Kata Perempuan

Cara Sederhana Menjadi Teman Menyenangkan

Punya waktu buat sendiri itu menyenangkan. Kadang diri kita butuh waktu untuk menjadi diri sendiri sekaligus cuma mikirin diri sendiri. Egois? Buat saya sih nggak. Kadang lelah loh memposisikan diri kita sebagai orang yang harus selalu bisa diandalkan, baik di rumah, kantor, maupun di lingkungan tempat tinggal. 

Pengen gitu, sesekali merasakan beberapa saat hidup sesuka hati, bisa melakukan apa saja, tanpa ada beban nggak enak sama orang-orang di sekitar kita. 

Jadi, punya waktu satu atau dua jam tuh rasanya indah banget. Kecuali kalau tujuannya traveling, ya. Paling nggak seminggu, deh. Kalau kelamaan khawatir banyak yang kangen. *Uhuk

Saat menjalani masa-masa isolasi mandiri karena COVID-19, waktu yang saya punya tanpa teman rasanya panjang banget. Hampir 30  hari nggak ketemu sama anak-anak maupun teman. Kalau sudah begini, begitu ada kesempatan ngomong di telepon, bisa dipastikan saya bakal nyerocos tanpa henti. Saking rindunya berpuluh hari nggak punya teman.

Jadi, punya teman penting nggak, sih?

Kelompok Teman di Hidup Saya

Duh, susah deh mendefinsikan makna teman secara spesifik. Semua orang yang memang saya kenal akan saya labeli dengan status teman. Orang-orang yang saya sekadar tahu namanya pun bakal saya anggap teman juga. 

Oleh karena itu, di dalam hidup saya ada berbagai macam teman sesuai dengan seberapa dekat dia sama saya, yaitu:

1. Teman Baik

Ini adalah kelompok teman-teman yang saya kenal baik tapi  sebenarnya kami nggak seakrab itu sih untuk saling curhat dan bertukar rahasia. Halah, kayak hidup saya punya banyak rahasia aja, wkwkwk

Teman baik artinya saya tahu banget karakter teman-teman ini, tahu apa yang mereka suka atau nggak, tahu kelebihan dan kekurangannya, dan tahu banget kekurangan saya bahwa saya nggak berani tampil malu-maluin di depan mereka.

Teman-teman di sini biasanya asyik banget buat diajak diskusi.

2. Teman Dekat

Sama teman-teman dekat ini, saya bisa cuek banget menampilkan sisi paling jelek sekalipun. Mau buang angin, makan saking lahapnya sampai celemotan, kesandung gedubrak terus jatuh dalam posisi yang nggak kece banget, sampai cerita pengalaman paling malu-maluin sepanjang masa. 

Apakah mereka termasuk teman curhat? 

Belum tentu, sih. Suka-suka saya lagi kepengen curhat atau nggak. Malah, lebih sering curhat di blog dan akhirnya seluruh dunia tahu dan curahan hati itu nggak lagi menjadi rahasia.

Malah diumbar sendiri, wkwkwk

3. Teman Sebatas Kenal

Sepertinya teman dalam jumlah terbanyak ada di kategori ini, nih. Hitung aja, coba. Mulai dari teman jaman sekolah sampai tetangga-tetangga kita. Ditanya kenal atau nggak, pasti jawaban saya kenal. Tapi bisa dibilang saya nggak tahu apa-apa tentang mereka. Terbatas banget deh infonya.

Malah, informasi yang saya punya tentang teman-teman ini tuh jauh di bawah teman-teman di dunia maya. Kalau dihitung-hitung, teman dunia maya yang saya pernah ketemu tuh cuma sedikit. Tapi saya bisa tahu banyak soal mereka. Yaaah, meski lewat cuma tulisan atau ngobrol di group WhatsApp. 

Nyaman-nyaman saja gitu saling bercerita, tanya pendapat, bahkan saling memberikan dukungan baik urusan pekerjaan maupun pribadi. Ini kondisi yang kadang susah banget terjadi sama teman-teman dunia nyata yang sudah kenal lama tapi ya memang kenal seadanya itu.

4. Teman Tapi Nggak Nyaman

Sebagai manusia, saya pun seringkali punya khilaf, ya. Merasa pendapat teman soal A, B, C, tuh nggak sesuai dengan diri saya.  Kebiasaan yang menurut saya aneh, cara berbicara yang menurut saya terlalu kasar, macam-macam deh. 

Tapi kan mereka tetap teman-teman saya. Nggak lantas jadi musuhan. Aih, kok ya malas banget punya musuh. Kalau ditanya, “Musuhan ya sama dia?”

Kan lebih enak kalau menjawab, “Nggak, kok. Kita temenan. Cuma suka ada perbedaan yang kebangetan.”

Wkwkwwk

Teman Menyenangkan?

Lapis legit itu nggak enak!

Sejak kecil saya ketemunya lapis legit yang kalau masuk tenggorokan rasanya seret. Biasanya dapat seiris tipis di dalam sekotak nasi berkat dari syukuran gitu. Kebangetan ya, sudah gratis, dicela pula.

Begitu lapis legit nggak lagi nge-hits dan berganti dengan lapis Surabaya, tetap saja saya nggak suka rasanya. Lah gimana, ketemunya lapis Surabaya yang bikin tenggorokan seret. Sampai dewasa, saya masih bilang lapis legit dan lapis Surabaya itu nggak enak.

Lalu kualitas isi rekening membawa saya ke sebuah kedai teh bernama The Pink Door and Tea Room. Di sana, karena membayar pakai kartu debit, transaksinya minimal Rp 100 ribu – harga seteko teh yang saya pesan Rp 65.000. Terpaksa pesan kudapan juga dan saat itu cuma ada lapis Surabaya.

