Merayakan 100 Hari Usai Terkonfirmasi Negatif Covid-19

“Mbak Mel, apa kabar? Kemana aja?”

Percaya atau nggak, banyak banget pesan kayak gini masuk ke WA, FB, maupun IG saya. Banyak yang nyariin karena memang saya seperti menghilang dari media sosial. Dunia yang begitu dekat dengan saya beberapa tahun terakhir. 

Apalagi, lebih dari 120 chats belum pernah dibuka. Boro-boro mau bales, dibaca aja belum. Kemana aja saya beberapa bulan terakhir ini?

Sibuk sama urusan kantor ya, sayangs … Urusan pekerjaan memang jadi prioritas utama sekarang ini. Tapi gimana sama kabar saya sendiri?

Setelah berbulan-bulan, akhirnya punya kesempatan buat bercerita. Yuk mari …

 

Pesan dari Seorang Teman

“Waspada sama long covid.”

“Kalau sampai kena long covid, sabar ya. Mungkin akan panjang. Tapi kamu pasti bisa.”

Dua dari banyak pesan dokter dan tenaga kesehatan yang mendampingi saya sewaktu terpapar covid-19 dulu. Bagi yang belum tahu, long covid adalah kondisi saat tubuh kita masih mengalami gejala-gejala berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sejak terinfeksi. 

Teorinya, virus sudah nggak akan punya efek menularkan lagi dalam kurun waktu 14 hari. Meskipun kalau dites, belum tentu langsung negatif. Kayak saya dulu, yang baru dapat hasil negatif setelah tes PCR ke-4. Dari berbagai sumber yang saya baca dan dengar, bangkai virus pun masih bisa bikin hasil tes PCR kita positif. Kan nyebelin ya, udah mati, udah jadi bangkai, masih aja nyusahin. 

Setelah lewat dari 14 hari, saya belum betul-betul kembali sehat. Gejala terpanjang waktu itu adalah batuk kering dan rasa mudah lelah. Dua kondisi ini yang nginthil terus kayak bayangan. Di sini, saya sudah kena long covid. 

Back to Work

Setelah terkonfirmasi negatif, akhirnya saya bisa kembali bekerja. Ngantor, the next day after negative confirmation email was received. Nggak pakai nunggu besok, lusa, apalagi minggu depannya. Saya sudah kangen beraktivitas layaknya orang sehat. 

Kembali bekerja, saya harus berusaha lebih. Ini bidang yang sudah tiga tahun lamanya betul-betul saya tinggalin. Nggak ada jalan lain, saya harus belajar lagi dari teman-teman, orang-orang yang mungkin level strukturalnya di bawah saya, tapi pengetahuannya bisa jadi ada di atas saya. 

Sampai kemudian dipertemukan dengan hari-hari saat harus mengerjakan pekerjaan yang lumayan banyak dan harus selesai sesuai jadwal. Lupakan waktu kerja delapan jam kerja sehari – eh tapi dari dulu saya juga nggak pernah beneran kerja delapan jam sehari, sih. Setidaknya saya bekerja paling sedikit 10 jam sehari. 

Kembali menjadi anker (anak kereta).

Everyday work from the office, kakak dan teman-teman baik saya kerap ngingetin. 

“Itu beneran mesti ngantor tiap hari? Kamu tuh baru sembuh, loh.”

“Nggak bisa WFH aja, apa? Riskan banget ketemu orang banyak tiap hari.”

“Jangan lupa minum susu, vitamin, pastiin daya tahan tubuh tetap bagus.”

Nggak semua perusahaan bisa menerapkan WFH untuk seluruh karyawannya. Salah satunya alasan peralatan dan perlengkapan kerja, dan tentunya mekanisme untuk bisa mengakses informasi apapun yang diperlukan untuk bekerja. Saya nggak sendiri, sih. Di dalam commuterline, banyak banget orang-orang yang seperti saya. Tetap harus berangkat ke tempat kerja. Semua punya resiko, tapi semua juga punya kesempatan untuk tetap menerapkan protokol kesehatan.

