Isolasi Mandiri dan Bergejala; Ini Obat-Obatan yang Bisa Dikonsumsi Saat Terpapar Covid-19

Semoga nggak bosan membaca tulisan saya yang bahas covid melulu. Maklum, berstatus positif covid selama 42 hari tuh ‘berkesan’ banget sih buat saya. Jadi bawaannya pengen berbagi ceritaaa aja sama kalian semua.

Berhubung kondisi saya saat terpapar covid memang bergejala, tulisan seputar covid di sini nggak akan membahas kondisi OTG. Dulu gejala yang saya rasakan ya begini ini. Di tulisan tersebut, saya pernah janji mau bagikan informasi tentang apa saja yang saya konsumsi selama sakit. Saatnya menunaikan janji itu, semoga nggak terlambat.

Atasi Gejala yang Timbul

Kena covid, kudu isolasi, tapi bergejala, sedangkan covid belum ada obatnya. Terus, harus bagaimana, dong, upaya penyembuhannya?

Kamu bisa mulai dengan mengatasinya satu per satu sesuai gejala.

Sakit kepala ya diredakan dengan obat sakit kepala, batuk ya diredakan dengan obat batuk, demam ya minum obat penurun demam. Berlaku juga untuk gejala lainnya, ya. 

 

Pilih Obat Herbal atau Obat Kimia?

Pilihan obat herbal atau kimia mungkin masih menjadi salah satu perang pendapat sampai saat ini. Sama seperti mana yang lebih baik antara melahirkan secara normal atau caesar, juga mana yang lebih terhormat menjadi ibu penuh waktu atau ibu bekerja?

Pilihan ada pada kita semua, sih. Kalau posisi isolasi ada di rumah, mungkin saya akan lebih memilih menggunakan obat herbal. Saya nggak alergi sama obat-obatan kimia, tapi saya kesal kalau harus menelan tablet atau kapsul. Suka nyangkut gitu di tenggorokan.

Kalau obat herbal kan umumnya diminum dalam wujud cairan, ya. Biarpun pahit, tinggal ‘glek’, masuk deh ke kerongkongan.

Sama seperti kosmetik, skincare, bodycare, dan yang lainnya, yang namanya obat-obatan itu buat saya cocok-cocokan, sih. Ini obat-obatan yang saya konsumsi selama terpapar covid beberapa waktu lalu:

1. Parasetamol

Sebagai obat yang umum digunakan untuk meringankan gejala sakit kepala, demam, dan nyeri ringan, parasetamol jadi salah satu obat wajib di rumah. Saat terpapar covid dan merasakan ngilu di persendian, saya minum parasetamol 500 mg sebanyak tiga kali sehari. 

Ngilu di persendian waktu itu menghilang nggak sampai seminggu. Enaknya, parasetamol ini dijual bebas di apotek dan harganya pun terjangkau. Saya sarankan, kamu sedia ini juga deh di dalam tas saat sedang melakukan perjalanan. Buat jaga-jaga kalau badan mulai terasa nggak enak.

2. Air Kelapa dan Garam Himalaya

Air kepala baik untuk meningkatkan stamina dan menetralisir racun. Berhubung saat itu badan rasanya lemes minta ampun, jadi saya pilih mengonsumsi air kelapa. Biar racun-racun dalam tubuh pergi.

Soal garam Himalaya, ini pertama kalinya saya konsumsi. Mengikuti saran dari teman-teman aja. Minum air kelapa yang dicampur dengan sedikit garam Himalaya. Rasanya tetap enak, kok.

Ini kiriman dari teman. Mungkin bisa dibeli secara online, ya.

Oya, saya juga menggunakan garam Himayala ini untuk mencuci hidung. Caranya, sediakan air di piring, larutkan sedikit garam Himalaya, hirup deh pakai lubang hidung kanan dan kiri bergantian.

Rasanya gimana? Sakit, gaesss … Mata tuh rasanya seperti ditusuk-tusuk gitu. Tujuannya untuk mematikan virus ataupun bakteri yang sembunyi di pangkal hidung, ya. Biar kalau dites PCR, hasilnya bisa negatif. Sayangnya, saya baru rajin mencuci hidung sampai betul-betul terhirup di akhir-akhir aja. 

