Persediaan Makanan dan Obat-Obatan dan Layanan Kesehatan Saat Isolasi Mandiri di Luar Rumah

Ada teman-teman yang bertanya, memangnya boleh ya terinfeksi covid-19 dan bergejala tapi memilih isolasi mandiri aja? Jawabannya, boleh banget. Bergejala pun ada macam-macam ya, mulai dari gejala ringan, gejala sedang, gejala berat, sampai ke kritis.

Memang sih gejala yang saya rasakan lumayan banyak dan rasanya nggak enak banget, tapi saya masih sanggup melakukan merawat diri sendiri. Saya masih bisa berjalan meskipun kaki rasanya nggak menginjak lantai alias sempoyongan. Selain itu, Alhamdulillah … saya juga masih bisa bernapas dengan baik.

Jadi, isolasi mandiri aja.

Oiya, saya isolasi mandiri di luar rumah, ya. Alasannya karena di rumah kamar tidurnya terbatas dan ada orangtua saya yang punya komorbid. Sebisa mungkin saya nggak menulari mereka. Meskipun kemudian, ternyata serumah ya positif semua, kecuali adik saya.

Sekarang saya ceritakan yuk, apa saja sih yang harus dipersiapkan saat menjalani isolasi mandiri di luar rumah?

 

Apa yang Pertama Kali Disiapkan Saat Akan Menjalani Isolasi Mandiri di Luar Rumah?

Pastinya, cari tempat dulu dong. 

Berhubung saat memutuskan akan isolasi saya belum ikut tes PCR, jadi nggak bisa memanfaatkan fasilitas dari pemerintah seperti di Lido, Bogor (ini semacam Wisma Atlet kalau di Jakarta). Setelah dapat hasil swab antigen positif, saya memang isolasi mandiri dulu beberapa hari sebelum ikutan tes PCR. 

Kenapa sih nggak langsung tes PCR aja begitu tahu hasil swab antigennya positif?

Pertama, swab antigen itu mendeteksi virus yang masih hidup. Harapannya, dengan melakukan isolasi mandiri dan mengonsumsi beraneka makanan bergizi, obat-obatan, dan vitamin, kondisi saya sudah membaik saat tes PCR. Jadi virus hidupnya ya sudah mati. Meskipun harapan saya nggak terkabul, hihihi

Kedua, anggota keluarga lain yang bergejala juga mau diikutkan tes PCR. Kami rencananya mau ikut di Puskesmas Bogor Timur. Biar sama-sama aja dan gratisan. Meskipun cuma boleh sekali kan lumayan ya, karena biaya tes PCR kan memang nggak murah.

Source: Pexels

Di Bogor, ada banyak akomodasi yang menyediakan layanan isolasi mandiri. Biasanya dijual mulai Rp 6 jutaan untuk 12 hari isolasi. Itu sudah termasuk makan 3x sehari dan layanan laundry. Tapi sayang juga ya, mengeluarkan uang segitu banyak. Jadi saya memilih menyewa kamar biasa, deh. Di dalamnya ada kamar mandi dan tersedia air panas di dispenser. Nggak ada dapur, jadi saya nggak bisa memasak sendiri.

Dengan kondisi seperti ini, maka setelah memperoleh tempat tinggal, hal kedua yang saya lakukan adalah packing.

Apa Saja yang Dibawa ke Tempat Isolasi?

Sebagai orang yang sehari-hari memang minimalis banget, saya nggak membawa banyak pakaian. Paling cuma lima stel pakaian ganti aja, sandal, handuk, pakaian dalam, peralatan mandi, masker, dan obat-obatan yang memang sudah dimiliki seperti minyak kayu putih dan madu.

Membayangkan tinggal di dalam kamar terus berhari-hari, saya membawa bekal laptop lengkap dengan charger-nya. Kayaknya cuma dari laptop dan ponsel saya bisa dapat hiburan dan informasi. 

