampingan bersama Ruang Pulih. Saya penasaran, apa yang dilakukan oleh tim konselor dalam mengupayakan teman-teman mencapai fase ‘pulih’ ini.

Pertanyaan tersebut terjawab dan dikaitkan dengan tugas mewarnai. Kegiatan ini dinamakan dengan Art Therapy. Gambar di bawah ini bernama Mandala. Ada proses mindfullnes, self-love, dan berhenti sejenak, agar kita dapat mengisi ulang energi lagi.

Saya memang melihat beragam pilihan warna dari teman-teman peserta di sini. Ada yang benar-benar memadu-padankan semua warna, ada yang mewarnai dengan pola teratur, ada yang hanya memilih warna tertentu saja. At least, semuanya telah berani menekan tombol ‘Pause’ dalam hidupnya. 

PULIH Bagi Wounded Innerchild

Lingkungan memang membawa pengaruh yang sangat besar ke dalam kehidupan kita, termasuk lingkungan keluarga. Trauma di masa kecil di dalam lingkungan keluarga, terutama, kerap tak terselesaikan dan terbawa hingga dewasa. Ini akan berpengaruh kepada cara kita memandang kehidupan. 

Di dalam acara ini, Mbak Intan turut menyampaikan informasi bagi teman-teman yang ingin bergabung di kelas “PULIH Bagi Wounded Innerchild (Luka Masa Kecil)”, dengan harga khusus bagi peserta zoom “Grand Launching dan Bincang Pulih.”

Menyadari dan Menilai Kesehatan Mental dengan Benar

Keikutsertaan dalam “Grand Launching dan Bincang Pulih” ini membuka mata saya terhadap keadaan kesehatan mental masyarakat dunia termasuk diri saya sendiri. Besar kemungkinan saya pun termasuk salah satu di antaranya. 

Rasa cemas akan menemukan cerita serupa dengan diri sendiri pada antologi “Pulih” hingga terseret-seret dan membuka kembali cerita yang nggak ingin saya bagi, rasa takut mewarnai Mandala hingga saya membiarkan gambar tetap hitam putih, termasuk keberanian untuk menuliskan ulasan acara ini.

Sumber: IIDNXRuangPulih

Menerima, mengakui, dan bertanggungjawab untuk menemukan solusi atas masalah yang ada. Seperti yang disampaikan oleh dr. Maria bahwa masalah akan selalu ada di sekitar. Trauma bukanlah kesalahan diri tapi berjuang untuk pulih adalah tanggungjawab diri. Kita bisa memilih untuk melakukan respon berbeda dari respon yang biasa kita berikan pada masalah tersebut. Atau, ada pilihan meninggalkan masalah tersebut dan membuat pola baru untuk mengelolanya.

Menghadapi mental illness, sama seperti menghadapi sakit fisik. Adakalanya kita bisa menyembuhkan diri sendiri seperti saat terserang flu. Namun, adakalanya kita membutuhkan bantuan pihak lain yang lebih kompeten yaitu tenaga medis saat. Pada mental ilness, kita membutuhkan konselor atau psikiater untuk menyembuhkannya.

Sumber: IIDNXRuangPulih

Menurut Mbak Intan, orang dengan mental illness pun harus melalui tahapan yang terus ditingkatkan. Fase pulih bukan puncak segalanya karena pulih harus terus dilatih kemudian dikembangkan.

Antologi "Pulih", Layak Dibaca atau Nggak?

Saya belum membaca antologi “Pulih” ini. Seperti yang saya bilang, saya sempat merasa takut terseret-seret ke dalam cerita, apalagi jika berhubungan dengan diri sendiri. 

Tapi, acara ini mengoreksi cara pandang saya. Membaca “Pulih” bukan untuk ikut meraung-raung dan menangisi kesulitan hidup orang lain, melainkan memetik hikmah dari perjalanan hidup orang lain dan fokus pada proses yang dilalui orang tersebut untuk bangkit dan pulih

Sumber: Group Blogger Pulih

Seluruh tulisan di dalam antologi “Pulih” ini pun telah melalui proses penyuntingan yang ketat. Semua tulisan mengalami proses revisi. Sumber masalah hanya diangkat sedikit saja untuk memenuhi rasa ingin tahu pembaca. IIDN sendiri lebih fokus untuk memperbesar persentase pada proses pemulihan hingga akhirnya berhasil.

Jadi, saat PO berikutnya kembali dibuka, rasa-rasanya saya harus ikutan juga. Soal rasa takut terseret-seret tadi, pilihan ada pada diri sendiri. Ingin menyerap yang negatif atau positif? Ingin fokus pada sumber masalahnya atau penyelesaiannya?

Semoga nantinya saya juga berhasil pulih dalam menjalani peran lain yang masih kerap mengganggu ini. 

Buat kamu yang membaca tulisan ini, tetap fokus pada energi positif, ya.

 

Salam,

Melina Sekarsari

82 comments found

  1. Membaca tulisan ini, rasanya aku pun ingin uji mental. Apakah aku juga butuh pemulihan, hingga penasaran juga sama acara zoom meeting nya😁.

