Review Film “Lost, Found”; Dua Perempuan dan Takdir yang Berbeda

Sewaktu membaca judul “Lost, Found”, yang terbayang di kepala saya adalah film “The Terminal”. Ini film lama banget. Ingat waktu Tom Hanks terjebak di bandara JF Kennedy karena dia tidak bisa masuk ke negara tujuan maupun kembali ke negara asal akibat revolusi yang tengah terjadi di kedua negara itu.

Bagimana dengan “Lost, Found” yang satu ini?

“Lost, Found” menceritakan perjuangan dua orang perempuan sekaligus ibu. Dua perempuan dengan latar belakang berbeda, tapi mempunyai tujuan sama, menyelamatkan buah hati mereka.

"LOST, FOUND"

Perempuan dan Anak

Pasca perceraian, banyak perempuan yang tidak mendapatkan hak pengasuhan atas buah hatinya padahal sudah jelas bahwa anak di bawah umur hak asuh seharusnya jatuh kepada ibu. Tentunya jika perempuan itu memang tidak termasuk ke dalam kategori tidak diperkenankan pengadilan untuk memperoleh hak asuh. Tapi hukum di negara lain bisa jadi berbeda karena film ini dirilis dan mengambil latar tempat di Cina. 

Itu pula yang terjadi pada Li Jie, seorang pengacara yang tengah menjalani proses peradilan hak asuh anak pasca perceraian dengan mantan suaminya. Kisruh terjadi karena sang mantan suami merasa Li Jie tidak layak mendapatkan pengasuhan.

Selama pernikahan mereka, ibunya lah yang punya peran dalam pengasuhan putri mereka, Duoduo, bukan Li Jie. Ibunya pun pasti akan merasa sedih jika hidup terpisah dari cucunya. Li Jie kecewa, bahkan saat pernikahan mereka usai pun, sang mantan suami tetap hanya memprioritaskan keinginan sang ibu.

================================================

Tanpa melalui perceraian, Sun Fang memilih pergi bersama buah hatinya karena sang suami memilih menyerah. Dia tidak mau berjuang menyelamatkan nyawa sang putri, Zhuzhu yang mengidap atresia bilier bawaan dan membutuhkan transplantasi lever. Diperkirakan, usianya hanya akan bertahan hingga dua tahun saja. 

Dia bertekad akan mencarikan pengobatan untuk Zhuzhu sampai sembuh. Entah dengan cara apa. 

 

Antara Lie Jie dan Sung Fang

Li Jie digambarkan sebagai sosok yang cerdas, berkepribadian kuat, dan berani. Dia berani mempertahankan hak pengasuhan atas anaknya meskipun tahu dia harus meyakinkan pengadilan bahwa meskipun dia bekerja, putrinya tetap terjamin pengasuhannya.

Sebagai pengacara, karirnya pun cemerlang. Li Jie berpandangan bahwa seorang ibu layak memperoleh hak asuh saat dirinya mandiri secara finansial. Untuk apa berjuang mati-matian memperoleh hak asuh jika pekerjaan tetap saja tidak punya? 

Hal inilah yang membuatnya memenangkan kasus gugatan hak asuh anak atas kliennya, mengalahkan lawan dari sang penggugat, seorang ibu yang diceraikan suaminya dan sejak empat tahun lalu tidak punya pekerjaan tetap. 

================================================

Sun Fang, digambarkan berasal dari desa. Dia merantau ke kota bersama seorang temannya tanpa memiliki bekal uang maupun ketrampilan. Sang teman menemukan jodoh yang tepat. Tapi Sun Fang tidak.

Pergi dari sang suami, Sun Fang bertemu seorang laki-laki saat dia pulang dari klub malam. Dia mendapatkan banyak uang setelah menang taruhan, meminum 12 gelas minuman keras. Mereka saling jatuh cinta.

