Saat Terkonfirmasi Positif Covid-19; Pastikan Kamu Menghubungi Orang-Orang yang Tepat

Kamu suka terkejut lalu tiba-tiba panik saat mendengar kabar bahwa ada keluarga, teman, atau tetangga, yang terpapar covid-19? 

Dua perasaan yang merupakan gambaran simpati dan empati kamu terhadap orang itu, atau kamu sebenarnya khawatir, “Aduh, kalau gue ketularan gimana, nih?” atau “Yaelah, pakai ngomong segala sih kalau kena covid. Kan kami jadi parno, elo jadi ngerepotin orang banyak.”

Nggak apa-apa, dua-duanya wajar. Manusiawi banget. Tapi, pilihan untuk jujur menyampaikan bahwa diri kita terpapar covid-19 itu tepat meskipun berat, loh. Kan covid masih suka dianggap aib, meskipun bukan. Ya, nggak?

Jadi, Harus Terbuka dan Jujur pada Siapa Saja?

Ya nggak satu dunia juga harus kamu beritahu sih, ya. Tapi kalau dunia kamu beritahu lewat blogpost seperti saya ini, nggak papa dong. Kan niatnya memberikan informasi buat teman-teman tercintah. 

Gini deh, setidaknya, orang-orang yang posisinya strategis di hidup kamu, wajib banget diberitahu. Siapa saja mereka, ini dia:

1. Orangtua dan Keluarga

Kalau kamu masih memiliki orangtua, maka mereka adalah orang yang menurut saya harus diberitahu. Tapiii, menurut saya harus dilihat juga kondisinya. Jika mereka termasuk tipe yang mudah panik, punya penyakit yang nggak bisa menerima kabar buruk, coba dikondisikan.

Bapak saya contoh orangtua yang sangat pencemas. Urusan sepele pun mudah sekali bikin beliau berdecap-decap karena cemas ini dan itu. Segala hal dikhawatirkan. 

Waktu hasil swab antigen saya positif, maunya sih beliau nggak saya beritahu tapi akhirnya ya tahu juga. Terang aja, lha wong saya dan anak-anak tinggal bersama eyang-eyangnya mereka. 

 

Semasa jalan-jalan sama bapak ke Pura Mangkunegaran

Dan, memang betul, selain mengurus diri sendiri yang butuh disembuhkan, saya juga harus menghadapi laporan dari rumah bahwa bapak saya setiap saat mondar-mandir, kemrungsung, gelisah, padahal sebenarnya gejala yang saya alami masih tergolong ringan. 

Kalau kamu tinggal berbeda rumah atau malah di luar kota dan punya orangtua setipe bapak saya, mungkin diam-diam saja dulu, bisa jadi pilihan. Eh, saya nggak ngajarin bohong sama orangtua loh, ya. Hanya perlu mengondisikan aja, kok.

Jadi waktu itu, gimana bapak saya bisa tahu? Ya dari kakak saya lah. Saya menghubungi kakak-kakak dan mereka yang kabari ke orangtua. Tuh kan, saya juga nggak mau bilang ke orangtua secara langsung.

2. Atasan dan Rekan Kerja

Kenapa sih atasan dan rekan kerja wajib diberitahu? 

Alasan paling masuk akal ya karena kita nggak mungkin ‘menghilang’ sekian lama tanpa memberitahu mereka, kan? 

Melakukan langkah ini sebenarnya bermanfaat untuk kedua belah pihak. Perusahaan bisa mendelegasikan pekerjaan kita kepada rekan kerja yang lain, sehingga kegiatan operasional perusahaan tetap berjalan lancar.  Selain itu, perusahaan juga bisa melakukan langkah tracing; kamu ada di kantor mulai kapan sampai kapan, ada interaksi dengan siapa aja, berapa lama, siapa aja yang harus ikutan dites. Jadi perusahaan bisa meminimalkan penyebaran virus ini. 

Story:

Dulu orang yang pertama kali saya kabari adalah rekan kerja di Departemen HRD. Sehubungan permintaan swab antigen dari mereka, jadi saya harus kasih laporan juga dong mengenai hasilnya. 