Masukan positif termasuk doping untuk untuk mempertahankan daya tahan tubuh juga harus diperhatikan. Kalau bukan diri sendiri, lantas mau mengandalkan siapa lha wong yang dijaga ya tubuh kita sendiri.

Usaha untuk Tetap Sehat

Bisa dibilang, awal-awal pandemi saya lumayan paranoid. Baru keluar rumah sebentar, badan sudah gregres-greges, tenggorokan sakit, tiba-tiba bersin, dan anehnya, begitu sampai rumah, sehat segar seperti sediakala. Seiring berjalannya waktu, lama-lama terbiasa berkegiatan di luar rumah. Tentunya, dengan membawa peralatan tempur yang lebih lengkap dari biasanya.

Kondisi itu tetap saya pertahankan saat kembali bekerja. Selain memang tas perempuan itu nggak saya banget, backpack jadi pilihan karena lebih fungsional buat membawa banyak perlengkapan saat pandemi begini, seperti masker cadangan, hand sanitizer, tisu basah, dan spray yang mengandung antivirus dan bakteri.

Bukan hanya soal perlengkapan yang dibawa, disiplin pada protokol kesehatan lagi-lagi juga nggak boleh diabaikan. Selalu menggunakan moda transportasi commuterline, saya manfaatin banget segala fasilitas yang bisa digunakan. Kalau ketemu wastafel lengkap dengan sabun pencuci tangan, mampir lah buat cuci tangan. Suka tidur sambil nempelin kepala ke dinding kereta, bisa semprot spray dulu biar tidur nyenyak tanpa was-was.

Empon-empon dari Timoer Store - Yogyakarta

Berhubung saya nggak suka minum obat telan – alasannya karena suka nyangkut di tenggorokan, buat menjaga daya tahan tubuh, saya lebih memilih ramuan herbal dalam bentuk cair. Rutin minum jamu, empon-empon, dan obat panas dalam dan pernapasan dari Cina. 

Obat China yang saya konsumsi, cuma diminum dua atau tiga hari sekali aja. Ini obat yang dulu saya minum semasa positif covid-19 dan mengalami gangguan di pernapasan. Bagus dan cocok banget buat saya. Area pernapasan jadi lega, gitu.

Merasa Sepi Tanpa Teman

Bagi yang kenal baik sama saya, pasti tahu pasti, saya tipe orang yang suka bercerita. Sebagai perempuan, ya wajar, sebab saya dan semua perempuan di dunia, punya kebutuhan mengeluarkan puluhan ribu kata dari kepala. Meski hanya untuk cerita perkara receh bahwa di suatu pagi saya pernah gagal melakukan tap in di pintu stasiun gara-gara ternyata yang saya tempelin adalah KTP bukannya KMT. Terserah kamu aja mau kategorikan ini sebagai perkara receh atau perkara bodoh, hahaha

Lingkungan kerja baru nggak bisa membuat saya serta merta melampiaskan kebutuhan itu. Sebagai orang yang nggak mudah akrab, saya butuh waktu panjang untuk bisa dekat dengan seseorang. Mungkin akan bisa lebih mudah, andai semuanya melalui proses pendekatan, lewat ngobrol bareng saat waktu-waktu luang, misalnya. 

Sayangnya, saya nggak bisa begitu. Baru sembuh dari covid dan menyadari bahwa masih berada di masa pandemi, membuat saya takut buat duduk makan siang bareng – apalagi di ruangan tertutup. Saya takut, masih punya sisa-sisa virus yang mungkin ada dan bisa menularkan. Saya juga takut, selepas dari covid daya tahan tubuh saya nggak sebaik dulu. Ada teman yang OTG, lalu saya mudah sekali tertular kembali karena itu. Semua orang saya anggap OTG, hahaha

Lagi suka lagu-lagunya Dimash karena ada yang pakai bahasa Mandarin jadi bisa sekalian belajar.

