Melina Sekarsari

Menuliskan Masa Lalu, Hari Ini, dan Masa Depan
Content is Priceless; Jadikan Koleksi Foto dan Videomu Bermanfaat

Content is Priceless; Jadikan Koleksi Foto dan Videomu Bermanfaat

Saya pernah beberapa kali gagal menuliskan artikel seputar perjalanan ke tempat-tempat yang pernah dikunjungi karena foto-fotonya hilang! Bayangkan deh rasanya gimana. Sedih, belum tentu saya bisa kembali kesana lagi. Apalagi sekarang, saat kita nggak disarankan bepergian kemana-mana kalau nggak penting-penting amat.

Seorang teman pernah bilang, “Dokumentasi perjalanan itu kan priceless banget.”

Sangat setuju. Makanya, sekarang saya hati-hati banget deh mengelola dokumentasi foto dan video. Bagi seorang blogger, kehilangan foto tuh bagaikan kehilangan cahaya dalam tulisan. Ya apalah artinya tulisan tanpa ada gambar pendukung?

Kalau kita punya foto dan video lengkap sebagai modal ikutan lomba tapi ternyata kondisi foto dan video itu nggak oke, gimana?

Materi Foto dan Video untuk Kompetisi

Akhir September lalu, saya dikirimi seorang sebuah tautan yang berisi informasi kompetisi foto, video, stand up comedy, dan komik. Tanpa mengatakan secara langsung, saya ditantang buat ikutan video competition-nya. Sempat ragu sih, siapa saya berani ikutan video competition. Lah, blog yang jelas lebih lama saya geluti aja ikut kompetisinya suka-suka, kok. 

Satu modal saya saat itu, saya jatuh cinta sama dunia video. Iya, mengambil gambar bergerak menjadi hobi baru saya.

“Masa nggak berani?” Tiga kata ini berhasil membuat saya berubah pikiran. Nantangin banget kan, maknanya. Wah, saya nggak suka disepelekan. Mulai panas ceritanya, hahaha

Kompetisi tersebut diadakan dalam rangka perayaan ulang tahun Kampung Batik Cibuluh. Ini adalah satu-satunya kampung batik di Bogor. Hayo, kamu udah pada tahu, belum?

Karena sehari-hari saya bekerja, agak susah juga buat meluangkan waktu kesana. Akhirnya hari Jumat, usai jam kerja, saya ngacir ke lokasi. Jaraknya lumayan jauh dari rumah. Harus naik bus kecil, udara masih panas banget meskipun sudah sore. Belum lagi rasa khawatir terpapar virus karena bus model begitu kan boro-boro deh menerapkan protokol kesehatan. Yang ada terus aja nambahin penumpang.

Sampai di lokasi, saya kecewa. Banyak sentra batik yang tutup. Mereka kelelahan karena selama 30 hari penuh sudah standby untuk difoto dan divideokan oleh peserta dari mana-mana. Jadi waktu saya kesana, harap-harap cemas masih ada sentra batik yang buka.

Batik Bumiku, yang lokasinya berada paling belakang, ternyata tetap buka. Bahkan pemiliknya masih melakukan aktivitas menggambar.

Tapi masalah lain datang. Ponsel saya yang memang punya masalah dengan kapasitas penyimpanan, ngadat. Dia menolak merekam gambar lagi. Mau nangis rasanya padahal pemiliknya berkenan saya rekam saat tengah menggambar dan mencanting. Ditambah lagi, hasil rekaman video saya goyang, nggak stabil. Ah, perangkat untuk nge-vlog benar-benar nggak memadai.

Sore itu saya memutuskan pulang. Besok adalah hari terakhir dan berencana mengajak kakak saya kembali ke Kampung Batik Cibuluh. Ponselnya baru dan kualitas kamera jauh lebih bagus. Alhamdulillah, dia mau. Suasana hari itu jauh lebih sepi dibandingkan saat saya datang pertama kali. Hari itu, cuma Batik Bumiku yang masih ada kegiatan. 

Kami duduk lumayan lama di sana. Tempatnya nyaman banget. Adem, udaranya sepoi-sepoi, enggan beranjak jadinya. Kami mendengarkan pemiliknya mendongeng tentang batik yang menggunakan pewarna alam. Sore harinya kami pulang. Hujan turun sangat deras. Kami terjebak di jalan. Dag dig dug rasanya. Jam berapa ini sampai rumah? Belum diedit. Mana malam nanti batas terakhir pengiriman tugas pula.

Kami tiba di rumah malam hari. Tenaga saya cuma cukup buat memindahkan foto dan video dari ponsel ke laptop. Badan rasanya sudah lelah luar biasa. Kepala saya nyut-nyutan karena hujan-hujanan. Malam itu saya nggak bisa tidur nyenyak. Sedih karena sudah berusaha dua hari berturut-turut tapi akhirnya gagal ikut video competition.