Saat itu saya nggak langsung laporan ke atasan karena ceritanya masih berstatus karyawan baru. Belum kenal-kenal banget sama bos-bos di kantor. Ya ampun, rasanya waktu itu hidup saya berubah banget gara-gara kena covid-19.  

Tapi tetap dong, selama masa isolasi, saya memberikan kabar secara berkala kepada atasan. 

Bagi saya pribadi, jadi mendapatkan dukungan dan doa dari atasan dan rekan kerja itu besar artinya. Bahkan sekadar mendapatkan pesan bertuliskan, “Apa kabar? Gimana kondisi kamu sekarang?”

Rasanya luar biasa! Saya merasa tetap mendapatkan tempat, diakui, dan terasa sekali kalau banyak yang peduli.

3. Pengurus Lingkungan alias Ketua RT

Pernah nggak dengar istilah ‘Tetangga adalah saudara terdekat kita’?

Buat keluarga saya ini berlaku banget karena kerabat kami memang sebagian besar berdomisili di Jawa tengah. Terdekat tinggal di Ciledug, Tangerang. Ini tetangga juga sih meskipun namanya jadi tetangga kota.

Jadi, menjaga hubungan baik dengan tetangga penting adanya. Termasuk mengenal pemimpin di wilayah tinggal kita, yaitu Bapak dan Ibu Ketua RT. Meskipun waktu itu saya cuma kenal nama dan wajah, nggak tahu nomor kontaknya. 

Kenapa sih harus terbuka dan jujur ke pengurus lingkungan alias Ketua RT ini?

Pertama, agar Ketua RT bisa melakukan tindakan secepatnya kalau terjadi sesuatu atau kondisi kesehatan menurun. Koordinasi dengan Satgas Covid bisa berjalan lebih cepat dan lancar.

Kedua, berhubung satu keluarga isolasi di dalam rumah, kami tentunya membutuhkan bantuan untuk logistik di rumah. 

Saya punya pengalaman menarik dan berharga dengan terbuka dan jujur kepada pengurus lingkungan alias Ketua RT ini.

 

Story:

Waktu itu yang menyampaikan kabar ke lingkungan tempat tinggal bukan saya tapi bapak. Saya terlanjur pindah ke tempat isolasi sebelum sempat menghubungi beliau. 

Bapak dan Ibu Ketua RT yang mengkoordinir bantuan logistik untuk keluarga kami, mulai dari beras, sayur-mayur, masker kain maupun medis, semua dikirimkan. Bahkan pernah bantu membelikan rendang daging di RM Padang gara-gara ibu saya mogok makan karena kepengennya makan rendang, hahaha

Nggak cuma itu, waktu lampu di kamar mandi mati, beliau juga yang mendatangkan petugas berpakaian APD untuk memasangkan lampu. MasyaAllah, ya …

Kayaknya karena mereka berdua juga, jadi ada tetangga yang tahu dan mengirimkan aneka makanan juga buat kami. 

Terima kasih ya, Bapak dan Ibu RT 03 dan tetangga sekalian …

 

Catatan:
Buat kamu yang tinggal di rumah kontrakan atau rumah kost, ada baiknya menghubungi pengurus lingkungan juga. Bagaimanapun, keberadaan kamu di lingkungan tersebut, pasti sudah terdata oleh pengurus lingkungan. Jangan sampai terjadi sesuatu sama kamu tanpa sepengetahuan mereka.

4. Teman-Teman Dekat

Pada siapa sih kita dengan ringan hati bisa menceritakan apa yang terjadi sama kita, apalagi di saat-saat yang berat? Salah satunya pasti teman dekat dong, ya. 

Story:

Saya pun begitu. Makanya, waktu itu saya cerita sama teman-teman dekat. Tanya, minta saran, apa saja yang layak dikonsumsi, apa saja yang bisa dilakukan. Kan butuh masukan juga ya dari mereka, terutama kalau mereka pernah atau ada keluarga yang punya pengalaman.

Selain itu, tentunya, dukungan dan doa sangat berarti banget. Kita siapa sih bisa sombong, yakin kalau doa yang dipanjatkan sendirian bisa jadi jalan kesembuhan?

