Kata Perempuan, Kesehatan

Kehidupan Saya; Saat COVID-19 Datang

Bukan satu dua kali saya menyiapkan telinga buat mendengarkan curhatan teman-teman yang keluarga atau sahabatnya terpapar COVID-19. Rasanya sedih saat melihat angka yang terpapar virus ini terus meningkat setiap harinya. Tapi rasa sedihnya beda kalau di antara angka-angka tersebut, terdapat orang-orang yang kita kenal dengan baik, misalnya keluarga, sahabat atau tetangga. Rasa sedihnya terasa lebih dalam. Semakin terasa, bahwa COVID-19 teramat dekat.

Kehidupan Kami Saat Pandemi

Maka, saya menjadi salah satu orang di rumah yang cerewet soal protokol kesehatan. Beberapa kali ada teman dari luar kota main ke Bogor dan saya cuma bisa minta maaf karena nggak bersedia rumah kami dikunjungi. Saya mencoba menyadari, bahwa saya nggak hidup sendirian. Ada orangtua berusia lanjut – Bapak saya punya komplikasi di aritmia, hipertensi, dan diabetes. Ada kakak dan adik, serta amanah dua orang anak yang pintar dan lucu. Rumah selalu ramai kalau ada mereka berdua dan seketika sepi kalau mereka tidur. 

Banyak orangtua yang resah dengan sistem pembelajaran daring. Saya nggak. Buat saya, ini masih yang teraman dan ternyaman untuk kami. Toh, saya juga sudah menurunkan ekspektasi tentang menurunnya nilai akademik mereka karena sistem pembelajaran daring yang memang bisa dibilang kurang optimal dibandingkan tatap muka.

Sebagai lansia dengan aritmia, hipertensi, dan diabetes, sudah tentu Bapak saya harus rutin mengonsumi sejumlah obat. Kekhawatiran jika harus sering datang ke RS yang memang tempatnya orang sakit dan berpotensi ada banyak virus di sana, saya memutuskan untuk memilih membeli obat dengan dana pribadi. Padahal kalau tetap memanfaatkan fasilitas BPJS, obatnya bisa gratis. Tapi riskan sih sering-sering pergi ke RS. Nggak papa keluar uang, yang penting obatnya bisa diperoleh dan Bapak saya aman nggak usah pergi kemana-mana. 

Source: Pixabay

Apalagi kemudian beliau mengalami gangguan di mata. Periksa pertama kalinya ke dokter dan harus rutin berobat mata. Bayangkan, kalau harus kontrol ke RS buat cek aritmia, hipertensi, dan diabetesnya gimana, coba? Bakal sering banget mondar-mandir ke RS. Jadi, saya fokus saja untuk pengobatan mata setidaknya sampai operasi tahun 2021. Sebegininya saya mengusahakan semua semua anggota tetap di rumah aja.

Sembilan bulan di rumah, semua aktivitas benar-benar saya batasi juga. Pergi-pergi hanya untuk urusan yang betul-betul penting, misalnya ke bank, mengantar orangtua ke klinik/RS, dan lainnya. Itupun segera pulang kalau urusan sudah selesai. Mau pergi lama-lama juga nggak nyaman, kok. Apalagi di awal pandemi, kepala saya langsung pusing atau tiba-tiba sakit tenggorokan saat berada di luar rumah. Katanya sih itu namanya gangguan psikosomatis. 

Selanjutnya mulai biasa lagi. Tapi tetap, males juga keluar-keluar rumah karena nggak sesimpel dulu. Peralatan tempurnya mesti lengkap dan bikin tas jadi berat. Jadi ya mendingan di rumah aja, deh.