3. Actifed

Salah satu gejala yang khasnya covid banget katanya rasa mudah lelah dan batuk kering. Yang namanya batuk, baik kering maupun berdahak tuh sama-sama mengganggu. Buat saya, batuk berdahak proses penyembuhannya lebih cepat karena kita bisa dengan mudah mengeluarkan kotorannya. Meskipun kalau di tempat ramai, rasanya maluuu, macam batuk petir.

Batuk kering biasanya penyembuhannya jauh lebih lama. Di dada terasa sesak, nggak bisa bernapas dengan leluasa. Apalagi batuk kering terus muncul sepanjang hari. Waktu itu saya minum Actifed untuk batuk kering. Produktivitas batuknya berkurang meskipun lama banget sembuhnya.

4. Madu dan Jeruk Lemon

Untuk mengatasi batuk, saya juga mengonsumi air hangat dicampur dengan madu dan jeruk lemon. Yang saya rasakan sih, sama aja. Batuknya bandel dan susah banget perginya. Tapi paling nggak, tetap terasa lebih ringan daripada nggak minum apa-apa.

Saya yakin sih kalau madu dan lemon bagus untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kalau sampai terpapar covid, berarti daya tahan tubuh saya juga sedang nggak bagus, kan?

Madunya bebas, nggak ada ketentuan dari merk tertentu. Pastinya sih, saya sedia madu dalam jumlah banyak karena kebutuhan.

Sengaja sedia madu sebesar ini supaya nggak gampang habis.

5. Linhua

Sebelumnya saya nggak pernah kenal obat yang satu ini. Termasuk kategori obat dari China yang katanya ampuh menyembuhkan gejala saat covid. Betuknya berupa kapsul dan dikonsumsi tiga kali sehari, dua kapsul sekali minum. Buat saya ini menyiksa banget. Minum satu kapsul aja udah cobaan, apalagi sekali dua. 

Saya pilih berhenti karena nggak kuat menanggung beban kapsul nyangkut di tenggorokan. Secemen inilah saya, hahaha

6. Stimuno

Sebenarnya ini bukan obat. Diklaim terbuat dari ekstrak tanaman Phyllantis Niruri, Stimuno berperan sebagai immunomodulator yang berfungsi untuk memperbaiki sistem imun dengan merangsang tubuh agar dapat memproduksi antibodi lebih banyak. 

Bentuknya berupa kapsul. Nah, tahu kan kenapa saya jadi malas  minum Linhua? Berderet-deret kapsul, oh My God! 

7. Becomzet

Ini adalah satu-satunya vitamin C sekaligus mengandung Zinc yang disarankan seorang teman waktu saya kembali ngantor. Setelah setahun di rumah aja lalu tiba-tiba harus kembali bekerja, naik transportasi umum, rasa-rasanya saya butuh membentengi diri dengan vitamin. 

Bisa dibilang vitamin C yang satu ini aman di lambung saya. Agak susah menemukan vitamin C yang cocok buat saya karena umumnya bikin perut jadi sebah. Apa ya bahasa Indonesianya sebah ini? Kembung dan mual gitu lah, ya.

Tapi yaaa, teteup … nyatanya saya tetap kena covid. Jadi biar kamu tahu ya bahwa vitamin sebatas menambah daya tahan tubuh aja, bukannya betul-betul membuat kamu kebal. Selama kena covid, Becomzet ini tetap saya konsumsi.

Kalau di saya, Becomzet ini membuat urine berwarna kuning kehijauan. Jadi harus banyak-banyak minum air putih, ya.

8. Huo Xiang Zheng Qi Kou Fu Ye

Ini adalah satu obat China yang direkomendasikan oleh salah satu dokter yang waktu itu mendampingi saya saat sakit. Mendampingi jarak jauh tentunya, alias by WhatsApp aja.

Waktu beliau tahu bahwa saya masih mengalami batuk kering padahal sudah lewat dari sebulan, beliau sarankan saya mencoba obat ini. Beliau banyak mendampingi pasien covid dari cluster keluarga dan mereka sembuh dan pulih lebih cepat. Katanya, obat ini juga efektif mempercepat hasil tes PCR ke negatif.

Di dalamnya berisi lima botol kecil dengan ukuran cairan 10 ml.