Laki-laki ini bukan orang baik-baik. Mereka bertemu saat Sun Fang menemukannya terkapar dengan separuh tubuh masuk ke dalam selokan. Wajahnya penuh darah akibat pukulan. Dia ditagih oleh rentenir karena utang-utangnya. 

Source: Chinesemov.com

Ujian Terbesar dalam Hidup

Tidak ada yang lebih berharga bagi Li Jie dibandingkan Duoduo. Saat pulang bekerja dan tidak menemukan Duoduo maupun pengasuhnya di dalam apartemen, Li Jie panik. Apalagi pengasuh Duoduo sama sekali tidak mengangkat telepon darinya. 

Firasatnya mengatakan bahwa pengasuh itu membawa pergi putrinya. Apalagi hasil rekaman CCTV dari pengelola apartemen menunjukkan hari itu sang pengasuh menggendong Duoduo keluar dari apartemen, tapi tidak ada rekaman kembalinya.

================================================

Tidak ada yang lebih berharga bagi Sun Fang dibandingkan Zhuzhu. Dia nekat memasukkan Zhuzhu ke rumah sakit besar di pusat kota demi mendapatkan perawatan terbaik. Hatinya cemas saat petugas di rumah sakit mengingatkan tagihan biaya perawatan Zhuzhu yang belum kunjung dibayar. Dia diberi waktu sampai dengan Senin depan.

Dua hari berlalu sejak Senin, Sun Fang belum juga membayar biaya perawatan Zhuzhu. Hari itu dia hanya bisa berteriak histeris saat perawat memindahkan Zhuzhu dari tempat tidur di kamar rawat inapnya. Tempat tidur itu dalam sekejap, berganti dengan penghuni baru, seorang anak perempuan seusia putrinya. Seorang perempuan berdiri di sisi tempat tidurnya, tersenyum menghibur sang putri.

Sun Fang hanya bisa terduduk di lantai. Menangis, meratapi nasib Zhuzhu ke depannya.

Kesedihan dan Putus Asa

Li Jie akhirnya datang ke kantor polisi untuk melaporkan anaknya yang hilang bersama pengasuhnya. Saat tengah memberikan laporan, seorang laki-laki menghubunginya dan meminta sejumlah uang jika ingin Duoduo kembali. Tidak ingin Duoduo disakiti, Li Jie mengatakan kepada petugas kepolisian bahwa putrinya dan pengasuhnya sudah kembali pulang.

Li Jie mentransfer sejumlah uang dan mendapatkan informasi bahwa dia harus mencari putrinya di antara tumpukan sampah di sisi terowongan. Dia datang kesana, mengobrak-abrik sampah yang ada, tapi tidak menemukan Duoduo. Dia datang kembali ke kantor polisi dan meminta bantuan lagi. 

================================================

Sun Fang tidak punya strategi lain dalam hidupnya. Tidak ada yang bisa meminjamkan uang untuk pengobatan Zhuzhu. Kehidupan terasa begitu berat untuknya.

Penghasilannya dari bekerja di sebuah rumah pun tidak cukup untuk membayar biaya pengobatan. Hari itu, dia ingin meminta bantuan kepada majikannya tapi agaknya waktunya tidak tepat. Sang majikan seolah mengabaikan keinginannya untuk berbicara karena tengah sibuk dengan urusan lain.

Malam harinya, Zhuzhu demam tinggi. Sun Fang membawa Zhuzhu keluar untuk pergi ke rumah sakit. Tapi hujan turun dengan deras. Tidak ada taksi yang bisa menjemput.

Pembalasan Dendam

Firasat seorang ibu terhadap anaknya tidak pernah salah. Li Jie terus menggali informasi tentang pengasuh Duoduo. Setiap menemukan kunci orang yang mengenal si pengasuh, Li Jie segera datang menemui orang itu. Dari teman lama Sun Fang semasa di desa, Li Jie mendapatkan informasi bahwa pengasuh Duoduo pernah menjahit selembar selimut berwarna merah dengan kepala boneka untuk anaknya yang saat itu masih dalam kandungan. 

