Mempertahankan Kesehatan Mental di Tengah Pandemi COVID-19

Tadi pagi, anak-anak saya bilang, “Mama, coba deh perhatiin. Hari ini tanggalnya 21, bulannya satu, tahunnya 2021.”

Saya sih bukan pemuja angka cantik, tapi lihat angka 21012021 kok lucu juga, ya. Mudah diingat. Otak saya langsung membayangkan, terasa beda kali ya kalau di hari ini ada memorable moment di dalam hidup saya. 

Sambil mikir, semoga kabar yang tengah saya tunggu itu yang bakal jadi memorable moment. Sayangnya, nggak terkabul.

Masih positif!

Ini adalah tes PCR ke-3 saya dalam 29 hari terakhir. Terkejut? Iya banget.

Saya sampai bertingkah seperti orang yang baru pertama kali lihat laptop. Wajah saya deket-deketin ke layar. Siapa tahu salah baca. Tapi ternyata kualitas penglihatan mata saya masih bagus. 

How come? 

Setidaknya dalam seminggu terakhir saya sudah merasa sehat banget. Kok bisa masih positif? Yah, belum bisa kerja dong, isolasi lagi dong, belum bebas beraktivitas dong.

Isolasi, nggak bisa kerja, nggak bisa beraktivitas, sungguh … Ini kata-kata yang saya nggak suka. Mental oh mental, jangan sampai ikutan sakit, ya.

Penyakit Mental yang Mungkin Timbul

Apa hubungannya COVID-19 dengan kesehatan mental?

Betul sekali bahwa COVID-19 itu menular. Makanya pasien COVID-19 ini pun harus ditangani dan menangani dirinya secara benar. Menjalani isolasi mandiri atau memperoleh perawatan di RS apabila kondisi kesehatan mengharuskan seperti itu. 

“Semangat!”

“Tetap berpikir positif ya, biar imunnya nggak turun.”

Pesan-pesan mulia yang kerap disampaikan teman-teman ke saya. Sebegitu pentingnya tetap mempertahankan semangat dan berpikir positif untuk meningkatkan imunitas. 

Berkaca dari pengalaman pribadi dan teman-teman penyintas, sembuh secara fisik, belum tentu bisa hidup nyaman. Peran orang-orang di sekitar besar banget. Siapakah mereka?

Kita – keluarga, teman, tetangga, dan siapapun yang dikenal.

Ini beberapa penyakit mental yang mungkin timbul saat lingkungan nggak memberikan dukungan secara moral:

Perasaan Dikucilkan

Kehidupan Saya; Saat COVID-19 Datang menjadi tulisan pertama setelah lama nggak menulis. Niatnya untuk tujuan edukasi. 

Nggak nyangka, setelah tulisan tersebut tayang, ternyata banyak teman yang menghubungi saya di japri. Lebih nggak nyangka lagi, ternyata kemarin, kemarin-kemarinnya lagi, berbulan lalu, banyak sekali teman-teman yang terkonfirmasi positif juga. 

Sebagian besar dari mereka nggak pernah cerita – ditambah kami sudah lama banget nggak ketemu, kaget dong jadinya. Lambat laun, saya paham bahwa di luar sana, banyak sekali masyarakat yang nggak memperoleh informasi secara tepat mengenai COVID-19 ini. Apa yang harus dilakukan saat terkonfirmasi dan apa yang harus dilakukan saat keluarga, teman, atau tetangganya yang terkonfirmasi positif? 

Source: Pixabay

Dukungan materi memang sangat membantu. Siapa sih yang nggak akan terbantu saat isolasi, nggak bisa kemana-mana, tapi kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi? 

Tapi jangan lupa, dukungan moral juga nggak kalah penting. Malah efeknya jangka panjang. Sayangnya, ternyata masih banyak orang yang merasa risih. Takut lewat depan rumah orang yang terkonfirmasi positif – bahkan saat sudah sembuh pun tetap takut bertemu di jalan. Dikucilkan dari lingkungan tempat tinggal dan pertemanan itu menyakitkan, loh.

Saya jadi ingat, ada seorang teman yang harus betul-betul meyakinkan tetangganya bahwa keluarga mereka sudah betul-betul sembuh. Supaya apa? Ya supaya diterima di lingkungan tempat tinggalnya. Berdecak ngeri saya, kok jadi penyintas malah diposisikan seperti penjahat, sih?

Gangguan Kecemasan

Merasa dirinya dikucilkan, akan berlanjut dengan rasa cemas yang berlebihan. Pasien atau penyintas akan selalu merasakan kecemasan saat bertemu dengan orang lain. Lama-lama nggak berani keluar rumah dan bersosialisasi. Padahal sebagai makluk sosial, manusia nggak bisa hidup sendirian.

Ada kebutuhan untuk berinteraksi, berkawan, saling bertegur sapa, ngobrol, dan banyak lagi. 

Saya malah khawatir orang-orang yang seperti ini lama-kelamaan akan meyakini dalam alam bawah sadarnya, bahwa mereka memang berbahaya buat lingkungannya. Sudah sembuh pun akan tetap begitu. Lingkungannya benar, dia salah.