    Tulisannya juga menarik ni😉

  2. Aku baru tahu, Art Therapy merupakan salah satu cara untuk untuk kesehatan mental illness. Aku teringat sama salah satu rekan di kantor, dia sering mewarnai gambar sebuah buku yg isinya khusus untuk gambar.
    Aku pernah bertanya kenapa dia suka mewarnai gambar, aku kira karena hobinya di bidang seni. Namun dia menjawab untuk menghilangkan stres.

    Mungkin itu salah satu caranya untuk mengatasi mental illness, ya.

  3. Dimasa sekarang ini yang mana corona masih merajalela, sulit untuk saya dan teman² seperjuangan sekedar bertemu, makan, dan ngobrol dari hati ke hati, huhuhu. Ngobrol dari hati ke hati adalah salah satu bentuk menuangkan segala keluh kesah kami terhadap masalah yang ada mbak mel. Entah kenapa kalau habis ngobrol itu rasanya plog dan semangat lagi

    1. Tepaaat. Kapan hari aku ngobrol di telepon bareng teman lama. Rasanya hati jadi sedikit lega. Udah lama banget nggak ngobrol masalah di luar pekerjaan sambil ketawa lepas kayak gitu.

  4. Seneng baca tulisan ini
    Karena mental illness mendapat perhatian dan terus dikampanyekan.
    Dulu, orang dengan metal illness ga diterapi. Akhirnya merembet ke anak, ke pasangan hidup
    Anak yang punya ortu mengidap mental illness berpotensi “sakit” juga

    1. Iya, Ambu. Banyak yang mengabaikan atau mungkin merasa malu ya untuk bercerita. Aku sendiri malah nggak merasa perlu berobat. Padahal ini seharusnya ditangani.

  5. Ah benar lho mbak, setelah ikut grand launching buku pulih saya makin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental.

    Jadi nggak sabar baca bukunya, pasti akan lebih memberi banyak hikmah bagaimana cara bangkit dari masalah kesehatan mental

  6. Aku lihat sekarang mulai banyak yang mewarnai gambar seperti Mandala itu. Ternyata bisa menjadi healing ya, meredakan emosi, bikin hepi juga. Semoga buku Pulih mampu menjadi pendamping mereka di luar sana yang masih memiliki mental illness

  7. seneng sekali kemarin bs juga ikutan launching buku Pulih mba. gak nyangka jika ternyata diluar sana banyak perempuan tangguh, meski hatinya menyimpan luka. Btw aku sudah punya bukunya. Art therapy akhirnya menjadi salah satu cara mereka untuk bangkit ya, dengan memisahkan masa lalu, dan masa kini, ada jeda buat ambil emosi secara bijak. 🙂

  8. Saya pernah mengikuti salah satu komunitas seperti pulih. Tujuannya untuk saling berbagi kesedihan yang dirasakan dan saling mendukung agar tidak merasa sendiri. Benar saja saya menjadi lebih bersyukur walaupun pernah mengalami kejadian buruk, masih banyak lagi kejadian lebih buruk yang dialami orang lain. Pada akhirnya menimbulkan saling empati dan saling support agar kembali hidup bahagia.

  9. Mental illness ini sebenarnya terkadang ternyata kita tidak menyadari saja ya mbak kalau lingkungan sekitar kita saja banyak yang sakit dsn butuh pemulihan. Berasa disadarkan dengan hadirnya buku ini

  10. Mungkin kalau ada sesi curhat tuk kaum ibu ibu, pasti beberapa ada yang mengalami gejala kesehatan mental atau bahkan sudah termasuk kategori sudah “Sakit” mental nya.

    Mengapa ? Itu terjadi akibat kurangnya dukungan dari orang sekitar seperti keluarga misalnya,kerabat atau mungkin suami.

    Tertekan dan tidak tau ingin cerita kesiapa,alih alih anak jadi lampiasan. Atau mungkin dipendam lama lama masalah menggunung. Timbul lah mental nya terganggu. Duh aku jadi penasaran dengan Buku Pulih ini,pasti menarik banget untuk dibaca ya.

    1. Bener, Mbak. Banyak kaum perempuan yang nggak mendapatkan dukungan dari lingkungan terdekatnya. Mulai masalah saat tengah nyeri haid, susah-susahnya masa kehamilan, sakitnya melahirkan, dan lain-lain.

  11. Nah, saya juga baru tahu ada hari khusus utk Kesehatan Mental, yg menandakan pentingnya hal ini. Dan saya bersyukur ikut acara keren ini, banyak membuka wawasan sempit saya, hehe..

  12. IIDN ini emang aktif kreatif pisannnnnn member-membernya. Saya baru tahu diperingati 10 Oktober mba. Itu tanggal ulang tahun mama saya. Hahahaha. Mental illness ini konon juga bisa diturunkan ya mba ke anak kita. Jadi kalo ibunya mungkin pernah depresi, kelak juga turun ke anaknya. Namun, saya belum tahu pasti apa ini bisa digeneralisasi atau tidak.