Saya sampai menahan diri melakukan hobi berlari. Apa enaknya lari mengenakan masker? Nggak enak. Bahkan jalan kaki pun saya pilih di daerah perbukitan atau perkebunan – udara masih bersih dan nyaris nggak ada orang lalu-lalang. Paling ngeri aja kalau tiba-tiba ada orang jahat yang mau nyulik saya, wkwkwk

Anak-anak, gimana? Ya berjemur sebentar aja deh di taman ujung gang. Mereka kooperatif banget diajakin buat nggak kemana-mana. 

Suatu hari, saya pernah bilang ke teman-teman. Bepergian saat pandemi gini tuh nggak enak. Boros deterjen! Ya iyalah, sampai rumah semua harus segera dicuci. Mulai dari atas ke bawah, dari luar ke dalam. Berapa kg deterjen yang dibutuhkan kalau sering-sering bepergian? 

Kejadian nih, saat saya kembali bekerja di luar rumah. Berangkat dengan membawa semua perlengkapan tempur mulai dari masker isi lima (habis dalam sehari), hand sanitizer, tisu, minyak kayu putih, air minum, vitamin, jamu, sajadah, mukena, sandal, sampai gelas, sendok, dan piring saya bawa dan cuci sendiri. Sampai rumah pun buru-buru mandi, ganti baju, merendam pakaian kotor, dan baru berani berdekatan dengan anak-anak setelah itu. Kadang saya harus melotot karena bungsu maunya cepat-cepat memeluk. 

Akhirnya, Mengalami Swab Juga

Banyak cerita dari teman-teman yang kehilangan anggota keluarganya karena COVID-19. Sedih, dengarnya. Siapapun nggak mau tapi skenario Tuhan kita nggak pernah tahu, kan?

Sama seperti saat saya ternyata juga harus menjalani swab antigen Desember lalu dan disusul dengan swab PCR beberapa hari kemudian. Melupakan bayangan sejak awal bahwa saya merasa aneh ada benda asing yang dimasukkan ke lubang hidung. Mencoba hepi-hepi aja. Tentu sebagai manusia biasa, jauuuuh di lubuk hati, terbersit kekhawatiran. Kalau saya sakit, anak-anak gimana?

Saya nggak setuju sih kalau ada orangtua bilang, “Daripada anak yang sakit, mendingan saya yang sakit.”

No. Justru saat orangtua sehat, dia bisa melakukan banyak usaha untuk kesembuhan anaknya. Gitu, bukan? 

Source: Pixabay

Bukan cuma Kris Dayanti yang pernah Menghitung Hari. Saya pun sama. Sejak swab PCR dilakukan, saya mulai menghitung hari.

H+1

H+2

H+3

H+4

H+5

Hasilnya belum kunjung keluar padahal katanya tiga harian. Semakin lama hasil keluar, semakin sulit buat saya menyusun rencana. Mau ngapain setelah ini, apapun itu hasilnya. Setiap orang yang menghubungi saya selalu mendoakan supaya hasilnya negatif. Saya aminkan. Tapi saya sudah menyiapkan ruangan khusus di hati andai hasilnya positif. 

Saya nggak pesimis. Tapi buat saya, penting menyiapkan mental untuk setiap hasil yang nggak kita harapkan. Supaya nggak too much shocked! 

Kalau pikiran saya cuma ke satu hasil aja, pasti saya akan sangat kecewa, sedih, dan panik. Hati dan pikiran sudah terlalu melekat pada satu hal yang saya nggak tahu Allah rencanakan itu untuk saya atau nggak. Padahal self acceptance untuk setiap hal yang Allah beri itu penting. Supaya hati kita nggak melulu terpaku sama keinginan diri, biar bisa melangkah maju.

H+7 malam. Saya berencana melakukan swab PCR ulang di RS swasta. Oiya, sebelumnya saya ikut swab PCR di Dinas Kesehatan melalui Puskesmas Bogor Timur. Kalau ada yang bertanya kok hasilnya lama banget. Mungkin ada banyak banget sampel yang harus diproses. Itu aja jawaban saya. 