Nggak heran, kalau banyak orang memilih untuk bungkam saat terkonfirmasi positif. Memilih menyembuhkan diri sendiri daripada menerima bantuan dari sekitar tapi dipandang aneh setelahnya. Untuk apa sih memandang penyintas COVID-19 seperti mantan narapidana? Padahal narapidana pun bisa jadi sudah Allah terima taubatnya.

 

Depresi

Terisolasi terlalu lama, jauh dari teman dan keluarga, tentu menghadirkan rasa kesepian. Kondisi terisolasi membuat pasien menjadi nggak produktif. Ruang gerak terbatas, kendala ada saja kalau mau melakukan aktivitas. 

Dr. Jaka Pradipta Sp. P dari RS Mayapada Kuningan pun sempat melemparkan cuitan dalam salah satu thread-nya di Twitter. Terisolasi, nggak bekerja, jauh dari keluarga, bisa membuat pasien depresi.

 

Akun Twitter @jcowacko tempat saya belajar banyak tentang COVID-19 yang banyak orang belum paham

Dikucilkan dan dihinggapi gangguan kecemasan juga akan berujung kepada depresi – berlarut-larut merasakan rasa sakit. Kalau sudah begini, bantuan dari pihak ketiga yang ahli mutlak diperlukan. 

Terus, orang-orang yang menjadi pemicu atas terjadinya depresi ini, bisa membantu apa?

Membantu Menjaga Kesehatan Mental Pasien dan Penyintas COVID-19

Tetap mengobarkan semangat, optimis, dan berpikir positif adalah tugas pasien dan penyintas COVID-19 ini. Tapi jangan lupa, lingkungan punya peran besar buat merobohkan semua yang sudah dibangun oleh mereka. Kita kan nggak tahu, pasien atau penyintas ini menyimpan tanggungjawab yang seberapa besar di hidupnya di luar perjuangannya untuk sembuh.

Maka, alangkah bijaksananya kalau kita memberikan kontribusi nyata bukan secara materi saja tapi juga secara moral. Caranya nggak sulit, kok, hanya butuh kemauan saja. 

Ini beberapa langkah yang bisa dilakukan:

Hati-Hati dalam Berbicara

Penting buat lingkungan untuk bersikap bijaksana. Jangan menghakimi orang-orang yang terinfeksi dengan kalimat menyakitkan.

“Kok bisa kena? Nggak pakai masker, ya?”

Imbauan untuk mematuhi protokol kesehatan sudah didengungkan sejak lama dan di mana-mana. Tapi, menjadi pasien COVID-19 bukan berarti orang tersebut nggak taat protokol kesehatan. Jangan lupa, sikap abai dari kita bisa merugikan mereka yang sudah patuh. 

Makanya ada tagline kan bahwa ‘maskerku melindungimu dan maskermu melindungiku’. Kalau yang pakai masker cuma kita sendiri ya sama saja bohong, dong.

 

Source: Pixabay

Jangan pula melemparkan pertanyaan tapi bernada nyinyir.

“Kok bisa kena? Emang kamu habis kemana?”

Banyaaak, orang-orang yang akhirnya positif karena suka bepergian, kumpul-kumpul, nggak percaya sama adanya virus ini. Tapi jangan lupa juga bahwa ada orang-orang yang masih butuh beraktivitas di luar rumah, misalnya dalam rangka bekerja. 

Pasien COVID-19 bukan terdakwa yang harus dihujani beragam pertanyaan apalagi yang bernada nyinyir atau menghakimi. Yakin deh, nggak akan ada kesimpulan yang bermanfaat dari daftar hujan pertanyaan dan tuduhan itu.

Yakin juga, itu hanya akan memuaskan orang-orang yang bertanya. Mungkin ini juga bagian dari rasa ketakutan dari diri mereka karena takut tertular.

Memberikan Kalimat Dukungan

Daripada menambah beban pikiran teman-teman yang terpapar virus ini, kita bisa kok memilih untuk memberikan dukungan. Saya merasakan banget, dukungan dalam bentuk kalimat tuh sangat membantu dalam menenangkan kisruhnya hati dan pikiran.

Saya yakin, nggak sulit kok menyampaikan kalimat dukungan sederhana seperti di bawah ini:

“Semangat terus, ya. InsyaAllah segera sehat.”

“Udah, jangan banyak pikiran. Kita semua mendoakan loh biar kamu cepet pulih lagi.”

“Gimana kabar kamu hari ini? Batuknya udah berkurang?”

Perbuatan positif yang kita lakukan pada orang lain, akan berbalik positif ke diri kita sendiri juga, loh. Dan sebaliknya. Jadi, hati-hati. *Nakutnakutin

Memperluas Wawasan

Kenapa sih ada orang yang sebegitu nyinyirnya sama orang lain yang terinfeksi COVID-19 ini? Mulutnya yang terbiasa berkata jahat, atau karena rasa takut tertular yang berlebihan? Merasa diri paling bersih dan sehat, gitu?