Obat ini dikemas dalam bentuk botol kaca kecil berisi 10 ml cairan. Di kemasan, rasanya sih tertera manis dan asam. Tapi di lidah saya rasanya pahit dan ada rasa pedas seperti mint. Kayaknya lidah saya dan lidah produsennya beda selera, hahaha … Tapi masih jauh lebih baiklah, nggak ada drama nyangkut di tenggorokan.

Untuk pasien positif, cukup mengonsumi satu botol aja per hari. Saya cocok banget minum obat ini. Batuk cepat banget reda dan pernapasan jadi lega banget. Apakah hasil tes PCR saya juga cepat negatif setelah mengonsumi obat ini? Nggak juga, sih. Mungkin belum masanya kembali ngantor, ya.

Setelah baca-baca di internet, di China, obat ini memang digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit pernapasan seperti batuk, bronkhitis, sampai TBC. Saya cek sih komposisinya semua dari alam, seperti kulit jeruk mandarin, kulit pohon, dan bunga-bungaan.

Harganya sekitar Rp 65.000 untuk satu kotak kecil berisi lima botol. Lumayan mahal kalau dibandingkan dengan obat-obatan saya yang lain. Tapi manfaatnya terasa, jadi worth it lah.

9. Hi-D*5000

Dilihat dari namanya, mungkin kamu sudah bisa menebak ini apa. Yes, ini adalah vitamin D. Sebelumnya, saya tahunya vitamin D itu ya dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Tapi ternyata vitamin D juga diperlukan untuk menghambat risiko infeksi saluran pernapasan.

Tahu kan ya, kalau covid itu suka banget ngobrak-ngabrik saluran pernapasan kita. Makanya sebisa mungkin jangan sampai mengalami sesak napas. 

Kenapa pilih vitamin D yang ini? Saran dari teman, sih. Sebelumnya, saya memang nggak pernah secara khusus mengonsumsi vitamin D kemasan.

Menghindari Faktor Pencetus Gejala

Selain mengatasi gejala yang muncul, menjaga agar gejala yang sudah hilang nggak kembali lagi itu penting banget. Buat apa dong kita bersusah-payah minum segala macam obat kalau nggak disiplin untuk menjaga tubuh tetap sehat?

Di kasus saya, karena mengalami rasa nyeri dan panas di mata, saya mengurangi intensitas menggunakan gadget, baik dari ponsel maupun laptop. Beruntung, selama sakit, saya memang dibebaskan dari pekerjaan kantor. Ada loh, teman yang saat tengah isolasi tetap diwajibkan ikutan online meeting di zoom. Huhuhu … Kalau kasihan banget.

Selain itu, saya sudah cerita di atas kan ya, kalau batuk kering yang saya alami tuh lama banget. Nah, saya betul-betul menjaga asupan makanan. Sama sekali nggak mengonsumi makanan kering, pedas, atau dingin. Kan saya nggak tahu batuknya itu karena belum sembuh atau akibat keselek makanan pedas.

Memantapkan Hati Saat Memilih Obat

Semoga tulisan ini bermanfaat ya buat teman-teman yang tengah menjalani isolasi mandiri karena covid dan mengalami gejala yang sama dengan saya. Obat-obatan untuk gejala di atas pastinya ada banyak macamnya dan dari berbagai merk.

Tulisan ini sebatas berbagi pengalaman karena semakin hari, semakin banyak orang-orang dari lingkungan terdekat saya yang kena covid dan tanya, dulu saya mengonsumsi obat apa aja. Sama sekali nggak dibayar dalam rangka promosi loh, ya. Tentunya kembali ke teman-teman ya mau menggunakan yang mana karena menurut saya sih soal cocok-cocokan juga.

Selain itu, buat kamu yang punya riwayat penyakit tertentu, ada baiknya konsultasi dulu ya dengan dokter atau tenaga kesehatan. 

Semoga kalian, keluarga, dan sahabat yang saat ini tengah terpapar covid, diberikan kekuatan untuk berjuang menuju sembuh. Buat yang sehat, terus patuh protokol kesehatan, ya.