Akhirnya, buku dan aplikasi Spotify jadi teman sahabat sejati sepanjang waktu makan siang. Duduk sendirian di meja kerja. Melelahkan sebetulnya, bekerja dan makan siang di meja yang sama. Secara psikologis, nggak baik sih karena otak rasanya seperti nggak beristirahat di waktu-waktu makan siang itu.

Saat Ramadhan kemarin, beberapa kali saya cheating makan siang bareng teman. Sedikit khawatir, tapi berada di luar ruangan kadang menurut saya masih lebih aman dibandingkan duduk bareng-bareng di dalam ruangan tertutup. Tahu nggak, selain kenyang, rasanya saya bahagiaaa banget. Punya kesempatan ngomong yang nggak melulu soal pekerjaan. Kayak orang dari pedalaman, terus hepi banget lihat suasana kota, hahaha

Tapi nggak mau sering-sering juga. Saya jagain diri sendiri dan orang lain lah, ya.

Apakah Saya Masih Mengalami Long Covid?

Sejak pertama kali kembali ke kantor pada 4 Februari 2021 lalu, kondisi kesehatan saya tergolong baik. Yah, capek pegal linu masih dalam batas wajar lah. Namanya juga sering berdiri di dalam commuterline atau naik turun tangga di stasiun. 

Tapi, gimana sih dengan kondisi kesehatan secara spesifik? Apakah long covid beneran nginthilin hidup saya selepas terkonfirmasi negatif?

Secara medis, saya nggak mengalami gejala yang sama seperti saat sakit dulu. Sakit kepala, demam, rasa menggigil, nyeri dan panas pada mata, batuk kering, rasa mudah lelah, saya sama sekali nggak mengalami itu semua. 

Tapi dari berbagai sumber yang saya baca, long covid bukan hanya muncul dalam wujud gejala medis yang seperti yang saya sebutkan di atas. Long covid juga bisa muncul dalam bentuk lain, seperti kehilangan konsentrasi dan rambut rontok. Dua hal ini, yup, saya mengalaminya meskipun lambat laun mulai menghilang.

Me, today ... Setelah 100 Hari

Hari ini, tepat 100 hari setelah terkonfirmasi negatif, apa kabarnya saya?

Alhamdulillah, saya dalam kondisi sehat. Sama sekali nggak ada gejala sakit yang mengarah pada covid-19. Saya sudah sempat ikut Quantitive Antibody Test juga di salah satu RS swasta rujukan covid-19 di Bogor. Hasilnya, Alhamdulillah … Tubuh saya sudah reaktif terhadap antibodi anti sars covid-19. Saya masih mau ketemu dengan dokter untuk diskusi mengenai hasil tes tersebut. Cukup banyak kah antibodi yang saya miliki, cukup mendukung kah untuk melakukan aktivitas seperti sekarang ini, apakah saya masih memerlukan vaksin, dan sudah cukup layak kah saya bergabung menjadi donor plasma konvalesen?

InsyaAllah, nanti saya cerita hasilnya ya ke teman-teman semua.

Alhamdulillah, 38tahun. Alhamdulillah, sehat.

Tepat 100 hari sejak terkonfirmasi negatif, hari ini Allah masih beri saya kesempatan menghirup udara di usia yang ke-38. Sehat, bahagia, dan semoga senantiasa dilimpahi keberkahan dalam setiap langkah kaki dan dalam setiap hirupan napas.

Ada yang berbeda dari tahun-tahun lalu. Sekarang, saya merasa lebih santai dalam menjalani hidup. Nggak mau berpikir yang terlalu berat. Lebih bisa mengontrol emosi, termasuk merespon apapun yang saya lihat dari mata, terlebih lagi yang saya dengar dari kedua telinga.

Apapun yang positif saya akan merekam baik-baik di dalam satu keranjang di dalam kepala, tanpa menguncinya. Hati saya bebas mengaksesnya kapanpun saya mau. Hati saya bisa bebas berterima kasih pada siapapun yang mengirimkan ini, kapan saja.