Daaan … Malah dapat bonus dong. Apalagi kalau bukan beragam kiriman ini dan itu. Setiap hari, ada ajaaa bingkisan dan bungkusan yang dicantolin di pagar rumah. MasyaAllah …

Berhubung orangnya buanyak, nggak bisa disebutkan satu persatu, nih. Terima kasih banyaaak …

Ada mama-mama orangtua murid teman-temannya anak-anak saya di Sekolah Islam Ibnu Hajar, saudara-saudara saya di Profita Institute, dan masih banyak lagi. Thanks so much, ya. Yang lainnya, nggak bisa disebutkan satu persatu, pokoknya terima kasih banyak.

5. Siapapun yang Semesta Mau Kamu Menghubungi Dia

Pernah nggak kamu tergerak melakukan sesuatu yang sebelumnya nggak pernah kamu pikirkan? Tiba-tiba saja menghubungi sosok A, padahal kamu nggak terlalu dekat juga sama dia. Nggak ada alasan khusus, gitu.

Dan ternyata, langkah tersebut memang benar dan kamu nggak tahu andai saat itu kamu nggak menghubungi sosok A itu.

Saya pun mengalaminya, loh.

Story:

Setelah rekan kerja dari Departemen HRD, orang kedua yang saya hubungi adalah Ayu. Dia ini teman sekolah saat SMP di Tangerang dulu. Beberapa tahun yang lalu baru sadar bahwa kami ternyata tetanggaan karena tinggal di komplek yang sama di Bogor ini. Kacau, ya. Segini nggak gaulnya saya di lingkungan sendiri.

Kenapa sih menghubungi Ayu?

Karena dia teman saya? Iya. Eh, tapi kan teman saya bukan cuma dia.

Karena kami sahabatan? Nggak sama sekali. Kami nggak musuhan juga, sih, tapi memang sebenarnya kami tuh nggak akrab banget.

Karena dia tenaga kesehatan? iya. Eh tapi teman saya yang profesinya tenaga kesehatan tuh banyak, loh. Nggak cuma Ayu. 

Hahaha … terus terang sampai sekarang saya juga bingung. Pokoknya semesta mengarahkan saya buat mencet huruf demi huruf ke WA-nya Ayu ini.

Ternyata tepat!

Dia yang sigap meminta saya mengirimkan KTP untuk diteruskan ke petugas yang menangani covid di Puskesmas Bogor Timur – karena domisili saya di Bogor Timur. Kalau tanpa Ayu, saya nggak ngerti deh gimana caranya ikutan tes PCR di Puskesmas, nggak merasakan dimonitor kesehatannya sama petugas, nggak ngerti gimana cara mendatangkan ambulans untuk bapak. 

Makasih ya, Ayu … You did much for my famlily

Menghargai Keterbukaan dan Kejujuran

Terpapar covid-19 itu beda rasanya dengan divonis kena types atau DBD. Meskipun sebenarnya sama-sama nyawa taruhannya. Tahu kan, masih banyak yang menganggap covid-19 itu adalah aib? Padahal bukan.

Jadi kalau ada keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja yang bilang kalau mereka kena positif covid-19, sudah tentu patut kita hargai keterbukaan dan kejujuran mereka. Bukan hal mudah loh mengakui itu. 

Gimana sih, kena covid, lalu harus menjalani isolasi. Ini seperti kata yang lebih halus untuk kondisi:

‘bersembunyi’, ‘memisahkan diri’, ‘mengasingkan diri’, ‘terasingkan’, ‘terkucil’, atau malah ‘dikucilkan’?

Seolah-olah kita nggak layak hidup dan berinteraksi dengan orang-orang yang biasanya ada di sekitar kita. Begitu, kan?

Jadi, buat kamu yang keluarga, rekan kerja, teman, atau tetangganya ada yang terpapar covid-19, beri dukungan ya untuk mereka.

Buat kamu yang di posisi terkonfirmasi positif covid-19, tetap terbuka dan jujur juga ya ke orang-orang yang memang perlu untuk tahu kondisi kamu.

