Review Film “What a Wonderful Family”; Tiga Hal Berharga dalam Pernikahan

Mungkin tidak semua pasangan menikah bisa dipertemukan dengan 50 tahun usia pernikahannya. Ada yang tidak bisa mencapainya karena sudah tutup usia. Ada juga yang hanya mampu mempertahankan pernikahan di usia yang baru seumur jagung.

Menikah, menghabiskan hari demi hari bersama orang yang bisa jadi sama sekali berbeda dengan kita. Sebagian orang mempunyai rasa penerimaan yang begitu besar sehingga berbagai kebiasaan yang berbeda bahkan ajaib bisa dibenarkan.

Sebagian lagi melalui hari demi hari demi kritikan dan omelan karena kebiasaan-kebiasaan ajaib itu. Sebagian lainnya mengatakan bahwa seumur hidup itu terlalu lama untuk dihabiskan bersama pasangan yang sehari-hari dinilai ceroboh dalam meletakkan barang-barang di dalam rumah.

What A Wonderful Family

Tiga Generasi dalam Satu Atap

Ini adalah sebuah film yang dirilis pada tahun 2017. Menceritakan tentang suami istri di Beijing yang telah menghabiskan pernikahan selama puluhan tahun. Tiga generasi hidup di dalam rumah yang sama. Di dalam rumah besar mereka, tinggal lah ketiga orang anak, dua menantu, dan dua orang cucu. 

Di usia yang sudah tidak lagi muda, sang istri mulai mengisi waktunya dengan mengikuti kelas menulis novel. Dia merasakan dirinya yang kembali hidup saat bisa bersosialisasi bersama teman-temannya.

Keinginannya berkarya dapat tersalurkan lewat tulisan. Sebuah hobi baru yang sama sekali tidak memperoleh dukungan dari sang suami.

Hadiah Ulang Tahun Pernikahan ke-50

Suatu hari sepulang dari bar untuk minum-minum, sang suami mendapati sebuah vas berisi bunga. Ternyata itu hadiah ulang tahun untuk istrinya. Momen bahagia sang istri yang selalu ia lupakan. 

Sebentar lagi adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-50. Sang suami meminta istrinya memilih hadiah. 

Tanpa diduga, sang istri meminta hadiah berupa tandatangan pada surat perjanjian perceraian yang telah dia siapkan. Sang suami terkejut. Alih-alih mengajak sang istri bicara dari hati ke hati, dia malah memilih diam merenungi nasib.

Pertemuan Keluarga

Kabar tentang permintaan cerai dari sang ibu tiba di telinga putra-putrinya. Jing, putri kedua, bersama suaminya Feng, mengusulkan agar segera diadakan pertemuan keluarga. 

Yuan, sang putra sulung, merasa pertemuan keluarga ini telah merusak rencananya untuk menghabiskan akhir pekan bersama anak-anaknya. Sosok lelaki ‘bossy’ yang merasa sudah begitu sibuk dan menjadi sosok penting sehingga merasa pernikahan orangtuanya yang di ambang perceraian, bukan lah urusannya. Dia akhirnya setuju karena bujukan dari sang istri, Wanli. Seorang menantu yang super perhatian terhadap siapapun di keluarga itu.

Pertemuan keluarga akhirnya diadakan tanpa mengundang putra bungsu. Tapi tiba-tiba dia datang dengan membawa pacarnya untuk diperkenalkan. Cong datang pada waktu yang tidak tepat. Bagaimana mungkin dia bisa memutuskan akan menikah dengan jika kedua orangtua malah tengah bersiap bercerai?

Alasan di Balik Perceraian

Pertemuan keluarga itu tidak bisa dikatakan berjalan mulus. Malah terjadi perdebatan antara Yuan, Wanli, Jing, dan Feng. 

Sang istri tetap pada pendiriannya untuk bercerai meski sudah melihat perdebatan dan permohonan dari anak-anak dan menantunya agar kedua orangtua mereka tidak bercerai.

Sang suami tetap pada pendirian bahwa dia tidak bersalah. Permintaan perceraian datang dari sang istri, bukan dirinya. Sebagai suami, dia sudah melaksanakan kewajiban dengan bekerja keras sejak muda hingga mampu membeli rumah besar yang kini mereka tempati.

 

Waktu, Maaf, dan Terima Kasih

Sang istri akhirnya membuka suara. 

Dikatakannya, bahwa suaminya mempunyai kebiasaan buruk selama usia pernikahan mereka. Mulai dari buang angin sembarangan dengan suara yang kencang, tidak menutup kloset saat buang air kecil sehingga airnya muncrat kemana-mana, setiap malam pergi minum dan pulang dalam keadaan mabuk – meninggalkan aroma yang tidak sedap di tempat tidur mereka.