 

Source: Pixabay

Kalau jawabannya yang kedua, coba instrospeksi diri. Seberapa jauh sih pemahaman kita mengenai COVID-19 ini, termasuk cara penularan virusnya? Betul nggak sih virus ini bakal nyaplok kita kalau lewat di depan rumah orang yang terkonfirmasi positif? 

Media sosial memberikan banyak banget informasi soal virus ini. Punya smartphone, paket data ada, tinggal mengajak jari saja untuk belajar lebih dalam. Luasnya wawasan kita akan mempengaruhi kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak. Jadi seminimal mungkin nggak akan menyakiti orang lain karena sudah paham duluan.

Nah, gimana kalau jawabannya yang kedua – akibat mulut yang terbiasa berkata jahat. Wah, kalau ini sih, jangan-jangan orang itu yang malah tengah mengalami gangguan mental. Orang rame-rame berbuat kebaikan, nah ini malah sibuk berkata jahat.

Menjaga Kesehatan Mental Saat Menjalani Isolasi

Siapa yang nggak jenuh saat berhari-hari – bahkan bisa sebulan lebih ‘terpenjara’ di dalam kamar? Kamar ya, bukan di dalam rumah. Apalagi kalau kamarnya bayar karena isolasi mandiri di dalam rumah nggak memungkinkan.

Tapi tetap dong harus berusaha menjaga pikiran supaya tetap waras. Ini dia beberapa kegiatan yang saya lakukan selama isolasi mandiri untuk tetap menjaga kesehatan mental:

 

Tetap Produktif Berkarya

Tetap produktif penting artinya buat saya. Apapun itu, ada sesuatu yang harus saya produksi dari otak. Nggak bisa nggak. Berhenti produktif itu seperti kehilangan harga diri

Makanya, selain membawa bekal pakaian, makanan, air minum dalam kemasan, peralatan makan, spons, sabun, buah-buahan, madu, obat-obatan, vitamin, dan saldo di rekening, saya juga membawa laptop dan internal microphone. Mau bawa tripod ternyata penyangganya patah. 

 

Sejak menjalani isolasi pertama kalinya sehari setelah mengalami gejala, saya sudah berniat banget untuk menuangkan pengalaman hidup yang luar biasa ini. Maunya dalam bentuk tulisan, audio, dan video. Karena keterbatasan, pengalaman menjadi pasien COVID-19 ini baru saya tuangkan dalam beberapa tulisan.

Kamu juga bisa loh dapat informasi tentang seperti apa sih gejala COVID-19 yang saya rasakan dari hari ke hari. Saya sudah tulis. Silakan dibaca, ya.

Membaca Kitab Suci

Nggak bisa dipungkiri, saat-saat tersulit dalam hidup, mendekatkan diri pada Tuhan selalu terasa menenangkan. Mungkin ini teguran keras atau ujian kenaikan kelas. 

Kepada siapa sih mau meminta kesembuhan kalau bukan langsung kepada Pencipta kita? Memangnya mau mengandalkan kiriman doa terus dari teman-teman kita? Atau, malah sengaja titip doa, takut teman-teman lupa berdoa buat kita. 

“Doain ya, saya segera sembuh.”

Hamba yang kebangetan ini, sih.

Menonton Film

Saat keluhan di mata berangsur menghilang, saya mulai mengisi waktu dengan menonton film. Ada beberapa film yang saya tonton tapi beneran deh, film ber-genre komedi jauh lebih menyenangkan. Bisa ketawa sampai berlinang air mata.

Jadul banget, saya nonton Richie Rich dan Baby Day’s Out. Coba, film tahun berapa iniii?

Kesehatan Mental Menjadi Tanggungjawab Bersama

Kesehatan mental kerap dipicu oleh hal-hal di luar diri kita. Itu sebabnya, penting menjaga ucapan dan tindakan kita agar nggak menyakiti perasaan orang lain. Kita nggak pernah tahu seberapa dalam masalah yang tengah dipikul seseorang. Maka, jangan deh menambah masalah orang tersebut dengan ucapan dan tindakan kita.

Sama halnya dengan, kita belum tentu tahu bagaimana rasanya menjadi pasien COVID-19. Sakit yang dirasakan secara fisik, sakit di dalam hati karena berjauhan dari keluarga dan teman, sakit di pikiran karena bingung nggak bisa melaksanakan pekerjaan, juga sakit di kantong karena saya merasakan banget pengeluaran yang tiba-tiba luar biasa membengkak.

Maka, jangan deh menambah rasa sakit itu dengan ucapan dan tindakan yang menyakiti.

Kesehatan fisik dan mental harus sama-sama diupayakan untuk sembuh. Kalau kita bisa bersama-sama mendukung dalam bentuk materi, kita tentu juga bisa melakukan hal yang sama dalam bentuk moral. 

 

Salam Bahagia dan Sehat Selalu,

Melina Sekarsari

Tulisan ini diikutsertakan dalam 30 Days Writing Challenge bersama Sahabat Hosting

2 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like