Penyelidikan kepolisian mengarah pada satu dugaan. Sang pengasuh diketahui memiliki seorang anak perempuan yang tengah sakit dan membutuhkan transplantasi lever. Penyelidikan diarahkan ke apartemen Li Jie. Bukti, itu yang mereka butuhkan.

Sampai kemudian Li Jie menemukan kain berwarna merah tersembul dari dalam freezer. Saat dibuka, seorang anak terbungkus selimut berwarna merah dengan kepala boneka.

================================================

Di suatu tempat yang berbeda, Sun Fang tengah di ambang kekalutan. Di satu sisi dia menyayangi majikan dan anak yang diasuhnya. Di sisi lain, dia merasa sakit hati pada perempuan yang telah mengambil tempat tidur putrinya di RS. Dia adalah Li Jie. 

 

Source: Kompas.com

Dua Jalan Kehidupan yang Berbeda

Menonton film ini, sebagai perempuan dan ibu hati ini rasanya teriris-iris. Di suatu waktu saya merasa harus berada di pihak Li Jie, tapi sebentar kemudian saya merasa harus membela Sun Fang. 

Aktris Yao Chen memerankan tokoh Li Jie dengan sangat baik. Beberapa kali menonton film yang berasal dari negeri tirai bambu, rasa-rasanya Yao Chen memang sangat pas memerankan adegan-adegan dramatis. 

“Lost, Found” bukan film baru. Film ini dirilis pada tahun 2018 lalu. Bagi penggemar sinema dari Korea, mungkin saat membaca cerita di atas, langsung teringat pada “Missing”, film Korea yang dirilis dua tahun sebelumnya. Saya belum pernah menonton versi Koreanya. Bagi yang sudah, menurut kamu, mana nih yang terasa lebih dramatis bagi penontonnya?

Saya menonton “Lost, Found” ini di VIU. Jangan lupa inhale-exhale karena menonton ini membuat sesak napas karena emosi yang naik turun.

Cara Pandang Peradilan Tentang Hak Pengasuhan

Film ini teramat menarik buat saya. Tema perempuan dan keluarga memang selalu semenarik itu di mata saya. Terkadang otak saya langsung terhubung dengan segala sesuatu yang saya alami sendiri sebagai perempuan sekaligus ibu.

Saya setuju bahwa selayaknya perempuan mandiri secara finansial. Terlebih saat harus bercerai. Selama masa pernikahan saja tidak semua memperoleh nafkah layak dari suaminya, apalagi dalam kondisi bercerai. Banyak ayah yang mengabaikan nafkah untuk anak pasca perceraian. Bukan hal yang layak dijadikan panutan, tapi hukum di Indonesia memang masih lemah dalam hal ini. Tidak ada kekuatan hukum agar para ayah yang abai ini bisa “dipaksa” melaksanakan kewajibannya.

Tapi nyatanya, berada di posisi mandiri finansial pun tidak serta merta membuat seorang ibu memperoleh posisi aman. Anak dalam asuhannya nyatanya dalam bahaya. Seperti yang dialami oleh Li Jie.

Terlepas dari teori ini, saya kemudian mengingat kembali bahwa sehari sebelum hilangnya Duoduo, Li Jie membiarkan hak pengasuhan tercerabut dari seorang ibu. Demi karir cemerlang sebagai pengacara, Li Jie lebih memilih membela kliennya – mantan suami ibu itu. Tidak peduli saat ibu yang menjadi lawan kliennya menangis dan memohon pada Li Jie.

Mungkin, ini juga soal karma. Manusia menuai apa yang ditaburnya.

Bagaimana menurut teman-teman?

 

Salam,

Melina Sekarsari

 

0 Shares:
1 comment
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You May Also Like
Read More

Review Film “Mimi”

Setiap orang mempunyai mimpinya sendirinya, termasuk juga makhluk yang berjenis perempuan. Ada yang ingin mengejar karir setinggi-tingginya, ada…