 

 

Salam sayang,

Melina Sekarsari

0 Shares:
51 comments
  1. Iya nih, covid semakin mendekaat
    Ini adek sepupuku sekeluarga positif covid.
    iparku yg di TangSel juga kudu isoman karena covid.
    baeklah, nanti aku coba infokan obat2 apa saja yg rekomen utk dikonsumsi ya
    makasiii…. makasiiii

  2. Masya Allah, Mbak Mel 42 hariii berjuang lawan Covid?
    Deretan obat dan dopping-nya sebanyak ini.
    Alhamdulillah sudah sehat ya..semoga untuk seterusnya. Aamiin
    Mbakku di Kediri per hari ini lagi dirawat di RS karena Covid. Aku ketar-ketir nih.

    1. Iya, mantap banget, hihihi…

      Alhamdulillah… Sekarang kondisi sehaaat. Semoga diberikan kesembuhan untuk mbaknya ya, Mbak. Keluarga yang lain juga semoga dalam keadaan sehat wal’afiat. Semoga dengan dirawat di RS, bisa dapat perawatan maksimal supaya pulih lebih cepat juga ya, Mbak. Aamiin Ya Allah…

    1. Iya, Ambu. Manfaatnya banyak. Selama ini banyak dipakai masak, ya? Hihihi …

      Suka takut matinya karena pas isolasi sendirian di kamar gitu. Nggak ada teman, dinding doang, huhuhu …

  3. Masyaallah mbak… aku izin share tulisanmu di grup keluarga boleh?

    Banyak sekali obat yg harus dikonsumsi ya Mbak. Kebayang bosannya seperti apa.

    Terima kasih sudah mau berbagi, ya Mbak. Sehat-sehat untuk kita semua.

  4. Lama banget mbak sampai 42 Hari. Strong banget deh mbak melina. Alhamdulillah telah Allah pulihkan, semoga kita selalu sehat ya mbak. Terimakasih banyak infonya, bermanfaat banget buat para pejuang covid.

  5. Makin hari covid ini kayak makin merajalela ya mbak, semoga kita semua terhindar dari virus ini dan juga semoga yang terinveksi bisa segera sembuh. Makasih banyak sharingnya ya mbak

    1. Eh, garam himalaya bisa jadi alternatif untuk pasien covid juga kak? Baru tahu lho… Kalau madu ini kemarin sempat sudah di cari, habis semua. Multivitamin juga sama, yg kualitasnya bagus ludes tak bersisa

      1. Iya, Kak. Tapi bukan penyembuh ya, tapi lebih ke mempertahankan daya tahan tubuh.

        Teman-teman pun cerita kalau harga vitamin naik gila-gilaan. Duh, malah dibisnisin sih.

  6. Hai mbak Mel 🙂 Semoga semakin sehat ya aamiin. AKu baca pelan2 nih dan pahami jenis obat2annya. Linhua dan yang bernama Cina itu aku ga kenal hihihih 😀 Btw iya sih isolasi mandiri aja di rumah ya. Apalagi hari gini rumah sakit dan klinik penuh semua. Moga2 kita selamat dan disembuhkan dari marabahaya corona aamiin.

    1. Hi, Teteh … Hihihi, obat Chinanya memang belum populer di kalangan umum, tapi cukup populer di kalangan penyintas, hehehe …

      Selama masih bisa di rumah, nggak papa kok di rumah aja. Tapi kalau harus dapat perawatan dokter, tentu harus panggil ambulans, huhuhu …

  7. Wah banyak juga tuh kak untuk obat2an dan suplemen kesehatan untuk mencegah covid-19.. kalo lemon saya setuju karena mengandung vitamin C yang fungsinya sebagai antioksidan peningkatan daya tahan tubuh. Kalo saya biasanya lebih rutin konsumsi jahe kak bagus juga tuh untuk stamina peningkat imun tubuh agar terbebas dari covid19

    1. Saya juga rutin minum rerimpangan Mas karena saya anak bakul jamu, hehehe…

      Tapi kalau sudah telanjur kena, nggak cukup dengan jahe saja. Kita butuh banyak banget sumber peningkat imunitas yang lain.

  8. Thanks banget informasinya. Bermanfaat banget. Kemarin sempat ketakutan juga di kantor paksu ada yang kena. Sejak itu, jadi care buat jaga imun. Dari mulai rimpang, madu, air kelapa dan juga Vit C rutin dikonsumsi.

    1. Berhubung isolasi mandiri yang cuma ada kamar sama dapur, nggak memungkinkan buat saya konsumsi rimpang saat covid kemarin. Padahal sehari-hari rutin konsumsi malahan.