Apapun yang negatif akan saya simpan di dalam keranjang lainnya di dalam kepala, dan menguncinya rapat. Hati saya sudah tahu, isi di dalam keranjang yang ini nggak perlu dibuka lagi. Hati saya tahu, nggak ada kesempatan untuk membuka keranjang ini karena akan berpotensi membuka luka, keinginan membalas dendam, dan sakit hati berkepanjangan yang nggak ujungnya. Sama sekali nggak ada untungnya buat saya.

Saat swab PCR pertama saya mencantumkan hasil positif, seorang sahabat baik berkata, “Nggak apa-apa kena covid. Anggap aja ini ujian kenaikan kelas. Setelah ini kamu mau naik level.”

Mungkin, perkembangan kestabilan emosi ini adalah bagian dari kenaikan level tersebut. Ucapan sahabat saya itu benar dan saya berterima kasih untuk itu. Terima kasih juga buat semua orang yang sudah memberikan dukungan begitu besar saat saya terpapar covid-19, masih setia menanyakan kabar dan memberikan dukungan, hingga saat ini.

Semoga saya, kamu, kita semua, selalu sehat lahir dan batin. Aamiin.

 

Full of Love,

Melina Sekarsari

0 Shares:
61 comments
  1. Hai, Mbak Mel. Kangen dirimu nulis ah. Semoga aku termasuk yang menanyakan ke mana dirimu selama ini. Hahaha

    Btw, tetap sehat ya mbak. Aku juga agak parno Ama covid. Tapi memang gimana ya. Kita nggak bisa menghindari ini dengan aktivitas kita yang kadang menuntut untuk keluar. Jadi, ya lebih santai saja menjalani hidup. Aku sepakat sama paparan mbak di atas.

    Oh ya, Happy Birthday Mbakku… Wish you all the best. Nggak banyak kata untuk mendoakanmu. Cukup berbahagialah, Mbak.

    1. Aku juga kangen banget loh sama kamu. Kangen lihat ekspresi malu-malumu kalau kupaksa foto, hahaha…

      Semoga sehat terus kita semua ya. Kalau pun sakit, wis lah masuk angin biasa aja yang sehari udah sembuh.

      Aamiin Ya Robbal Aalamiin. InsyaAllah bahagia dunia akherat, yaaa.

    1. Hahaha iya nih, Mbak. Tapi aku selalu lihat timeline teman-teman termasuk Mbak Indri. Kangen nulis lagi, hihihi…

      Mbak Indri sekeluarga sehat-sehat juga, yaaa.

  2. Selalu ada hikmah di balik musibah ya, mba.. Mari jalani kehidupan ini dengan hati yang lebih tenang. Dengan demikian, kesehatan jasmani dan rohani akan lebih terjaga pula.

      1. Ada yang kelupaan.. Selamat ulang tahun ya, mbaaa.. ga terasa lhooo dikit lagi udah menginjak kepala empat hehehe.. Sehat-sehat dan sukses selalu yaa..

    1. Aamiin … 3019x. Bakoh … Beuh, ini kata yang sering diucapin sama guru meditasiku. Ya ampun, setelah sekian lama akhirnya denger kata ini lagi, hahaha …

  3. Kak Melinaa..
    Alhamdulillah, kini sudah sehat dan aktif kembali.
    Ujian berat pasti ini yaa..tapi selamat, kak Mel….berhasil melewatinya dengan sabat dan tawakkal.
    Semoga Allah beri kemudahan-kemudahan lain dan dijauhkan dari penyakit, apapun itu.

    1. Aamiin … 3019x.

      InsyaAllah berusaha sehat terus. Jangan lagi deh kena virus ini. Semoga Teh Lendy pun sehat selalu ya, biar aku bisa lanjut baca reviewan drakornya, hahaha …

  4. Betul banget, ujian mendewasakan kita lagi meskipun kita sudah dewasa. Membuat kita memikirkan ulang hal-hal penting yang sebelumnya kita remehkan atau acuhkan. Membuat kita mencoba mendekat lebih baik lagi kepada Allah. Alhamdulillaah, ujian ada untuk menaikkan derajat kita.