H+8 pagi. Saya menghubungi beberapa RS swasta di Bogor untuk mencari tahu pelayanan swab PCR dan tarif yang dikenakan. Hati saya sudah ‘klik’ dengan salah satunya. Siap-siap melakukan reservasi.

H+8 sekitar pukul tujuh pagi. Hasil swab PCR sudah keluar. Positif. Antara lega dan mencelos. Lega, karena jadi tahu saya harus apa. Mencelos karena, “Apa yang akan terjadi sama keluarga saya, anak-anak saya?”

Setelah Terkonfirmasi Positif COVID-19, Apa yang Terjadi Kemudian?

Saat tulisan ini dibuat, saya dalam keadaan sudah sangat membaik dibandingkan sebelumnya. Tinggal batuk kering dan sedikit mudah lelah saat beraktivitas – katanya ini memang khas COVID-19 banget. Saya hanya butuh terus berlatih pernapasan. 

Saya memberikan kabar ke keluarga, perusahaan tempat saya bekerja, lingkungan tempat tinggal, dan tentunya teman-teman. Alhamdulillah, semuanya memberikan semangat dan dukungan. 

Kedua orangtua saya juga positif terpapar COVID-19. Perjuangan mereka harus lebih besar karena usia dan penyakit penyerta. Saya harus tetap semangat memulihkan kondisi diri sendiri dan keluarga. Kalau saya nggak menyiapkan diri dari awal untuk menerima apapun hasilnya, saya yakin saya bakal terus-terusan panik. Alhamdulillah, Allah ingatkan saya untuk begini. 

Di tengah situasi yang sama sekali nggak nyaman ini, saya bersyukur banget Allah hadirkan banyaaak sekali orang-orang baik. Kalau yang membuat saya pengen menitikkan air mata ya karena itu. Saat banyak doa diluncurkan buat kami sekeluarga. Suara dari ponsel yang sebentar-sebentar, berdentang.

“Semoga lekas sembuh, ya. Tetap semangat.”

“Pulih lagi. Pasti bisa lewati ini.”

“Aku gantungin paket ya di pagar rumahmu.”

Kulkas kami jadi penuh sama kiriman paket berisi uluran kasih sayang dari teman-teman dan tetangga. Macam-macam, mulai dari beras, sayuran, daging ayam, singkong, bumbu dapur, buah-buahan, madu, masakan matang, sampai vitamin. Banyaaak banget, MasyaAllah …

Sungguh, saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada teman-teman semua. Semoga Allah balas dengan kebaikan berlipat. Aamiin. Terasa banget manusia itu keciiil banget tanpa pertolongan-Nya. Saya masih sanggup berusaha lebih untuk pulih.

Nggak papa menelan begitu banyak obat, vitamin, dan berbagai macam ramuan yang katanya bisa membantu memulihkan. Kalau yang kenal dekat dengan saya, pasti tahu ini adalah sebuah keajaiban. Beberapa kali diopname di RS karena tipus dan DBD, saya nggak pernah meminum obat telannya. Semua saya masukkan ke dalam laci. Iya, saya sebandel itu nggak mau menelan sesuatu apalagi kalau berbau dan pahit. Tapi saat ini saya berhasil menelan obat dan vitamin yang ada. Nggak peduli aromanya bikin saya mual.

Saya terbuka sih menerima masukan mengonsumsi ini dan itu sepanjang logis. Asal jangan suruh saya minum air yang habis ditiup-tiup sama dukun aja.

Nggak papa saya menahan pengapnya udara karena harus seharian mengenakan masker – dilepas hanya ketika makan dan berada di kamar mandi. Nggak papa wajah saya beruntusan karena bahan dari masker medis memang membuat kulit wajah saya begitu. Nggak papa telinga saya nyeri dan memerah karena lilitan tali masker. Memang semestinya talinya dililitkan dahulu bukan sekedar dicantolkan ke telinga.