    1. Karena IIDN juga super energik mendorong membernya aktif. Kadang ngos-ngosan sendiri sama programnya mereka yang adaaa aja itu.

      Mungkin lebih ke karena sang ibu nggak bisa memberikan kebahagiaan jiwa buat anaknya ya, Mbak. Makanya butuh ibu bermental sehat supaya anak-anaknya pun terdidik dengan baik.

  13. Dengan membaca buku Pulih ini, kita akannsemakin bisa memetik hikmah perjalanan hidup orang lain dan selalu fokus pada proses untuk bangkit dan pulih lagi, ga sabar baca lengkapnya

  14. Kesehatan mental jadi masalah yang terbesar ya mba di kehidupan, diri yang kuat yang bisa membentengi ya kita. Alhamdulillah launching pulih ini bikin aku makin menghargai diri banyak kisah inspiratif di dalamnya

  15. Kesehatan mental ini jadi hal yang penting banget, kadang orang yang terlihat sehat sekali pun bisa jadi memendam suatu masalah dan bisa menyebabkan mental illness. Bagus banget buku Pulih ini dibuat, dengan membacanya Kita bisa belajar dari pengalaman hidup orang lain

  16. Waktu buku ini mulai ada PO ku sempat ragu, ikutan enggak ya
    sama, kuatirnya ikut larut ke dalam cerita, karena jujur, mentalku juga belum tentu kuat baca dan tahu masalah orang
    Tapi, benar juga kata Mbak Mel.. baca buku “Pulih” bukan untuk ikut menangisi kesulitan hidup orang lain, melainkan memetik hikmah dari perjalanan hidup orang lain dan fokus pada proses yang dilalui orang tersebut untuk bangkit dan pulih. Da banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan pastinya

    1. Ternyata banyak yang khawatir ikutan larut ke cerita ya, Mbak. Memang nih, mudah banget merasakan sedih dan sakit kalau baca yang terlalu sedih.

      Tapi tujuan membaca memang harus kita ubah sih ya, Mbak.

  17. Kak Me, saya salut dengan mereka yang terlibat dalam ontologi pulih ini. Berarti mereka mau berbagi kisah. Kadang kita melihat mereka sebagai orang yang lemah. Kadang samp berujar, gitu aja sampe sakit jiwa..
    Padahal ya belum tentu pas kita yang berada di posisi mereka bisa kuat

  18. IIDN keren, launching bukunya bisa ya pas dengan bulan peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia. In syaa Allah akan membantu banyak orang melalui masa sulit hidupnya.

  19. Seneng banget bs bangkit dari rasa sakit ya Mbak… jadi pingin baca juga PULIH ini. Pastinya para penulis adalah orang-orang yang berjiwa besar ya, bisa mengungkapkan tentang caranya keluar dari situasi sulit.

  20. Semakin pesat dunia berkembang pesat, semakin kompleks juga masalah yang kita hadapi. Salah satunya kesehatan mental. Apalagi aku sehari-hari kerjaannya di dunia socmed dengan risiko kena penyakit ini. Eh aku malah pernah dihujat netizen disuruh mati aja (ini beneran nyerang akun pribadi). Kenal juga nggak. Bacanya sampe sesek, tapi untungnya masih kuat. Alhamdulillah terlewati. Jadi pengen baca bukunya mbak.

  21. Semakin dunia berkembang pesat, semakin kompleks juga masalah yang kita hadapi. Salah satunya kesehatan mental. Apalagi aku sehari-hari kerjaannya di dunia socmed dengan risiko kena penyakit ini. Eh aku malah pernah dihujat netizen disuruh mati aja (ini beneran nyerang akun pribadi). Kenal juga nggak. Bacanya sampe sesek, tapi untungnya masih kuat. Alhamdulillah terlewati. Jadi pengen baca bukunya mbak.

    1. Astaghfirullah … Kaget aku bacanya. Sadis banget ituuu …

      Huhuhuh, sedih sekali. Manusia seringkali begitu kesulitan mengontrol jari dan lidahnya untuk berkata yang sewajarnya aja.

  22. Iya aku juga penasaran mba aku benernya udah pulih apa belum, kok suka ngomel *opss hihihi.. Wajar apa gak gitu loh.. hehehe Takutnya bikin anak terluka sering diomelin sama Mamaknya 😛

  23. Jujur, aku masih berjuang melawan mental illness nih, salah satunya dengan banyakin nulis, sama sering bermain permainan berwarna di Hape juga membantu buat aku

  24. Setiap orang punya cara untuk bisa PULIH ya mba, keren nih tulisan pulih yang menginspirasi pembaca yang ingin juga pulih. Dengan membaca buku ini pasti pengalaman teman2 penulis akan sedikit banyak memberi solusi yang m membaca. Sukses menginspirasi ya!

  25. bagus nih mbak pembahasannya. emang setiap orang beda-beda ya mbak caranya dalam menghadapi amsalah ada yang bisa bodo amat ada yang mungkin tidak secepat itu.

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.