  5. Sehat-sehat terus Mbak Melina. Semoga kita semua juga selalu diberikan kesehatan. Terima kasih sudah mau berbagi dengan kami. Benar kurasa seperti kata teman Mbak Melina, semua musibah itu selalu akan ada kenaikan kelas.

  6. Mbakkk ya allah… sedih membacanya ketika dirimu terjangkit virus covid-19. Iya, semua orang kadang baru batuk dikit saja langsung parno ya karena si coronce ini.

    Alhamdulillah sudah sehat ya Mbak. Jangan sampai kena lagi deh, ya. Jaga kesetahan, prokes tetap dijalankan, ya.

  7. Seruuu bgt kalo baca tulisan mba Mel.
    Serasa diary online, ceunaahh
    apalagi bagian ini–> saya merasa lebih santai dalam menjalani hidup. Nggak mau berpikir yang terlalu berat. Lebih bisa mengontrol emosi, termasuk merespon apapun yang saya lihat dari mata, terlebih lagi yang saya dengar dari kedua telinga.

    1. Ahahahay … Gimana nggak kayak diary, wong siinya curhat, wkwkwk …

      Iya nih, Mbak, udah makin berumur. Males ah bentar-bentar emosian, hahaha …

  8. Masyaallah ada Dimash di postingannya Mbak Melina

    dia idoalkuuuu 😀 😀

    huhuhu ternyata sayangku sakit, dan Alhamdulilah sudah sembuh

    anak-anak gimana? semoga nggak ketularan

    big hug virtual untuk Mbak Melina

    1. Tosss dulu, Ambuuu … Suaranya bagusss, orangnya ganteng, karakternya pun hormat dan santun sama keluarga.

      Alhamdulillah, anak-anak sehat. Tapi orangtua dan kakak adik yang kemarin ikut positif juga. Tapi udah sehat semua sekarang. Peluk balik, ahhhh …

  9. Halo mbak Mel 😊😊 Wah, selamat ulang tahun ke-38 yach. Semoga makin sehat, bahagia, sukses cita dan cintanya bersama keluarga aamiin. Pantesan udah lama ga muncul status FB nya..hehehe 😁 In sya allah mbak akan baik2 aja ya…banyak ikhtiar juga dan orang2 di sekitar sangat support 🤗

    1. Tapi memang kemarin sudah mengalami long covid itu sih, Mbak. Belum termasuk lama karena ada yang sampai tujuh bulan masih lemes aja. Alhamdulillah, aku nggak.

  10. Selamat sudah 100 hari negatif Covid Mbak. Aku malah gak hitung? Akhir Desember hingga pertengahan Januari aku juga positif Covid dan hampir sebulan IsMan. Sekarang sih sudah berani kemana-mana lagi meskipun tetap tak sesering dahulu. Mengenai long covid juga tak begitu kuperhatikan hahaha… awalnya terasa mudah lelah dan keliyengan, tapi ternyata aku hamil. Jadi ya gejala tumpang tindih tapi sepertinya itu gejala kehamilan saja sih bukan long covid.

    1. Aih … MasyaAllah … Semoga kandungannya sehat-sehat ya, Mbak. Iya, sedang hamil beresiko lah kalau pergi-pergi. Di rumah dulu aja kalau gitu, ya.

  11. wah pernah terkena covid ya mbak
    alhamdulillah sudah sehat kembali ya mbak
    meski sudah kena tetap harus selalu jaga kesehatan ya mbak
    semoga kita semua selalu sehat dan pandemi ini segera berlalu

  12. meski sudah pernah kena covid, tetap harus waspada ya mbak
    karena ada potensi terkena long covid
    tapi semoga kita semua sehat dan pandemi ini segera berlalu

  13. Hallo kak Melina, saya sudah baca lengkap artikel di atas. Wah, pengalamannya banyak juga ya soal COVID19 dan sy baru dengar informasi tentang log covid, thanks ya. Btw, saya juga waktu vaksinasi pertama kok bisa reaktif ya? gak bisa ngerasain dan membau wedang jahe. Bahkan jahe yang sudah sejempol orang dewasa saja pas digeprek gak kerasa pedasnya di wedang jahe…sampe geleng2 keluarga sya.hahaha.