Juga, tentang hadiah berupa tanaman anggrek di dalam pot yang diletakkan di dalam kamar mereka. Katanya, anggrek itu cantik dan indah, diibaratkan sebagai dirinya. Tapi nyatanya, sang suami sering merokok di dalam kamar dan memercikkan abunya pada kelopak anggrek itu. Sang istri merasa menjadi seperti asbak atau tempat sampah. 

Pentingnya Keterbukaan

Sang suami selama ini tidak pernah peka terhadap kebiasaan buruk yang ternyata begitu berat diterima oleh sang istri. Sang istri pun selama ini tidak pernah mengungkapkan bahwa semua kebiasaan itu tidak disukainya.

Sang suami akhirnya meminta maaf. Dia mengira semua hal yang menurutnya biasa saja, ternyata terasa menyakitkan bagi sang istri.

Seumur Hidup Itu Terlalu Lama

Dari sisi alur, What a Wonderful Family bisa dibilang cukup membosankan karena alurnya berjalan lambat. Bagi saya penggemar film yang seru, rasanya ingin menekan tombol stop sebelum film berakhir. 

Tapi saya tahu, bahwa film bukan hanya sebagai media hiburan tapi pembelajaran. Saya selalu meyakini, ada pesan yang bisa kita dapat dari sebuah tontonan.

Benar saja, pada akhirnya saya nggak menyesal menonton What a Wonderful Family sampai selesai.

Dari sini, kita belajar betapa pernikahan memang tentang dua orang, bukan hanya tentang istri atau suami. Keduanya saling mempunyai kontribusi dalam menciptakan kehidupan yang bahagia. 

WAKTU

Masa-masa pensiun seharusnya bisa menjadi masa sepasang suami istri menghabiskan hari bersama. Anak-anak sudah tumbuh dewasa. Tapi bagi sang suami, masa pensiun adalah masa tanpa harapan. Hidup hanya untuk minum-minum sepuasnya. Tidak ada lagi cinta karena baginya cinta adalah untuk orang muda. 

Api cinta mungkin nggak selamanya berkobar, tapi harus selalu ada usaha membuatnya tetap menyala.

MAAF

Dengan berbagai kebiasaan buruk, sang suami tidak pernah meminta maaf kepada istrinya. Terang saja dia tidak meminta maaf karena baginya semua itu hanya omong kosong. Semua laki-laki menurutnya juga melakukan hal yang sama.

Maaf, satu kata saja, empat huruf, tapi butuh kedewasaan dan penerimaan untuk menyampaikan.

TERIMA KASIH

Sang istri tidak pernah mendengar kata terima kasih dari bibir suaminya. Padahal dia telah melakukan begitu banyak hal untuk suami dan anak-anaknya. Tidak pernah hadirnya ucapan terima kasih membuat sang istri menjadi begitu tidak berharga.

Bagi sebagian orang, seumur hidup mungkin menjadi terlalu lama untuk menghabiskan usia pernikahan bersama pasangan yang tidak menghargai waktu, tidak pernah mengucapkan kata maaf dan terima kasih.

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

0 Shares:
25 comments
  1. Yaaa sedih banget, kok minta hadiah pernikahannya gitu amat ya? Surat cerai. Apalagi alasannya sebatas itu saja. Yakin nih alasannya cuma itu doang?

    Mungkin faktor budaya juga kali ya mba. Budaya kita di sini dan di sana beda. Walau masih sama-sama Asia.

    Kasus seperti What a Wonderful Family ini mungkin ada juga ya di Indonesia. Mark Sungkar dan Fanny Beauty misalnya. Mereka kan nikahnya udah lama banget dan dari luar pernikahannya selama ini tampak baik-baik saja. Cuma begitulah, dalamnya hati siapa yang tahu.

    1. Sewaktu menonton film ini, pasangan ini digambarkan nggak menjunjung tinggi asas keterbukaan. Jadinya ya, nggak ngerti suara hati masing-masing.

      Tapi kondisi seperti ini kurasa juga banyak terjadi di Indonesia, sih.

  2. Hmmm banyak juga kejadian seperti ini

    Artis senior jamal mirdad lidya kandow kan berpisah juga ketika mereka udah punya cucu ye kan.