Peluang Kompetisi (Lagi)

Sehari, dua hari, tiga hari, rasa sedihnya nggak kunjung hilang. Bolak-balik saya pandangi foto dan video yang sudah dipindahkan ke laptop. Rasanya dua hari perjalanan saya sia-sia. Tapi mengingat perjuangan demi mendapatkan foto dan video itu besar banget, nggak ada keinginan untuk menghapusnya. Yakin banget, foto dan video tersebut bakal dipakai.

Ngintip ke akun Instagram Kampung Batik Cibuluh, sudah ada pengumuman bahwa kompetisi resmi ditutup. Penjurian mulai dilakukan. Padahal saya berharap banget ada perpanjangan waktu, xixixi ..

Lalu saya ingat, ada teman lain yang juga membagikan informasi kompetisi blog dan video. Segera saya buka lagi percakapan di group WA. Di sana ada pengumuman video competition dan writing competition yang diselenggarakan oleh Mister Exportir dengan tema Ragam Ekspor Indonesia. Ternyata sudah tutup juga, sehari setelah kompetisi di Kampung Batik Cibuluh. 

Entah kenapa, kok saya kepengen meluncur ke akun Instagram penyelenggara. Cek-cek di sana, ternyata kompetisi diundur hingga hari Kamis malam. Saat itu hari Rabu. Saya berpikir keras, video apa yang mau saya ikutsertakan. Lalu saya ingat bahwa Batik Bumiku yang menggunakan pewarna alam untuk batik-batik mereka sangat unik, kualitasnya bagus, sehingga sangat layak diperjuangkan untuk ekspor. 

Langsung deh saya buru-buru tidur supaya bisa bangun awal. Pukul 00.30, saya terbangun. Makan malam (yang terlambat), lalu buru-buru membuka laptop. Mulai memilah gambar dan video mana yang akan dipakai. Membuka aplikasi video editor dan mengisi suara karena sebagian besar video nggak ada suara saya.

Jantung saya mau copot rasanya. Berharap banget anggota keluarga di rumah nggak ada yang terbangun. Kalau bangun, sudah pasti masuk ke kamar mandi, menyalakan kran, dan proses rekam suara saya bakal terganggu. Belum lagi kalau ibu saya yang bangun. Beliau kalau menyalakan kran air, nggak pernah kecil. Langsung mentok kanan.

Saya juga berharap banget anjing tetangga sebelah sedang tidur pulas atau sedang diajak pergi. Anjing itu memang suka dibawa bergantian ke rumah anak-anaknya. Kalau dia ada, duh, menggonggong sepanjang waktu. Berisik banget jadinya. 

Pukul 06.30, proses editing selesai. Video siap diunggah ke Youtube. Mata saya perih banget. Enam jam proses video editing, non stop!

Yeay! Juara!

Lima Oktober, nama saya muncul sebagai pemenang ke-2 video competition yang diadakan oleh MisterExportir. Alhamdulillah … Mau loncat-loncat dan lari keliling lapangan rasanya. Saya baru sebulan belajar video editing gitu, loh. Daaan, mengingat sejarah bahwa keikutsertaan saya di kompetisi ini karena patah hati nggak bisa ikutan video competition di Kampung Batik Cibuluh.

Gagal mengikuti video competition di Kampung Batik Cibuluh, materi foto dan video yang saya punya ternyata masih berguna buat diikutsertakan ke kompetisi lain. Jadi, mau sebanyak apapun hasil foto dan video, saya tetap simpan karena yakin suatu saat bakal berguna.

Pengumuman Pemenang Ragam Ekspor Indonesia

Nggak mau lagi deh kejadian dokumentasi hilang seperti yang dulu itu. Nyeseeek banget rasanya. Bener loh, kalau ada yang bilang bahwa dalam selembar foto ada sejuta makna, sejuta cerita. Itu foto ya, kalau video, lebih banyak lagi dong makna dan ceritanya. 

Jadi sekarang, kalau sempat keluar rumah sebentar atau pas pakai baju bagusan sedikit, saya pasti sempetin ambil foto dan video banyak-banyak. Saat proses pengambilan gambar sih belum terpikir mau dipakai untuk apa. Tapi semuanya jadi betul-betul terpakai, loh. Semua video sudah saya unggah ke channel Youtube dan ditambahkan dubbing suara.

Soal foto, siapa hayo yang selama pandemi jadi suka ngubek-ngubek album foto buat update feed di Instagram?

Nah, butuh juga, kaaan?

Oiya, ini video yang saya ikutkan di video competition Ragam Ekspor Indonesia. Siapa tahu kamu belum nonton, hihihi …

Jadi gitu ya, masa pandemi bisa dimanfaatkan dengan memproduksi materi foto dan video sebanyak-banyaknya. Mau foto dan video masak, mencoba jajanan yang dibeli secara online maupun dari tetangga, kedatangan paket dari bapak kurir ekspedisi, jalan-jalan santai di sekitar rumah, udaaah rekam ajaaa.

Sekarang-sekarang ini, banyak banget loh challenge atau competition yang hadiahnya lumayan. Ini bisa jadi salah satu cara bersenang-senang sekaligus dapat hadiah atau malah penghasilan di masa sulit begini, sih. Materinya, pakai saja koleksi foto atau video yang sudah ada. Hobi tersalurkan, hadiah dan penghasilan berdatangan, pengalaman semakin mantap, kan? Asyik banget ini.