    Btw, di daerahku juga sudah makin jarang nih orang yang gak pake masker saat di jalan raya dll. Hadeh, malah ada temen saya yang gak percaya COVID-19. Pas kemaren saya datang ke rumah dia, saya pake masker kok saya malah diketawain, katanya: “masker itu dipake kalo pas berkendara biar gak kena debu”. Hadeh….

    1. Oh bisa banget setelah vaksinasi reaktif karena ini kan sifatnya hanya proteksi, ya. Tetap saja bisa terpapar tapi efeknya katanya akan jauh lebih ringan. Tapi kalau bisa ya jangan sampai kena lagi, hihihi …

      Nah nah nah … Begini juga nih kondisi di lingkungan tempat tinggal. Pada ogah pakai masker. Kita yang ada di sekitarnya, malah jadi ngeri ya, Mas.

  14. syukurlah mbak Mel sudah sehat dan bisa aktivitas kembali. memang ada rasa sepi tanpa teman apalagi kalau ada teman yang pura-pura jadi teman untuk sekedar kepo.

    semoga kita selalu diberikan kesehatan ya.

  15. I feel you Mbak Melina. Merasakan sakit lama yang menguras pikiran dan tenaga. Jika Mbak Melina kena pandemi, saya kena DBD dengan proses healing lama yang bikin saya sempat frustasi. Awalnya saya kira saya terkena Covid karena gejala-gejalanya mirip. Dan tekanan mental itu dimulai saat menginjakkan kaki di UGD RS dan mulai serangkaian tes yang sungguh melelahkan. Alhamdulillah setelah 3 bulan semuanya berlalu.

    Keep the spirit ya. Meski sudah aman secara pemeriksaan, tetap, untuk sementara waktu, menjaga diri dan mengasihi orang di sekitar kita dengan tidak beraktivitas terlalu berlebihan. Sayangi diri dan tubuh juga mental health kita. We may write a lot but somehow our inside needs further treatment which we sometimes never know.

    1. Ah ya memang betul bahwa gejala covid itu mirip-mirip dengan DBD dan typus. Jadi kalau nggak tes nggak akan ketahuan.

      Huhuhu iyaaa … Kesal banget nggak bisa menulis padahal memang sudah butuh penyembuhan dan pemulihan.

  16. Alhamdulillah sudah sembuh dan nggak ada efek long Covid ya, Mbak. Semoga sehat selalu. Sekarang memang harus makin ekstra 5M dan jaga kesehatan, karena circle yang kena Covid udaah makin dekat.

  17. Barakallahu bisa BW-an lagi bareng Kak Mel. Jadi pembelajaran buat para pembaca blog ini ya, khususnya daku untuk jaga diri dan kesehatan sangat penting dilakukan. Semoga sehat dan dalam lindungan Allah SWT kita ya kak Mel.

    Btw, nggak dinyana ternyata Kak Mel nyaris seusia Abang saya. Kirain kita seumuran hehe…

    1. Wabarakallahu fiik Adek Cieee hahaha … Iya nih, aku pengen banget terus berbagi karena awal pandemi tuh banyak yang kena tapi takut bilang karena khawatir dikucilkan. Kenyataannya memang begitu sampai sekarang.

      Hihihi … Adek Ciee mah masih mudaaa …

  18. saya sebagai pekerja sosial pernah menangani klien terpapar covid 19, layanan dukungan psikososial dibutuhkan untuk klien covid 19. Semangat berbagi kisahnya mbak

    1. Wah, salam hormat ya, Mas. Pasien dan penyintas sama-sama membutuhkan dukungan psikis karena masyarakat kerap memberikan stigma negatif. Padahal, kami bukan orang yang abai terhadap protokol kesehatan, huhuhu …

    1. Alhamdulillah udah sehat lagi nih, Mbak. Kayaknya bener kena long covid sih waktu itu. Setelah tanya-tanya, katanya donor plasma konvalesen hanya untuk yang belum pernah melahirkan, huhuhu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like