Waktu memencet angka-angka PIN di mesin EDC, dalam hati saya misuh, “Sumprit, sepotong lapis Surabaya aja harganya hampir Rp 70 ribu!”

Gigitan pertama, saya kaget. Lembut banget. Begitu mulai mengunyah, “Wah, ini enak banget!”

Kesimpulan saya setelah puluhan tahun menikmati lapis Surabaya adalah, dulu saya belum beruntung menemukan lapis Surabaya yang enak. Yah, dulu saya mainnya kurang jauh, isi rekeningnya kurang berkualitas, jadi nggak ngerti kalau ada lapis Surabaya yang enak!  

Apa sih hubungan sepotong lapis Surabaya dengan hubungan pertemanan?

 

Seteko teh yang memaksa saya pesan lapis Surabaya.

Sepotong lapis Surabaya itu membuat diri saya belajar menghargai.  Se nggak enak apapun lapis Surabaya yang pernah saya cicipi, nyatanya ada lapis Surabaya yang enak banget. Saya terlalu mudah menghakimi, terlalu mudah mengambil kesimpulan. Nggak pakai riset dan belum kaya pengalaman.

Apa sih yang bisa saya simpulkan dari sebuah data yang cuma ada satu saja?

Belakangan, saya baru tahu alasan lapis Surabaya enak itu harganya mahal. Bahan dan proses pembuatannya nggak kira-kira. Apalagi kalau tahu proses pembuatan lapis legit, beugh … menuangkan adonan layer demi layer, sampai dia berlapis ratusan macam wafer Tango. Dikira gampang apa?

Ternyata makanan pun bisa mengajarkan kita untuk nggak menghakimi dan mengambil kesimpulan sepihak, ya. Apalagi urusan pertemanan, kan. Itu sebabnya, saya meletakkan poin ini di urutan pertama teman menyenangkan versi saya.

1. Tidak Suka Menghakimi atau Mengambil Kesimpulan Sepihak

Saya ini manusia biasa. Sering banget punya kesalahan dalam hidup. Tapi semua itu terjadi karena ada ceritanya, ada alasannya. Sangat nggak nyaman ketika berhadapan dengan teman lalu mereka menghakimi sedemikian rupa. Tahu kesalahan kita lalu mengambil kesimpulan sepihak bahwa kita tuh begini dan begitu. Saya tuh nggak nyaman banget memperlakukan dan diperlakukan orang seperti ini.

Padahal di dunia ini ada kata bernama “diskusi”. Kenapa sih, nggak mengajak bicara saja? Mengajak bercerita dari hati ke hati.  Cari tahu dulu dari sumber yang tepat. Mengingatkan saat temannya salah dan menguatkan saat posisinya memang disudutkan. Gitu kan seharusnya? Versi saya sih iya banget.

Saking pentingnya poin ini, saya pernah menuliskan juga tentang alasan harus berhenti menjadi judgmental person.

Memangnya sedalam apa sih kita tahu soal hidup orang lain? 

2. Menghargai Perbedaan Pendapat

Teman saya yang paling dekat – saya bisa melabeli dia dengan kata ‘sahabat’, justru menjadi orang yang paling sering berbeda pendapat sama saya. Kami bisa dengan mudah saling mengungkapkan pendapat masing-masing. 

Perbedaan ini malah makin membuat kami jadi semakin dekat. Saling tahu bahwa kami berbeda. Sering beda pendapat tapi kok akur-akur terus? 

We are not wearing school uniform anymore. Masa iya, beda pendapat berujung gelut? 

Pada dasarnya, kami saling memahami alasan hadirnya perbedaan pendapat itu. Latar belakang keluarga, kondisi saat ini, pengalaman hidup, itu yang menjadi sebabnya. Iya loh, latar belakang kita punya pengaruh besar sama pemikiran di kepala.

Tapi hubungan pertemanan kami malah jadi semakin berwarna, sih. 

So, berbeda itu nggak apa-apa. Setiap orang masih bisa berteman. Hanya butuh modal saling menghargai perbedaan pendapat yang ada. Indah kan kalau begini?

Menginginkan Teman Menyenangkan Sesederhana Mungkin

Sederhana banget, cuma dua poin itu saja sih yang menjadi tolak ukur teman menyenangkan versi saya. Tidak suka menghakimi dan mengambil kesimpulan sepihak, dan menghargai perbedaan pendapat.

Setidaknya, itu juga yang saya bisa lakukan untuk teman-teman. Fair, saya nggak mungkin menginginkan orang lain melakukan hal-hal yang saya sendiri pun nggak mampu.

Teman-teman menyenangkan ini bisa datang dari mana saja, loh. Bisa dari teman-teman baik, teman-teman dekat, bahkan dari teman-teman yang sebatas kenal.

Orang lain mungkin punya versi berbeda. Teman menyenangkan itu yang perhatian, bisa dipercaya untuk menjaga rahasia, selalu ada saat temannya membutuhkan, menjadi pendengar yang baik, saling mengingatkan dalam kebaikan, macam-macam. 

Buat saya, itu adalah versi kita sebagai manusia yang seharusnya, sih, bukan versi teman yang menyenangkan. 

Again, pendapat tetap boleh berbeda. Saling menghargai saja. 

Hmmm … Kira-kira, saya sudah menjadi teman menyenangkan versi orang lain atau belum, ya? 

Ah, apapun itu, rasanya lebih penting memastikan bahwa kamu adalah versi teman menyenangkan menurut saya. Saya di mata orang lain, bukan saya yang berhak menentukan.

Salam Sehat dan Bahagia Selalu,

Melina Sekarsari

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge Sahabat Hosting

2 thoughts on “Cara Sederhana Menjadi Teman Menyenangkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.