Kalau cara kamu memanfaatkan koleksi foto dan video, gimana?

Salam,

Melina Sekarsari

38 comments found

  1. Wah…mb Melina kwereeen. Emang gitu ya, pokoknya banyak-banyak foto dan video. Masalahnya, aku suka lupa nyimpen di mana. Ubek-ubek nyari filenya duuuh ampun. Hehe…
    Btw…kalo untuk youtube, ambil videonya hrs horisontal ya?

    1. MasyaAllah… Nggak keren, Bun. Cuma sedang beruntung waktu itu, hahaha…

      Iya, Bun. Video pengambilannya horizontal. Kalau vertikal, nanti seperti ada garis hitam gitu di kanan kiri.

  2. Wah keren mbak, perjuangannya tidak sia2 tetap membawa hasil dan pengalaman serta semakin meningkatkan kemampuan di bidang foto dan video. Bagus banget videonya.

    Kalau saya di masa pandemi ini lebih suka uplek di dapur mbak, bikin dimsum sama menghias nasi kuning, lumayan buat kegiatan dan menghasilkan crin2 juga. Jadi pengin belajar fotigrafi dan video juga nih, buat kelengkapan artikel biar lebih menarik.

    1. Aku juga jadi suka nguplek di dapur, Mbak. Tapi belum pernah nih berhasil bikin video waktu lagi masak, hahaha…

      Coba Mbak Wahyu praktekkin. Kan asyik punya channel khusus memasak, hihihi…

  3. Barakallah mbakk. Waah keren, perlu belajar dari semangatnya mbak Melina ini, meski mepet tapi pantang mundur meluangkan waktu….

    Kalau selama ini paling banter foto atau video posting di IG atau upload gdrive aja. Hehe

  4. MasyaAllah mba melina keren banget. Bisa juara kompetisi bikin video. Selama ini aku belum pernah ikut challenge seperti itu. Banyak kendala sich. Minta saran donk mba melina, biar suaranya bagus gimana? Dengar suaranya tuch enak gitulah. Aku belajar belum bisa untuk ngisi suara di video-videoku.

  5. wah keren mbak. Selamat ya jadi juara kompetisi video.
    Jadi pelajaran juga ya mbak, foto dan video yang sudah ada di memori handphone jangan buru-buru dibuang kala saat itu dirasa tak dibutuhkan, kali aja di waktu yang akan datang ternyata bisa dimanfaatkan

  6. Koleksi foto sayang banget ya mbak kalo gak di manfaatkan, kayak aq nih memori hape suka full gegara kebanyakan foto.
    Abis di hapus2 eh nantinya butuh foto itu.. Nyesek deh

  7. Keren Mbak Mel. Menginspirasi banget. Memanglah ya. Usaha itu tidak akan menghianati hasil. Kerja keras mulai dari ngumpulin video sampai proses editing berjam-jam, diganjar juara.

  8. Selamat Kak Mel yang jadi juara kedua video competition. Jadi makin SemangatCiee ya buat bikin konten video yang ciamik.

    Btw kalau ngedit video yang bagus itu memang harus via laptop ya Kak? Soalnya daku ndak punya laptop, jadi ngedit seadanya pakai aplikasi di hape aja

    1. Makasih, sayaaang …

      Kebetulan mataku tuh sangat nggak bersahabat dengan layar ponsel. Sebisa mungkin aku mengakses pekerjaan dari laptop. Makanya edit video pun dari laptop juga. Tapi banyak kok teman-teman yang edit video dari ponsel aja dan bagus.

  9. Iyes Mbak, pedih banget kehilangan dokumentasi yang kita bikin dengan sepenuh hati. Saya ngalamin pas hape hang dan harus reboot. Mana foto buat kerjaan di situ semua. Emanh harus punya back up biar tenang.

  10. Alhamdulillah. Selamat ya Mbak Melina jadi juara 2. Turut senang dan bahagia. Betul sekali, setiap foto/video yang kita buat adalah berharga, jika bukan sebagai pengingat dan kenangan, bisa sebagai alat untuk membuat karya. Saya di rumah punya sejumlah eksternal hardisk, isinya foto dan video dari tahun ke tahun, banyak sekali. Meski sudah berlalu beberapa tahun, ternyata ada saja yang bisa dijadikan karya bermanfaat, entah itu konten di dunia maya, atau untuk diikutkan lomba. Saya kalau melihat foto lama, selalu dapat ide untuk sesuatu.

    1. Nah itu, Mbak, kapasitas laptopku lumayan kecil. Pengen beli hard disk juga. Wah, apalagi seorang traveler kayak Mbak Rina gini. Pasti dokumentasi tuh mahaaal banget harganya, yaaa.

  11. Usaha yang tekun inshaAllah tidak akan menghianati hasil. Salut untuk usahanya Mbak Melia hingga akhirnya jadi juara. Bisa jadi contoh nih untuk kita-kita yang ingin merambah ke dunia videography

Leave comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.