Source: Pexels

Sejak awal, saya memang nggak mau menutupi kenyataan bahwa saya terinfeksi covid-19. Pengen bercerita banyak lewat tulisan. Sayangnya, kondisi nyeri dan panas di mata serta rasa mudah lelah menunda keinginan tersebut.

Toh, sekarang terlaksana juga. Nggak papa sih meski sudah berbulan-bulan lewat. InsyaAllah masih inget plek-plek waktu itu kondisinya seperti apa.

Bagaimana Memperoleh Persediaan Makanan?

Sehubungan tempat isolasi nggak menyediakan dapur, saya memilih memesan makanan melalui katering. Saya menghubungi seseorang yang mengelola kantin di sekolahnya anak-anak. Beliau memang memiliki usaha di bidang jasa katering sehat.

Saat saya hubungi dan bilang bahwa butuh disediakan makanan tiga kali sehari selama masa isolasi, beliau dengan senang hati membantu. Selama pandemi, beliau punya program memberikan diskon 50% untuk semua menu kepada pasien covid-19 yang tengah menjalani isolasi mandiri. MasyaAllah, senang banget rasanya. 

Rasa makanan enak, porsi pas, perut kenyang, tagihan ringan. Kurang sayang gimana coba Allah sama saya? 

Semoga Allah balas kebaikan beliau dengan nikmat sehat, keluarga yang harmonis, dan kelapangan rezeki. Aamiin.

Kamu mungkin bisa pertimbangkan makan pakai jasa katering juga ya, dibandingkan memesan makanan via ojol, karena:

Pertama, nggak usah pusing order dulu kalau sudah mendekati waktu makan.

Kedua, rasa makanan bisa disesuaikan karena penyedia jasa sudah tahu bahwa kondisi kita sakit.

Bagaimana Memperoleh Persediaan Obat-Obatan dan Layanan Kesehatan?

Seperti yang saya sebutkan di awal, gejala yang saya rasakan masih tergolong ringan. Meski tentunya, jangan sampai saya mengalaminya lagi. Sungguh nggak enak rasanya. Oleh karena itu, obat-obatan yang saya konsumsi pun ringan-ringan aja. Semuanya bisa diperoleh tanpa resep dokter. Saya pernah ceritakan obat-obatan yang saya konsumsi saat itu

Silakan dibaca, tapi jangan plek-plek diikuti ya karena gejala yang dirasakan setiap pasien covid-19 pastinya berbeda-beda. Kalau dirasanya gejalanya lebih berat dari saya, sebaiknya konsultasi ke dokter dulu, ya.

Persediaan madu, air kelapa, jeruk lemon, semuanya Alhamdulillah hasil uluran tangan teman-teman. Jadi kamar tuh penuh banget. Lebih penuh lagi sama kiriman makanan, sih.

Source: Pexels

Sayanya masih terkontrol nih, tapi beda dengan orangtua saya. Waktu saya, ibu, dan kakak, ikutan tes PCR di Puskesmas, Bapak saya belum ikutan karena beliau nggak ada gejala apa-apa. Jadi gitu ya, kalau ikutan tes PCR di Puskesmas, selain yang sudah positif atau ada kontak erat dengan pasien positif, anggota keluarga yang harus ikut tes PCR adalah yang memang sudah bergejala. 

Tapi, hari-hari berikutnya kondisi bapak saya sepertinya menurun. Berhubung beliau punya komorbid, bahkan lebih dari satu (ada aritmia, hipertensi, dan diabetes tapi sudah terkontrol), maka saya putuskan buat menghubungi Klinik Pratama Pakuan. Ini adalah Faskes I BPJS yang digunakan keluarga saya. 

Saat itu saya sampaikan kondisi keluarga kami, terutama bapak, yang sepertinya membutuhkan obat-obatan. Saya diberikan kontak dokternya dan bisa berkonsultasi dengan beliau melalui WhatsApp. Bahkan beliau juga yang mencarikan tes PCR home care untuk bapak. Waktu itu layanan home care belum sebanyak sekarang. Obat-obatan yang dibutuhkan dikirimkan dengan membayar ongkos kirim via ojol. Obat-obatannya sendiri gratis karena ditanggung BPJS

Selain itu, karena sejak awal saya sudah ada laporan ke Puskesmas Bogor Timur, obat-obatan juga bisa dimintakan ke mereka. Tim Surveyor-nya sendiri rutin menanyakan perkembangan kesehatan kami sekeluarga. Pokoknya terbantu banget, deh. 