Semoga kita semua senantiasa diberikan nikmat sehat. Bagi yang tengah sakit, semoga diberikan kesabaran dan kesembuhan. Sehat, pulih, seperti sediakala.

 

Salam sayang,

Melina Sekarsari

0 Shares:
23 comments
  1. Alhamdulillah sudah sembuh, semoga sehat selalu. Alhamdulillah bertemu dengan lingkungan yang mendukung untuk kesembuhan mba. Soalnya kan ada informasi orang yang terpapar covid malah diusir, sedih dengarnya.

    Maaf, ya mba aku jadi pengen ketawa juga hihi pas ibunya pengen rendang. Pasti udah kangen banget sama rendang hehe.

    1. Alhamdulillah banget meski nggak bisa dipungkiri, orang yang memiliki pandangan bahwa seolah covid juga aib juga ada. Hahaha, mana ngotot pula sama Pak RT-nya, haduuuh …

  2. Wahh, ini artikel penting bgt Mba Mel.

    Jadi kalau ada keluarga, teman, tetangga, atau rekan kerja yang bilang kalau mereka kena positif covid-19, sudah tentu patut kita hargai keterbukaan dan kejujuran mereka.

    Yup, setujuu!
    Semoga masyarakat makin wise, bijaksana dalam hal per-covid-an ini yaaa
    dan tentulaahh kita berharap pandemi corona segera bubaaaarrr

  3. kebetulan kakakku terkena virus covid 19 dan ternyata banyak yang aware ya?

    mulai dari tetangga, satgas dan pastinya anggota keluarga

    suasana guyub seperti ini mungkin cuma ada di Indonesia

  4. Setuju banget, kalau kita terpapar, seharusnya terbuka aja. Aku juga kemarin sempat khawatir pas tahu kakakku sekeluarga terpapar. Tapi, tetap aku saranin terbuka dan laporan ke RT. Alhamdulillah selama isoman, semua warga saling bantu dari mulai memasok makanan sampai memenuhi kebutuhan lain, sampai semuanya dinyatakan negatif seminggu yang lalu.

    1. Kalau pengurus lingkungan pasti aware sih, Mbak. Mungkin tetangga yang – ada aja gitu jadi seperti jijik melihat kita. Nggak papa, mungkin mereka hanya perlu diedukasi lebih baik lagi, ya.

  5. Tulisan yabg inspiratif mbak Mel
    Saat sakit covid, memang kita perlu jujur dan terbuka kepada orang orang terdekat ya mbak
    Alhamdulillah sekarang sudah sehat

  6. Mba Mel, gimana keadaannya sekarang? Udah membaik kah? Udah selesai isolasinya? Engga ada yang pengen sakit pastinya, tapi Kita engga pernah tahu dari mana awalnya dan kena dari siapa. Moga habis ini sehat-sehat ya buat Mba Mel dan keluarga

  7. Nah, penting memang loh memberitahukan beberapa pihak saat memang positif Covid-19 karena kita hidup kan gak bisa sendiri, jadi memang harus open, tapi mirisnya orang sekarang seolah kaya serasa aib gitu kalo kena Covid-19, maybe karena takut dijauhin juga, tpi kan emang hrs dijauhi dulu yaa hihi alias isoman

  8. Nah barusaaaan aja ini,
    pegawai bengkel yamaha terpapar, dan tindakan pertama ya itu, mengkomunikasikan ke RT dan lingkungan – sementara ini kami isoman dulu dan udah paling tepat memang, harus dikondisikan jadinya

  9. Benar perlu banget ini informasinya, kami di WAG keluarga juga saking support ketika ada yang terpapar Covid-19. Kakak, keponakan dan tetangga pernah kena. Kami salingg mendoakan dan support lainnya.

  10. Betul. Jika terbuka dan orang2 mengetahui siapa saja penyintas covid maka akan bisa diantisipasi keperluan selama isoman juga. Semoga pandemi ini segera berakhir.

  11. Bener banget nih Mbak Melina… kl terkonfirmasi positif Covid-19 mesti ada keterbukaan dan komunikasi ya ke orang-orang yang penting tahu tentang keadaan kita sekeluarga. Minimal keluarga, orang-orang kantor dan RT/.RW ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like