Nggak papa saya harus menahan diri dari ngemil makanan ringan, terus makan makanan bening berkuah, nggak makan sambal, karena saya mau tenggorokan saya tetap bersih. Tanpa rasa gatal yang bisa merangsang batuk. Saya sudah menjelang pulih, InsyaAllah. Jadi, harus saya juga menuju benar-benar pulih.

 

Sixteen Days been Apart

Supaya bisa bertemu anak-anak lagi, bisa beraktivitas seperti biasa lagi, bisa bekerja lagi, bisa menikmati waktu bersenda gurau bersama keluarga lagi. Saya kangen berjalan tergesa menuruni tangga stasiun, lari-larian mengejar kereta, atau berdiskusi dengan banyak orang. 

Terkonfirmasi Positif COVID-19; How Do I Feel?

COVID-19 seperti angin kencang yang menghempaskan buku diari saya sampai tiap lembarannya berpencar kemana-mana. Mungkin ada lembarannya yang jatuh di atas genangan air lalu basah dan kerkerut. Mungkin ada lembarannya yang jatuh di atas lumpur lalu berubah warna. Tapi semuanya masih lengkap. Saya hanya perlu bergerak mengumpulkannya, menjadikannya utuh, menyatukannya kembali. Meski mungkin ada yang nggak sesempurna dulu. InsyaAllah, biar kami yang akan saling menyempurnakan.

Lembaran-lembaran itu adalah anak-anak saya, orangtua, kakak adik, keponakan dan ipar, pekerjaan, hobi, dan semua hal yang saya miliki. Anak-anak diungsikan ke rumah kakak saya sejak awal saya diisolasi. Kami saling merindukan. Anak-anak rindu saya peluk dan saya rindu memeluk mereka. Anak sulung saya rindu sama tanaman dan ikan hiasnya. Ah, saya ingat, dia memang tipe penyayang.

Berstatus sebagai pasien COVID-19, akan menjadi pengalaman hidup yang nggak akan pernah saya lupa.  Saya terpilih sebagai salah satu dari milyaran manusia di dunia. Pasti ada hikmahnya, saya yakin itu. See, jika sudah mematuhi protokol kesehatan saja masih bisa membawa saya ke titik ini, bagaimana dengan orang-orang yang abai? 

Sejak isolasi mandiri, saya begitu ingin menuliskan cerita tentang COVID-19 ke dalam blog ini. Tapi kondisi baru memungkinkan hari ini. Saat mata saya sudah lebih bisa diajak kerjasama menatap layar dengan lebih baik dibandingkan hari-hari kemarin. 

Mungkin juga karena suntikan semangat dari seorang guru saya, “Mel, semoga segera sembuh. Nulislah. Itu obat mujarab.”

Jadi, semoga besok, besok, dan hari-hari selanjutnya, saya benar-benar kembali sehat. Paling nggak cukup fit untuk menulis. Saya abadikan semua pengalaman itu di sini, di rumah maya ini. Menulis sebagai obat. Kamu, kalian, terus sehat ya.

 

Salam sayang,

Melina Sekarsari

7 thoughts on “Kehidupan Saya; Saat COVID-19 Datang

    1. Aamiin … Aamiin …

      Jangan nangis, dong. Kan Kak Wied harus kasih semangat ke aku. Ntar ikutan nangis, nih.

      Jaga kesehatan ya, Kak. Semoga selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.

  1. sedihnyaaa… nggak kebayang nggak ketemu anak-anak apalagi ada orang tua yang lebih rentan. Alhamdulilla sudah pulih ya.. semoga blog ini bisa memberi semngat bagi orang-orang yg juga terkena covid ya..

    1. Iya, nih. Udah 20 hari aja jauhan sama anak-anak. Alhamdulillah, sudah membaik tapi belum sepenuhnya pulih, Mbak. Masih terasa nggak enak buat bernapas. Sehat-sehat ya, Mbaaak …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.