 

Source: Pexels

Bapak saya itu orangnya sangat pencemas. Urusan kecil aja bisa membuat beliau panik. Apalagi kena covid-19. Haduh, paniknya luar biasa. Padahal, tetap tenang dan berpikir positif penting banget kan menghadapi si virus ini. Saturasi beliau pun terus turun, bahkan pernah sampai ke angka 82. 

Akhirnya diputuskan agar beliau menjalani rawat inap aja di RS. Proses memperoleh ambulans nggak bisa cepat. Tapi saat itu menurut saya sih tergolong cepat. Banyak pihak yang mengurus. Ya dari Puskesmas, maupun pengurus lingkungan. Sedih sih, melihat beliau dibawa masuk ke dalam ambulans lengkap dengan tenaga kesehatan yang semuanya mengenakan APD. 

Tapi Alhamdulillah, menjalani rawat inap di RS tersebut merupakan pilihan tepat karena kondisi bapak betul-betul terpantau. Keluar RS 10 hari kemudian dengan kondisi yang sudah lebih bugar. Biaya rawat inap sepenuhnya ditanggung BPJS Kesehatan, termasuk tes PCR sehari sebelum meninggalkan RS.

 

Pentingnya Membuat Pelaporan dan Menjadi Peserta BPJS Kesehatan

Sebelumnya saya sudah cerita ya siapa aja sih orang-orang yang penting untuk dihubungi saat terinfeksi covid-19. Ini kabar baiknya kalau kamu dan keluarga terinfeksi, dan kamu segera menghubungi pengurus lingkungan atau layanan kesehatan.

Termasuk keuntungan memiliki BPJS juga, tentunya. Bantuan kesehatan bisa diperoleh lebih cepat, kan? Sudah pernah, lihat tagihan RS karena perawatan covid-19? Teman saya ada yang pernah menggunakan asuransi kesehatan swasta dan angkanya fantastis banget.

Buat kamu yang keluarga, teman, sahabat, tetangga, atau bahkan kamu sendiri yang ada kontak erat dengan pasien positif atau malah kamunya sudah bergejala, semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pertimbangan, ya. Mungkin ada yang bingung kalau isolasi mandiri nanti harus bagaimana.

Ingat ya, isolasi mandiri ini hanya berlaku kalau kamu mengalami gejala ringan saja. Kalau sudah ke sedang, berat, apalagi kritis, segera hubungi pusat pelayanan kesehatan untuk mendapatkan bantuan, ya.

Saat ini, kita semua tahu bahwa RS sudah kewalahan menangani pasien covid-19. Jika ditakdirkan terinfeksi, semoga kondisi kamu cukup bergejala ringan aja ya agar bisa isolasi mandiri. Untuk yang tengah berjuang dengan gejala sedang, berat, apalagi kritis, semoga Allah mudahkan memperoleh penanganan terbaik secepatnya. Semangat juga ya, untuk teman-teman tenaga kesehatan. 

Semoga informasinya bermanfaat ya, teman-teman. 

Salam sayang,

Melina Sekarsari

NOTE: Tidak ada kegiatan endorsement dari BPJS Kesehatan. Semuanya berdasarkan pengalaman pribadi

0 Shares:
20 comments
  1. lho saya pernah mendengar dari saudara sepupu yang bekerja di RS swasta, bahwa pasien Covid 19 akan dibiayai pemerintah, ternyata harus via BPJS ya?

    kemarin kakak saya test PCR dan positif tapi isoman dan pakai oksigen segala, padahal mah gak perlu ya?

    1. Kemarin Bapak saya ditanya kartu BPJS-nya, Ambu. Atau mungkin maksudnya dibiayai melalui BPJS, ya? Kan nggak semua pemegang BPJS membayar iuran.