      Terima kasih sudah berkunjung ya, Mbak…

  9. Waaa 42 hari positif terus mbak. Kuat mbak berarti ya, fisik dan juga mental beejuang menakhlukkan si virus ini.

    Obatnya banyak banget ya, namanya ikhtiar ya mbak. Walau susah nelen obat, tetap harus semangat konsumsi obatnya.

    1. Awalnya nggak stress, Kak. Stressnya saat PCR nggak kunjung negatif padahal tubuh udah sehat. Kayak dipaksa terus sakit gitu, huhuhu…

      Kak Nani sehat yaaa…

  10. Mbaaa makasih banget udah berbagi ya, perjaungan luar biasa sehat selalu ya mba
    aku pun di sini juga hati-hati banget kalau ke luar rumah sedih juga kalau kenapa-napa tapi sepanjang kita merasa prokes udah ketat bismillah.

  11. Semoga cepat pulih bumi ini agar semua aktivitas kembali normal. Makasih banget infonya, kak. Meski aku sehat tapi ada suplemen yang bisa digunakan. Air kelapa emang banyak nutrisi untuk tubuh.

  12. Intinya adalah meningkatkan imunitas ya Mbak. Mengkonsumsi berbagai vitamin nyatanya membantu banyak dalam menghadapi covid ini. Semoga bisa terus sehat ya Mbak. Kebayang ih puluhan hari terjebak dalam perjuangan untuk pulih

    1. Betul, Bun. Jangan sampai daya tahan tubuh kita dikalahkan oleh si virus ini. Alhamdulillah, sekarang kondisi sehat, Bun. Bun Annie semoga selalu sehat juga, ya.

  13. mbak melll, kok sama aku juga batuk kering udah sebulan ini, bolak balik ke dokter belum sembuh sembuh.
    beberapa hari lalu ke dokter, dan dikasih obat batuk yang beda lagi dan udah mendingan ga terus terusan batuk, meskipun kadang suka muncul batuknya

  14. Semangat sehat selalu, semoga pandemi lekas berlalu kita semua diberi kesehatan, obat covid jg cocok cocokan yaks, ada yg cocok pakai lihua dkk. Semangat demi kesehatan berbagai cara di tempuh sampai qust hindi yg pahitnya minta ampyun di minum.

    1. Sama seperti obat-obatan lain, sih. Bisa jadi cocok di kita nggak cocok di orang. Tapi kalau belum nemu yang cocok, boleh lah dicoba seperti di daftar saya ini.

  15. Lumayan juga isoman sampai lebih dari sebulan ya mba, iya nih sering denger obat cina Linhua ini dipakai juga untuk obat Covid. Yang penting persediaan obat selalu ada jadi memang harus rajin minum obatnya. Terima kasih infonya ya mba 🙂

  16. Info Obat2annya buat isoman sangat lengkap dari yang obat paten sma herbal buat aku ksi informasi ke tetamgga yang kebtulan lagi isoman juga mba

  17. yaps, selain obat-obatan, menurut saya yang penting adalah tetap menjaga pola makan dan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan rajin berolahraga, pikiran juga harus tetap positif selama isolasi mandiri

  18. alhamdulillah kamu sudah berhasil melalui isolasi, mbak! Obat-obatanku waktu isolasi di RSDC seputar antivirus, antibiotik, vit C, zinc juga.
    btw, Linhua setahuku sudah tidak disarankan lagi. Bisa cek lebih lanjut di artikel kesehatan ya.
    Kemudian, untuk mencuci hidung dengan cara lebih nyaman aku pakai nasal spray.

    1. Alhamdulillah, Mbak Helen sudah pulih juga ya semoga. Aamiin.

      Linhua itu sempat jadi pro kontra tapi sempat dijelaskan Linhua mana yang nggak boleh dikonsumsi. Aku juga nggak pakai sih karena males nelennya, hahaha …

      Aku pakai air larutan garam aja biar murah meriah. Pengeluaran bengkak banget kan, tuh.

  19. Kak Melinaa..
    Sehat-sehat selalu yaa… Ikut sedih dengernya, tapi ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua. Dan terimakasih sudah berbagi.
    Bisa menjadi panduan ikhtiar para pejuang satu garis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like