    Memang ga pernah tau lah isi hati seseorang tuh kayak gmn

  3. Penasaran ending film nya jadi bagaimana, apakah mereka tetap bercerai, atau ada kejutan lain?
    Memang ya hal sepele itu bisa menjadi luka dalam bila dibiarkan tanpa dua kata ajaib dan sakti: maaf dan terimakasih

  4. Komunikasi 2 arah. Kata kata : maaf, tolong dan Terimakasih nampak sepele tapi justru itulah kuncinya
    Problem apapun, kenangan dll bisa teratasi jika komunikasi lancar, saling berkorban, saling menghargai dan saling percaya

  5. Semoga kita bisa menjalani sampai usia 50 tahun pernikahan ya mbak.

    Hmmm kayaknya masalah sepele ya mbak, tapi kalau dipendam sekian puluh tahun, akhirnya sampai pada titik ledakan juga. Itulah pentingnya mengungkapkan apa yang dirasakan, apa yang disukai atau tidak disukai dari tingkah laku pasangan.

    Kalau di negara kita, biasanya perceraian karena masalah ekonomi atau selingkuh. Beda kelas ya hehehe…

  6. Aku bacanya kok agak nyess gitu di hati, Mba Mel. Huhuhu … kadonya ternyata perceraian. Memang bicara itu mudah tapi kenyataanya memang ada hal yang sebenarnya sepele tapi kalau tidak diungkapkan jadi uneg-uneg buat pasangan. Bagian penutupnya juga saya setuju banget kalau waktu, ucapan maaf, terima kasih itu penting dalam pernikahan. Berasa diingatkan kembali. Trims remindernya Mba Mel. Tulisannya apik

  7. wah emang klo ada masalah dalam rumah tangga harus dibicarakan ya mbak
    klo g dipendam, akhirnya meledak
    seperti cerita What A Wonderfull Family ini

  8. Tidak mudah untuk memendam hal-hal yang tidak disukai selama bertahun-tahun meski hal sepele tapi sering terjadi. Filmnya penuh hikmah buat orang-orang yang sering bersama. Entah itu pernikahan, pertemanan atau persaudaraan.

    Kata maaf, terima kasih, dan tambahan kata tolong suka diacuhkan karena saking dekatnya.

  9. Kuncinya komunikasi yang kurang baik sepertinya pesan yang ingin disampaikan dalam What a Wonderful Family ini. Tapi apapun bisa saja terjadi meski puluhan tahun sudah menikah. Kakakku di 25 tahun pernikahan gugat cerai suami, kakak iparku di 30 tahun pernikahan. AKu ga tahu pasti sebabnya, tapi mereka beranggapan itu keputusan terbaik. Kadang pernikahan memang tak bisa diduga ending-nya

  10. love banget itu sama punch linenya di akhir tulisan, setuju banget, ketika pasangan hanya memberikan dampak negatif buat diri kita, pernikahan akan terasa kaya neraka, apalagi klo ada anak, kasian anaknya juga, nice nih jadi pengen ntn ah nih filmnya

  11. Aku penasaran sih sama drakor ini.. dramanya related kehidupan berkeluarga pada umumnya. Kadang bener juga seumur hidup itu terlalu lama.. meskipun gitu kita gak sepenuhnya tau isi hati orang terdekat kita selama ini

  12. Film ini jadi reminder buat kita juga ya mbak biar bisa lebih menghargai pasangan. Memang iya sih kalimat sepele seperti maaf dan terima kasih itu keliatan biasa aja tapi kalau diucapkan bisa bikin si pendengar bahagia

  13. Alasan cerainya sangat sederhana ya, untuk kurun waktu hampir 50 tahun. Rasanya sulit dipercaya kalau bisa melalui 49+ usia pernikahan mengapa memilih momentum ultah ke-50.
    Meski demikian, saat menonton film/drama, pesan memang menjadi salah satu yang paling penting untuk membuat saya tahan menonton sampai akhir.
    Agaknya perlu ajak suami untuk menonton ini sebagai contoh.

  14. Sekecil apapun kebiasaan yang tidak menyenangkan pada waktunya bisa BOOM, meledak. Dalam dunia nyata saya sudah pernah menemui hal semacam ini. Pada usia pernikahan ke 40 dan permintaan serupa datang dari istri. Alhamdulillah masih bisa dicegah. Namun tetepa saja rumah tangga tidak lagi harmonis.

  15. Wah saya sayang dong jarang banget, malah nggak pernah bilang terimakasih ke suami. Entah kenapa rasanya rada aneh gitu kalau say thank and sorry ke suami. Apa ini efek didikan keluargaku dulu ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like
Read More

Review Film “Mimi”

Setiap orang mempunyai mimpinya sendirinya, termasuk juga makhluk yang berjenis perempuan. Ada yang ingin mengejar karir setinggi-tingginya, ada…