      Kalau oksigen, tentu sesuai kebutuhan. Ini diperlukan bagi pasien yang mengalami sesak napas dan saturasi di bawah normal.

  2. Mba Mel, sekarang gimana keadaan Mba dan keluarga, udah sehat kah? Moga cepet membaik, ya. Udah bener banget nyiapin makanan via katering, siapin obat-obatan, dan lapor ke petugas setempat. Semoga pandemi ini segera berlalu. Kangen rasanya kaya dulu sebelum pandemi.

    1. Alhamdulillah … Kami sekeluarga sudah sehat sejak Februari lalu. Sakitnya dari akhir tahun 2020, Mbak.

      Aamiin … Sehat-sehat ya kita semua. Semua rindu kondisi normal. Sangat rindu.

  3. Satu lagi, boleh kasih saran engga soal penulisan? Untuk judulnya ada double penulisan kata “dan.” Bisa diedit nanti, ganti koma atau yang terakhir diganti serta. Maaf, ya, sekadar saran aja, sih, Mba Mel. Soal isi tulisan, story tellingnya oke. Suka deh, bacanya.

    1. Yup, seperti yang saya bilang, isoman di rumah dipantau kok sama surveyor dari puskesmas setempat. Selain itu, saya pakai jasa dokter juga. Jadi kalau ada keluhan apa-apa, laporan segera. Kitanya harus mau terbuka juga mengenai gejala yang dirasakan.

  4. Kmrn ipar saya di Garut juga isolasi mandiri dirumah krn gejala ringan, anak istrinya ngungsi di rumah ortu saya. Alhamdulillah sih akhirnya sudah negatif. Semangat utk para pejuang Covid-19

    1. Alhamdulillah masih bisa mengungsi di rumah orangtua ya, Mbak. Saya bingung ngungsi kemana karena memang tinggalnya sama orangtua, hihihi … Kadang jadi mikir, enaknya tinggal dekatan sama keluarga tuh ya kondisi begini bisa ngungsi dengan mudah.

  5. Aku pernah baca di postingan instagramnya Presiden mbak. Klau pasien posirif covid itu, gak semua harus menginap di rumah sakit.

    Selain situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan. Juga karena masih bisa diusahakn sembuh dengan isoman

    1. Iya, gejala ringan masih bisa isoman di rumah. Seperti saya, tergolong gejala ringan. Di RS pun nggak akan dibolehkan. Kapasitas terbatas, pastinya hanya yang betul-betul membutuhkan.

  6. Sekarang banyak ya mbak, layanan yg menyediakan perawatan utk org yg terkena covid ini. Saya setuju saja dan jika org tersebut mampu kenapa engga. Soalnya kalau dirumah ada banyak anggota keluarga rawan juga menulari ya mba

    1. Iya, Mbak. Kalau di rumah nggak cukup ideal untuk isolasi dan secara dana mampu, sebaiknya memang isolasi sendiri aja. Tapi kalau nggak, mau nggak ya di rumah aja karena memang lumayan mahal ya biayanya.

  7. Mbak mel untuk tes PCR nya sendiri apakah bisa terbantu dengan BPJS? Saya baca BPJS tadi untuk obat²annya saja?

    Terima kasih Mbak mel sudah berbagi pengalamannya.

    1. PCR pertama saya ikut di Puskesmas dan sewaktu daftar melampirkan KTP, KK, dan kartu BPJS. Nah, saya nggak tahu pasti apakah memang harus peserta BPJS atau bukan. Tapi hanya boleh sekali kalau ikutan PCR di Puskesmas.

      Sama-sama, Mbak. Terima kasih ya sudah mampir.

  8. Alhamdulillah sekarang sudah sehat yaa, Mba. Bagiku, punya BPJS Kesehatan itu banyak manfaatnya, salah satunya kita gak perlu mengeluarkan biaya saat berobat (fyi, saya bukan orang bpjs kesehatan, hehehe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like